4

Penyerahan REDD+ di Paris

BERLIN – 30 tahun telah berlalu sejak Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) di bawah naungan PBB meluncurkan Rencana Kerja Kehutanan Tropis (Tropical Forestry Action Plan), sebuah inisiatif antar-pemerintah pertama yang bertujuan menghentikan pengrusakan hutan. Sejak saat itu, deforestasi masih berlangsung tanpa kendali, dan usaha terkini dari dunia internasional untuk menghentikan kegiatan tersebut melalui inisiatif Pengurangan Emisi dari Deforestasi dan Degradasi Hutan (Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation/REDD+) tampaknya tidak cukup efektif. Ironisnya, hasil nyata yang muncul dari kedua perjanjian ini, justru bukan dalam bentuk usaha perlindungan hutan-hutan di dunia, melainkan laporan-laporan dari konsultan yang berbiaya mahal.

REDD+ dibentuk sebagai bagian dari Konvensi Kerangka Kerja Perubahan Iklim PBB

Erdogan

Whither Turkey?

Sinan Ülgen engages the views of Carl Bildt, Dani Rodrik, Marietje Schaake, and others on the future of one of the world’s most strategically important countries in the aftermath of July’s failed coup.

(UN Framework Convention on Climate Change/UNFCCC) – dan tahun ini perjanjian yang menyepakati implementasi program kerja tersebut akan difinalisasi pada konferensi UNFCC di Paris. Jika para pemimpin dunia serius dalam menghentikan laju deforestasi hutan, mereka sebaiknya mengesampingkan REDD+ dan menggantikannya dengan mekanisme yang dapat mengatasi penyebab utama deforestasi skala besar.

Kelemahan REDD+ terlihat dari pendekatan-pendekatan yang diambil dalam memecahkan masalah. Sebagian besar proyek yang dibuat memperlakukan masyarakat yang tinggal di hutan dan petani kecil sebagai agen utama penyebab deforestasi. Penyusun proyek REDD+ tampaknya lebih tertarik pada kegiatan-kegiatan yang berfokus untuk membatasi praktik pertanian tradisional, menyimpang dari upaya untuk mengatasi penyebab deforestasi yang sebenarnya, yakni: ekspansi industri pertanian, proyek infrastruktur besar-besaran, pembalakan hutan skala besar, dan konsumsi yang tidak terkendali.

Kelemahan proyek ini terlihat dalam Program Socio Bosque, sebuah inisiatif REDD+ di Ekuador, dimana upaya untuk mengendalikan masyarakat yang tinggal di dalam dan sekitar hutan dan pertanian skala kecil tidak memperhitungkan potensi kerusakan yang lebih besar yang disebabkan oleh aktivitas industri. Di dalam program ini, masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada hutan diwajibkan menandatangani perjanjian 5 tahun dengan Kementerian Lingkungan Hidup, menyepakati pembatasan penggunaan hutan dengan kompensasi sejumlah uang kepada masyarakat. Di saat yang bersamaan, dokumentasi program telah secara eksplisit menyebutkan bahwa perjanjian akan dibatalkan apabila kawasan yang berada di bawah jurisdiksi tersebut akan dijadikan usaha pertambangan dan eksplorasi minyak bumi. Saat ini, petani kecil tidak diperkenankan untuk masuk ke dalam hutan sebagai bagian dari upaya memerangi perubahan iklim; namun keesokan harinya, hutan yang sama dapat ditebang untuk memberi akses kepada perusahaan untuk ekstraksi bahan bakar fosil yang merupakan penyebab utama permasalahan.

Ada dasar pemikiran yang mengkhawatirkan di balik kaburnya fokus pada petani dan masyarakat hutan dan tingkat popularitas pendekatan ini dalam kepentingan lembaga internasional dan negosiator iklim. Ternyata REDD+ tidak diperuntukkan bagi pemberantasan pengrusakan hutan, tapi justru membiarkan negara-negara industri terus melakukan pencemaran.

Pendekatan yang mendasari inisiatif ini adalah bagian dari upaya lebih luas untuk menciptakan pasar bagi kredit emisi (emission credits), yang memungkinkan pencemar terus melepaskan gas rumah kaca jika mereka dapat menunjukkan sertifikat yang membuktikan bahwa mereka berkontribusi dalam pencegahan emisi dalam jumlah yang sama di tempat lain. Hutan-hutan yang dilindungi oleh REDD + adalah penghasil penting dari sertifikat untuk melakukan pencemaran yang dapat diperdagangkan, dikenal sebagai kredit karbon (carbon credits). Dan penerapan REDD+ melalui proyek-proyek percobaan memberikan landasan kuat bagi pendukung pendekatan ini untuk menggalakkan kepentingan mereka.

Bagi negara-negara industri, kredit karbon terbukti menjadi cara mudah untuk memenuhi komitmen internasional mereka di bawah perjanjian seperti Protokol Kyoto. Jika kredit REDD disetujui di Paris, negara dan perusahaan bisa membayar petani di Ekuador atau tempat lain untuk melindungi pepohonan dimana program-program seperti REDD+ mengklaim bahwa jika tidak hutan akan ditebang oleh masyarakat sendiri – dan menghindari kebutuhan untuk melakukan perubahan-perubahan struktural yang sulit untuk penurunan emisi di negara masing-masing. Berdasarkan aturan yang melandasi transaksi ini, fakta bahwa tidak ada penurunan emisi apapun tidak penting; yang penting adalah mereka sudah memperoleh izin melakukan pencemaran yang dapat diperdagangkan.

Sayangnya, hanya sedikit pertemuan-pertemuan di Paris yang memiliki insentif untuk mempertanyakan pendekatan ini. Bagi pemerintah, program-program seperti REDD + memberikan kesempatan untuk menghindari perubahan politik yang mahal. Dan bagi kelompok konservasi internasional seperti The Nature Conservancy, Conservation International, World Wildlife Fund, dan Wildlife Conservation Society, program ini menyediakan akses kepada dana pembangunan internasional dan filantropi.

Support Project Syndicate’s mission

Project Syndicate needs your help to provide readers everywhere equal access to the ideas and debates shaping their lives.

Learn more

Penerima manfaat terbesarnya tentu saja perusahaan-perusahaan dimana rasa lapar dan haus atas perolehan lahan memicu sebagian besar deforestasi skala besar. Selain memungkinkan mereka untuk terus menebang pohon selama mereka dapat menghasilkan kredit karbon yang diperlukan, REDD + secara efektif menggeser tanggung jawab atas kerugian hutan jauh bukan akibat tindakan mereka dan memindahkan beban tersebut kepada masyarakat yang memiliki kepemilikan terbesar dalam menjaga kesehatan hutan jangka panjang.

Jika para negosiator iklim bertemu di Paris tulus berkehendak untuk menghentikan pengrusakan hutan dan mengendalikan perubahan iklim, mereka harus menghapuskan REDD+ dan mengatasi penyebab masalah ini. Alih-alih mencoba membatasi kehidupan dan aktivitas masyarakat hutan dan petani kecil, upaya di Paris harus fokus pada mengakhiri deforestasi skala besar dan meninggalkan bahan bakar fosil