2

Islam, Iman, dan Perubahan Iklim

AMMAN – Deklarasi Islam tentang Perubahan Iklim (the Islamic Declaration on Climate Change), yang disepakati pada bulan Agustus oleh ulama-ulama Islam dari seluruh dunia, menyerukan negara-negara untuk menghapuskan emisi gas rumah kaca secara bertahap dan beralih ke energi terbarukan 100%. Dengan total populasi Muslim dunia sebanyak 1,6 miliar,

pernyataan kolektif ini mengirimkan sinyal kuat menjelang Pertemuan Puncak PBB tentang Pembangunan Berkelanjutan (UN Sustainable Development Summit) pada akhir bulan ini dan Konferensi Perubahan Iklim PBB (UN Climate Change Conference) di Paris pada bulan Desember.

Chicago Pollution

Climate Change in the Trumpocene Age

Bo Lidegaard argues that the US president-elect’s ability to derail global progress toward a green economy is more limited than many believe.

Ditetapkan selama simposium dua hari tentang Islam dan perubahan iklim di Istanbul, Deklarasi ini menjelaskan mengapa penganut agama Islam harus menjadi aktivis yang bertanggung jawab demi kesejahteraan bumi, dan menetapkan serangkaian tuntutan kepada pemimpin dunia dan komunitas bisnis.

Pertama, Deklarasi ini membuat seruan kepada pembuat kebijakan yang bertanggung jawab untuk menyusun perjanjian iklim yang komprehensif yang akan diadopsi di Paris untuk bisa menghasilkan “kesimpulan yang adil dan mengikat”. Perjanjian tersebut harus menetapkan target-target yang jelas dan cara-cara pemantauan target. Selain itu, negara-negara maju dan negara-negara penghasil minyak harus menghapuskan emisi karbon dioksida mereka secara bertahap paling lambat di pertengahan abad ini; berpaling dari “perolehan keuntungan tidak etis dari lingkungan hidup; dan berinvestasi dalam ekonomi hijau.

Kedua, Deklarasi ini menuntut orang-orang dan pemimpin dari semua negara untuk berkomitmen pada energi terbarukan 100% dan strategi nihil emisi sesegera mungkin, dan mengakui bahwa pertumbuhan ekonomi tidak terbatas bukanlah pilihan yang layak. Selain itu, adaptasi harus menjadi prioritas tinggi, terutama bagi kelompok yang paling rentan. Sektor bisnis khususnya diminta untuk mengambil peran lebih aktif untuk mengurangi jejak karbon, berkomitmen pada energi terbarukan 100% dan nihil emisi, pergeseran investasi menuju energi terbarukan, mengadopsi model bisnis yang lebih berkelanjutan, dan membantu dalam divestasi bahan bakar fosil.

Akhirnya, Deklarasi ini menjadi permohonan yang kuat kepada “seluruh penganut agama Islam dimanapun mereka berada” yang didasarkan pada kutipan ayat di Al-Qur’an. Kepedulian terhadap ciptaan Tuhan adalah bagian mendasar dari pesan Islam, naskah Deklarasi ini, dan manusia saat ini bertanggung jawab karena menyia-nyiakan karunia Allah.

Al-Quran surat 24 ayat 45 memberitahu kita betapa Allah menciptakan setiap makhluk hidup dari air, dan Hadits memerintahkan kita bahwa manusia adalah "khalifah di bumi":

“Sesungguhnya dunia itu lahan yang manis lagi  hijau dan Allah menjadikanmu khalifah di bumi. Tidaklah seorang muslim menanam pohon, tidak pula menanam tananam kemudian pohon/tanaman tersebut dimakan oleh burung, manusia, atau binatang melainkan menjadi sedekah baginya.”

