0

Pembiayaan Mikro untuk Ketahanan Perubahan Iklim

LONDON – Sejumlah kelompok sangat rentan akan menyaksikan kejamnya dampak perubahan iklim, mulai dari kenaikan permukaan air laut, peristiwa cuaca ekstrem, hingga kemarau berkepanjangan dan banjir parah. Menurut Bank Dunia, tanpa upaya-upaya mitigasi yang efektif, perubahan iklim akan menjerumuskan lebih dari 100 juta orang ke jurang kemiskinan pada tahun 2030.

Agar masyarakat paling rentan sanggup berdaya tahan dari akibat buruk perubahan iklim, lembaga-lembaga keuangan harus mendukung usaha-usaha kecil dan menengah (UKM). Di negara-negara emerging economies, UKM berkontribusi terhadap 45% pekerjaan dan 33% PDB – angka tersebut akan meroket ketika UKM informal juga dimasukkan. Ketika UKM mampu membangun ketahanan terhadap perubahan iklim, efek berganda (cascading effect) akan tercipta bagi komunitas di sekitarnya.

Erdogan

Whither Turkey?

Sinan Ülgen engages the views of Carl Bildt, Dani Rodrik, Marietje Schaake, and others on the future of one of the world’s most strategically important countries in the aftermath of July’s failed coup.

Sayangnya, pemilik UKM umumnya kesulitan mendapat pinjaman bank, sehingga condong mengandalkan pinjaman informal dan sumber pendanaan alternatif lain untuk menyokong bisnisnya. Menurut Bank Dunia, 50% UKM formal mengalami keterbatasan akses pada kredit formal, dan total kesenjangan kredit di kalangan UKM formal dan informal mencapai 2,6 triliun dolar AS di seluruh dunia. Meskipun derajatnya berbeda-beda, Afrika dan Asia menghadapi kesenjangan terbesar.

Pembiayaan mikro bisa menutup kesenjangan tersebut melalui pemberian pinjaman kepada UKM agar bisnisnya bisa berjalan dan berkembang. Menurut OECD, lembaga-lembaga keuangan mikro, termasuk badan pembangunan asing, bank, koperasi simpan pinjam, dan organisasi nirlaba, telah menyalurkan layanan keuangan dasar kepada lebih dari 100 juta pengusaha miskin di dunia, yang mana 90% diantaranya adalah perempuan.

Peranan pembiayaan mikro dalam meningkatkan ketahanan UKM terhadap perubahan iklim harus diperkuat. Di Afrika, Asia, dan Amerika Latin, pembiayaan mikro memungkinkan UKM untuk budidaya tanaman tahan kemarau, merancang sistem irigasi lebih baik, dan membeli asuransi iklim untuk melindungi pendapatannya apabila gagal panen yang disebabkan curah hujan tinggi – atau kekeringan.

Proyek-proyek tersebut memiliki rekam jejak yang terpercaya. Berdasarkan sebuah kajian yang dilakukan OECD, 43% dari aktivitas kredit mikro di Bangladesh pada tahun 2010 telah meningkatkan ketahanan masyarakat. Proyek-proyek tersebut mencakup program pinjaman rumah tahan cuaca buruk dan pembelian bibit toleran kekeringan dan salinitas, sehingga menambah daya tahan terhadap iklim. Di Nepal, kredit mikro membantu tanggap bencana dan kesiapsiagaan, diversifikasi tanaman pangan, dan perluasan akses pada irigasi. Kredit mikro juga membantu transisi UKM menuju business model yang rendah karbon, melalui pengucuran dana untuk penggunaan sumber energi terbarukan dan peralihan menuju produksi dan rantai pasok yang berkelanjutan.

Pembiayaan mikro bukan satu-satunya solusi yang ada dan tentu juga mendapat kritik. Untuk menghilangkan kekhawatiran tentang penyalahgunaan dana, lembaga-lembaga keuangan mikro harus memberi penghargaan kepada pemilik-pemilik UKM yang menggunakan dana yang diterima untuk membiayai ketahanan terhadap perubahan iklim dan proyek energi terbarukan. Tindakan semacam itu tidak dikelompokkan sebagai tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Bahkan, menurut Komisi Bisnis dan Pembangunan Berkelanjutan (Business and Sustainable Development Commission), yang mana saya menjadi ketua, pendekatan tersebut adalah kepentingan pribadi di masing-masing lembaga keuangan mikro.

Sektor swasta perlu menyadari bahwa krisis iklim juga sebuah peluang, apalagi bicara tentang UKM.  Bahkan, sejumlah pemain di sektor swasta sudah mengenalinya.

GSMA – sebuah asosiasi dagang yang beranggotakan ratusan operator telekomunikasi dan direktur jenderalnya, Mats Granryd, juga anggota Komisi Bisnis – dan perusahaan yang tergabung di dalamnya memfasilitasi kredit mikro di daerah-daerah pedesaan. Melalui pemakaian telepon seluler, petani bisa mendapat beragam informasi secara cepat, mulai dari harga bibit hingga pola cuaca, dan mengakses dana yang dibutuhkan dalam waktu singkat untuk menyelesaikan transaksinya. Informasi yang tersedia dari perangkat mobile memberdayakan petani dalam pengambilan keputusan, sehingga menghemat pengeluaran mereka sekaligus menambah ketahanan terhadap pola cuaca ekstrem dan kekeringan. Selain itu, penyedia layanan seluler juga mendapat profit dengan meluasnya cakupan operasi mereka di wilayah pedesaan.

Support Project Syndicate’s mission

Project Syndicate needs your help to provide readers everywhere equal access to the ideas and debates shaping their lives.

Learn more

Terdapat peluang lain yang muncul dari jaringan pinjam-meminjam langsung (peer-to-peer lending), yaitu platform digital yang bisa mempertemukan pihak yang membutuhkan pinjaman dengan pemberi pinjaman. Platform penyaluran kredit mikro secara peer-to-peer seperti lendwithcare.org, Lendico, dan RainFin terbukti sukses dan bisa membangkitkan gairah penggiat kredit mikro dan memperluas akses pada pinjaman bagi UKM di negara-negara berkembang. Instrumen-instrumen keuangan seperti derivatif cuaca/iklim (weather derivatives) – ditujukan untuk melindungi panen dan pemilik UKM serta penduduk termiskin di dunia – juga mempunyai potensi.

Apabila kita sungguh-sungguh dalam memitigasi dampak-dampak terburuk perubahan iklim, terutama bencana yang mungkin menimpa kelompok sangat rentan, sektor publik dan swasta harus mendukung upaya-upaya perluasan kredit mikro bagi UKM. Mereka yang berjuang di garda depan demi mempertahankan nyawa dan  penghidupannya tidak mampu berhasil tanpa bantuan pihak lain.