Iron ore mine Pierre-Henry DESHAYES:AFP:Getty images

Menghijaunya Para Penambang

LONDON –Pemerintahan Donald Trump di Amerika Serikat telah menjadikan tambang – khususnya industri batubara – sebagai isu panas selama setahun terakhir. Pada bulan Juni, dalam rapat kabinet Gedung Putih pertamnya, Trump menyatakan bahwa kebijakan energinya memberikan para penambang pekerjaannya kembali dan mentransformasi sektor ekonomi yang bermasalah tersebut.

The Year Ahead 2018

The world’s leading thinkers and policymakers examine what’s come apart in the past year, and anticipate what will define the year ahead.

Order now

Namun Trump telah salah dengan berfikir bahwa mengangkat kepentingan para penambang dan mengangkat harkat profesi sulit itu akan cukup untuk membuat pertambangan menjadi berkelanjutan. Untuk mencapai hal tersebut, berbagai hal yang saling bergantung dalam hubungan yang sulit harus diatasi.

Perdebatan mengenai pertambangan dan lingkungan sering terlalu menitikberatkan pada pilihan antara pengambilan sumber daya alam dan penggunaan sumber daya baru dalam proses pengambilan tersebut. Buku Routledge Handbook of the Resource Nexus, dimana Saya turut menjadi co-editor, mendefinisikan istilah tersebut sebagai hubungan antara dua atau lebih dari dua material yang muncul secara alami yang dipergunakan sebagai bahan dalam sebuah sistem yang memberikan layanan kepada manusia. Dalam kasus batubara, “nexus” tersebut adalah antara bebatuan dan sejumlah besar air dan energi yang diperlukan untuk menambang hal tersebut.     

Bagi pengambil keputusan, memahami hubungan ini sangatlah penting untuk mengelola penggunaan lahan dan sumber daya secara efektif. Menurut riset dari tahun 2014, ada sebuah hubungan terbalik antara kadar bijih dan jumlah air dan energi yang diperlukan untuk mengambilnya. Dengan kata lain, kesalahan memahami bagaimana bahan masukan dan bahan keluaran berinteraksi di dalam suatu proses akan memiliki akibat yang besar bagi lingkungan.

Terlebih lagi, banyak teknologi sumber daya terbarukan dibuat dengan menggunakan bahan yang berasal dari bahan baku logam dan mineral hasil pertambangan, dan industri pertambangan global akan memegang peran yang sangat penting dalam transisi ke masa depan yang rendah karbon. Sel Surya memang mengambil energi dari matahari, namun sel surya terbuat dari kadmium, selenium, dan telurium. Sama halnya dengan turbin angin yang dibuat dari banyak sekali kobalt, tembaga, dan oksida-oksida yang langka.

Mempelajari hubungan-hubungan dalam sumber daya industri pertambangan akan memerlukan bentuk tata kelola yang baru yang dapat menjaga keseimbangan cara-cara ekstraksi dengan kebutuhan energi yang meningkat—seperti yang dijelaskan oleh Tujuan Pertumbuhan Berkelanjutan (SDGs) PBB. Penciptaan nilai, pemaksimalan keuntungan, dan daya saing harus juga diukur dan dibandingkan dengan manfaat bagi khalayak umum.

Ada kelompok-kelompok dalam industri pertambangan global yang telah mengetahui bahwa keadaan mulai berubah. Menurut suatu survey baru-baru ini mengenai cara-cara kerja industri ini yang dilakukan oleh CDP, suatu lembaga konsultasi energi dan lingkungan nirlaba, perusahaan-perusahaan pertambangan dari Australia hingga Brazil telah mulai mengekstrak sumber daya sembari mengurangi dampak lingkungannya.

Meskipun demikian, jika kepentingan masyarakat, dan bumi, perlu dilindungi, masyarakat dunia tidak boleh hanya bergantung pada keputusan-keputusan perusahaan-perusahaan pertambangan saja. Ada empat perubahan kunci yang diperlukan untuk memastikan bahwa tren penghijauan industri ini berlanjut.

Pertama, pertambangan memerlukan inovasi besar-besaran. Kadar bijih yang menurun memerlukan pelaku industri ini untuk menjadi lebih efisien dalam penggunaan energi dan sumber dayanya untuk tetap menghasilkan keuntungan. Dan, karena kelangkaan air adalah salah satu dari tantangan utama yang dihadapi industri ini, maka solusi ramah linkungan sering menjadi lebih mudah daripada cara-cara konvensional. Di Chile, sebagai contoh, tambang tembaga terpaksa mulai menggunakan air terdesalinasi untuk melakukan ekstraksi, dan Boliden di Swedia telah memenuhi hingga 42% dari kebutuhan energinya dari energi terbarukan. Perusahaan-perusahaan pertambangan di tempat lain belajar dari contoh-contoh ini.

Kedua, diversifikasi produk harus dimulai sekarang. Dengan Perjanjian Iklim Paris telah memasuki usia satu tahun, transformasi pasar bahan bakar fosil global tinggal menunggu waktu. Perusahaan-perusahaan dengan portfolio bahan bakar fosil seperti batu bara akan segera menghadapi ketidakpastian atas aset-aset yang tidak dapat digunakan lagi dan para investor mungkin akan mengubah strategi pengelolaan risikonya.