Pesan ini mengulang dan menegaskan contoh yang ditemukan dalam doktrin berbagai agama, yang menyerukan kita untuk bersikap lebih baik dan bijaksana dalam pemanfaatan  planet bumi, dan melakukan advokasi untuk semua makhluk. Sebagaimana diajarkan oleh Biksu Buddha Za Choeje Rinpoche, inkarnasi 6 dari ZaChoeje Rinpoche:

“Dengan melukai bagian apapun dari sistem dunia, anda melukai diri sendiri. Pikirkan kehidupan di planet ini dalam sistem dan bukan elemen-elemen yang terpisah. Pahami bahwa lingkungan hidup tidak dimiliki oleh negara untuk dieksploitasi dan kemudian diabaikan.”

Deklarasi Islam tentang Perubahan Iklim, seperti ensiklik terbaru Paus Fransiskus Laudato Si', adalah seruan untuk kemanusiaan, terlepas dari kepercayaan yang berbeda-beda, untuk bekerja sama melindungi planet dimana kita bergantung. Saya berharap bahwa mereka benar-benar akan memberikan dorongan untuk pergeseran kebijakan,  sehingga memungkinkan penurunan emisi CO2 yang lebih besar.

Pernyataan-pernyataan iman ini sangat signifikan dan tepat, ini sejalan dengan upaya negara-negara di dunia untuk menerapkan kesepakatan global di berbagai bidang dimulai dari perubahan iklim, Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals) dan pembentukan cadangan laut di laut lepas. Memang, penting untuk diingat bahwa permukaan bumi sebagian besarnya adalah laut, yang memainkan peran penting baik sebagai penyerap karbon (carbon sink) dan pengatur iklim. Lautan setiap tahunnya menyerap sekitar 25% dari seluruh emisi CO2 yang diakibatkan manusia dan kita sekarang telah melebihi kapasitas yang ada.

Karbon yang larut dalam laut telah mengubah unsur kimia, sehingga menaikkan tingkat keasaman sebesar 30% sejak dimulainya Revolusi Industri. Kemurnian lautan kini sangat bergantung pada penurunan emisi CO2 dalam beberapa dekade mendatang, sebelum pengasaman laut secara besar-besaran terjadi dan permukaan air laut berubah secara radikal.

Sebagai bagian dari Ocean Elder, saya juga terdorong dengan penekanan Paus Fransiskus dalam Laudato Si’ tentang kebutuhan akan mekanisme yang ketat terhadap peraturan dan pengendalian di laut lepas – suatu bentuk langkah terobosan yang nyata. Laut lepas yang merupakan  bentuk kepemilikan bersama (global commons) bumi yang terakhir, yang mewakili hampir 50% dari permukaan bumi, dan beberapa ancaman yang dihadapinya sekarang membutuhkan solidaritas dan tindakan yang bersifat universal.

Baru-baru ini di bulan Juni, negara-negara anggota PBB dengan suara bulat mendukung Resolusi Majelis Umum untuk merundingkan perjanjian internasional baru untuk melindungi kehidupan laut di laut lepas. Memulihkan dan meregenerasi kekayaan dan keragaman spesies di salah satu sistem pendukung kehidupan yang penting di planet kita sangat vital untuk membangun ketahanan bumi melawan perubahan iklim.

Fake news or real views Learn More

Banyak orang telah menunjukkan bahwa kita adalah generasi pertama yang memiliki bukti konkrit akan kerusakan yang diakibatkan manusia terhadap ekosistem alam, dan mungkin generasi terakhir yang benar-benar dapat mengubahnya. Sekarang adalah waktu yang kritis untuk melakukan dialog multilateral, antar kepercayaan, dan, mungkin yang terpenting, keterlibatan secara aktif.

Kita semua manusia yang hidup di bumi dan memanfaatkannya. Kita semua telah dipercayakan untuk merawat planet ini. Kita bisa dan harus melakukannya dengan menyusun perjanjian iklim dan perlindungan laut yang lebih kuat secara bersama – terlepas dari perbedaan keyakinan, keadaan, atau status. Sains mengarahkan kita agar bertindak; iman dan rasa kemanusiaan memaksa kita untuk melakukannya.