Commuters wait in a traffic jam during afternoon rush hour in Jakarta BAY ISMOYO/AFP/Getty Images

Kebijakan Lalu Lintas Mana yang Terbaik untuk Megakota?

CAMBRIDGE – Urbanisasi mempunyai banyak manfaat. Dengan menyatukan masyarakat secara fisik, kota-kota menginspirasi inovasi dan meningkatkan peluang. Kota menjadikan para tenaga kerja berada lebih dekat dengan tempat kerja mereka dan memfasilitasi pembauran berbagai seni dan budaya masyarakat. Namun manfaat hidup di kota seringkali juga disertai dengan dampak buruk.

Mungkin permasalahan terberat – dan yang paling menyebalkan – adalah kemacetan. Lalu lintas yang padat dan kemacetan berarti terbuangnya waktu dan jam kerja memendek. Dan kendaraan yang terjebak macet akan menghasilkan asap knalpot dalam jumlah besar yang dapat merusak lingkungan dan kesehatan manusia.

Banyak negara telah mencoba mengembangkan kebijakan untuk mengurangi kemacetan lalu lintas dengan meningkatkan biaya berkendara. Sejak tahun 2003, London telah sukses melaksanakan biaya kemacetan, sementara Singapura ingin menggunakan teknologi GPS untuk mengawasi strategi biaya kemacetan di negara tersebut.

To continue reading, please log in or enter your email address.

To read this article from our archive, please log in or register now. After entering your email, you'll have access to two free articles from our archive every month. For unlimited access to Project Syndicate, subscribe now.

required

By proceeding, you agree to our Terms of Service and Privacy Policy, which describes the personal data we collect and how we use it.

Log in

http://prosyn.org/yL4OzXx/id;

Handpicked to read next

Cookies and Privacy

We use cookies to improve your experience on our website. To find out more, read our updated cookie policy and privacy policy.