13

Big Oil, Big Tobacco, Big Lies

BOSTON – Selama beberapa tahun terakhir, semakin banyak orang telah mempelajari dengan seksama peristiwa-peristiwa yang terjadi di planet kita agar bisa memperbaikinya di masa depan – kekeringan yang berlangsung lama, kenaikan permukaan air laut, banjir besar – dan pada akhirnya mengakui bahwa aktivitas manusia memicu perubahan iklim yang terlampau cepat. Tetapi ternyata, Exxon (sekarang ExxonMobil) sudah memiliki firasat ini bahkan sejak tahun 1978.

Pada awal 1980-an, para ilmuwan Exxon tidak sekedar mempunyai firasat. Saat itu mereka memahami sains di balik perubahan iklim, namun tidak hanya itu, para ilmuwan ini menyadari peran perusahaannya yang sangat besar dalam mendorong fenomena tersebut. Mengingat kemungkinan dampak yang menimbulkan malapetaka bagi sebagian besar penduduk, mereka mendesak pimpinan perusahaan Exxon untuk mengambil tindakan. Namun pimpinan justru menyembunyikan kebenaran ini.

Aleppo

A World Besieged

From Aleppo and North Korea to the European Commission and the Federal Reserve, the global order’s fracture points continue to deepen. Nina Khrushcheva, Stephen Roach, Nasser Saidi, and others assess the most important risks.

Mungkin ada hikmah di balik kisah yang membuat geram ini: investigasi terbaru yang mengungkap kebohongan Exxon mungkin justru mempercepat tindakan untuk mengatasi krisis iklim yang segera terjadi. Lagipula pencerahan yang sama di industri rokok – apa yang diketahui perusahaan-perusahaan rokok besar dan kapan mereka menyadarinya – telah mengubah lanskap kesehatan masyarakat.

Pada tahun 1996, serentetan tuntutan hukum memaksa perusahaan-perusahaan rokok untuk mempublikasikan jutaan dokumen internal yang menegaskan hal-hal yang sudah lama diduga oleh pendukung kesehatan masyarakat dan pembuat masyarakat: bahwa sejak tahun 1950an, industri mengetahui nikotin bersifat adiktif dan merokok dapat menyebabkan kanker. Akan tetapi demi melindungi kepentingannya sendiri, Big Tobacco dengan sengaja menyesatkan publik dan melakukan segala tindakan demi menciptakan keraguan pada temuan-temuan ilmiah yang mereka ketahui dengan benar. Taktik semacam ini memungkinkan industri untuk menunda, selama lebih dari 50 tahun, penetapan peraturan yang seharusnya dapat menyelamatkan jutaan nyawa setiap tahunnya.

Namun setelah pencerahan tersebut, jelas bahwa industri rokok merupakan kekuatan jahat yang tidak terlibat dalam proses pembuatan kebijakan. Karena Big Tobacco tidak lagi menjadi bagian dari proses ini dan pendukung kesehatan pun dipersenjatai dengan bukti-bukti nyata akibat konsumsi rokok, mereka akhirnya mampu memaksa pemerintah mereka untuk bertindak.

Pada tahun 2003, para pemimpin dunia menyepakati Konvensi mengenai Kerangka Kerja Pengendalian Tembakau (Framework Convention on Tobacco Control) atau (FCTC), yang dirundingkan di bawah naungan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Kini, perjanjian ini mencakup  90% penduduk dunia dan berkontribusi terhadap merosotnya penjualan perusahaan-perusahaan global secara signifikan. Seiring berjalannya waktu, perjanjian ini akan menyelamatkan ratusan juta nyawa (dan menghemat anggaran kesehatan pemerintah dalam jumlah besar).

Sekarang jelas sekali bahwa Big Oil telah mengikuti strategi Big Tobacco. Pada tahun 1997, hampir dua dekade setelah perusahaan-perusahaan minyak besar dunia mulai mempelajari perubahan iklim, mereka lalu membatalkan penelitian dan mengklaim bahwa ilmu iklim “far from clear” dengan demikian tidak “membenarkan kewajiban mengurangi penggunaan energi”.

Selain menyembunyikan temuan-temuan mereka sendiri, ExxonMobil (dan perusahaan sejenis) juga mendanai dan mempromosikan ilmu pengetahuan sampah dan menyerang ilmuwan yang memberikan peringatan bahaya bencana iklim yang akan terjadi. Pendekatan perusahaan-perusahaan bahan bakar fosil sebegitu efektifnya hingga media baru-baru ini saja mulai menyadari peran utama yang dimiliki industri ini dalam mengakibatkan yang disebut “debat iklim”.

Tetapi barangkali kesuksesan terbesar Big Oil adalah mengurangi kemauan politik untuk melaksanakan peraturan yang tepat. Bahkan setelah masyarakat internasional mengadopsi Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) pada tahun 1992, industri bahan bakar fosil berhasil memblokir kemajuan yang berharga – sampai pada titik apabila tindakan serius tidak segera dilaksanakan, seluruh proses akan gagal.

Di Eropa, lobi oleh Royal Dutch Shell sangat melemahkan upaya Uni Eropa hingga sekarang tidak ada target-target yang mengikat perihal efisiensi energi atau energi terbarukan bagi masing-masing negara. Perusahaan ini bahkan mengirimkan surat ke presiden Komisi Eropa mengklaim bahwa “gas itu bermanfaat bagi Eropa”. Shell dan perusahaan minyak lainnya sekarang berjanji akan bekerja sebagai “penasihat” pemerintah untuk menghadapi perubahan iklim.

Sama seperti berkas-berkas tembakau yang mengusir industri tembakau keluar dari proses pembuatan kebijakan, investigasi Exxon harus memaksa para pemimpin dunia untuk menghilangkan industri bahan bakar fosil dari upaya-upaya untuk mengatasi krisis iklim. Bagaimanapun juga, kebijakan apapun tidak akan berhasil jika mereka yang membuatnya yakin itu akan gagal.

Support Project Syndicate’s mission

Project Syndicate needs your help to provide readers everywhere equal access to the ideas and debates shaping their lives.

Learn more

Titik balik bagi kebijakan kesehatan masyarakat terkait tembakau muncul ketika kebobrokan industri tidak terbantahkan lagi. Kini tiba saatnya bagi gerakan iklim. Kita tidak bisa hanya berharap bahwa industri bahan bakar fosil akan mengubah perilakunya. Sesuai dengan tuntutan yang dibuat aliansi kelompok-kelompok hak asasi manusia, para aktivis lingkungan, dan pendukung akuntabilitas korporasi, kita harus menendang industri keluar dari proses pembuatan kebijakan sama sekali.

Para ilmuwan Exxon benar: dampak perubahan iklim terhadap banyak komunitas akan sangat buruk. Dengan begitu banyak nyawa yang dipertaruhkan – dan  bukti ancaman yang nyata – Big Oil, seperti Big Tobacco dulu, harus diperlakukan layaknya akibat yang diciptakan: Big Trouble.