Perusahaan pertambangan besar dapat mempersiapkan diri dalam menghadapi perubahan ini dengan bergeser dari penggunaan bahan bakar fosil ke bahan lain seperti bijih besi, tembaga, bauksit, kobalt, bahan tambang langka lain, dan lithium, selain mineral pupuk, yang akan banyak dibutuhkan guna memenuhi kebutuhan SDG dalam bidang pemberantasan kelaparan. Meninggalkan batu bara secara bertahap di era ancaman produksi berlebih mungkin justru bisa menghasilkan keuntungan.

Ketiga, dunia memerlukan cara-cara yang lebih baik dalam menilai resiko ekologis dalam hal pertambangan. Walaupun dampak lingkungan dari industri ini lebih kecil daripada pertanian dan urbanisasi, mengambil bahan tambang dari dalam bumi masih dapat merugikan alam secara permanen dan menyebabkan hilangnya keanekaragaman hayati. Untuk melindungi area sensitif, koordinasi global yang lebih erat sangatlah diperlukan untuk memilih lokasi pertambangan yang berkelanjutan. Penilaian secara terintegrasi atas asset-asset dalam tanah, air tanah, dan keutuhan biosfer akan cukup bermanfaat seperti halnya pedoman konsumsi sumberdaya berkelanjutan.

Yang terakhir, sektor pertambangan harus dapat mengintegrasikan rantai nilai dengan lebih baik demi menciptakan peluang ekonomis di masa depan. Mengembangkan model-model aliran material—seperti yang terdapat dalam pengelolaan aluminium dan baja—dan menhubungkannya dengan strategi “ekonomi melingkar’ seperti pengurangan dan penggunaan kembali limbah akan menjadi awal yang baik. Sebuah perubahan yang lebih radikal dapat datang dari perhatian yang besar pada pasar material bekas. “Pertambangan Perkotaan”—pemulungan, pemrosesan, dan pengiriman bahan-bahan yang dapat digunakan ulang dari lokasi-lokasi penghancuran—juga dapat diintegrasikan dengan lebih baik ke aktivitas utama saat ini.

Industri pertambangan global sedang berada pada keadaan dimana industri ini akan mentransformasi dirinya sendiri dari ekstraksi bahan bakar fosil menjadi menyediakan bahan untuk masa depan energi yang lebih hijau. Namun “penghijauan” ini adalah hasil dari kerja keras, inovasi, dan pemahaman atas hubungan sumber daya yang rumit. Apapun yang dipercayai presiden pecinta batu bara yang dimiliki Amerika, hal ini bukanlah hasil dari omongan politiknya.

http://prosyn.org/aH5YfWV/id;

Handpicked to read next

  1. Patrick Kovarik/Getty Images

    The Summit of Climate Hopes

    Presidents, prime ministers, and policymakers gather in Paris today for the One Planet Summit. But with no senior US representative attending, is the 2015 Paris climate agreement still viable?

  2. Trump greets his supporters The Washington Post/Getty Images

    Populist Plutocracy and the Future of America

    • In the first year of his presidency, Donald Trump has consistently sold out the blue-collar, socially conservative whites who brought him to power, while pursuing policies to enrich his fellow plutocrats. 

    • Sooner or later, Trump's core supporters will wake up to this fact, so it is worth asking how far he might go to keep them on his side.
  3. Agents are bidding on at the auction of Leonardo da Vinci's 'Salvator Mundi' Eduardo Munoz Alvarez/Getty Images

    The Man Who Didn’t Save the World

    A Saudi prince has been revealed to be the buyer of Leonardo da Vinci's "Salvator Mundi," for which he spent $450.3 million. Had he given the money to the poor, as the subject of the painting instructed another rich man, he could have restored eyesight to nine million people, or enabled 13 million families to grow 50% more food.

  4.  An inside view of the 'AknRobotics' Anadolu Agency/Getty Images

    Two Myths About Automation

    While many people believe that technological progress and job destruction are accelerating dramatically, there is no evidence of either trend. In reality, total factor productivity, the best summary measure of the pace of technical change, has been stagnating since 2005 in the US and across the advanced-country world.

  5. A student shows a combo pictures of three dictators, Austrian born Hitler, Castro and Stalin with Viktor Orban Attila Kisbenedek/Getty Images

    The Hungarian Government’s Failed Campaign of Lies

    The Hungarian government has released the results of its "national consultation" on what it calls the "Soros Plan" to flood the country with Muslim migrants and refugees. But no such plan exists, only a taxpayer-funded propaganda campaign to help a corrupt administration deflect attention from its failure to fulfill Hungarians’ aspirations.

  6. Project Syndicate

    DEBATE: Should the Eurozone Impose Fiscal Union?

    French President Emmanuel Macron wants European leaders to appoint a eurozone finance minister as a way to ensure the single currency's long-term viability. But would it work, and, more fundamentally, is it necessary?

  7. The Year Ahead 2018

    The world’s leading thinkers and policymakers examine what’s come apart in the past year, and anticipate what will define the year ahead.

    Order now