8

Misi: Perlindungan Lingkungan Hidup

CHEVY CHASE, MARYLAND – Bayangkan anda hidup di tahun 1966. Saat ini anda berada di salah satu gedung pemerintah di Washington, DC dan menyaksikan seorang pejabat berkata pada pria berjas, “Misi anda adalah memusnahkan musuh yang menimbulkan korban lebih banyak dibandingkan dua Perang Dunia. Anggaran anda tidak besar, tim cukup kecil, dan jika anda gagal, Menteri akan menyangkal segala tindakan anda.”

Itu tampak seperti sepotong adegan dari film Hollywood. Sesungguhnya itu meniru adegan pembuka film serial televisi Mission: Impossible yang dikeluarkan pertama kali di tahun 1966. Namun kisah serupa benar terjadi, walapun tidak sama persis. Pejabat tersebut adalah Assistant Surgeon General, James Watt; pria yang diberi misi adalah ilmuwan asal Communicable Disease Center (CDC), Donald Henderson; dan musuh saat itu adalah cacar atau variola (smallpox).

Erdogan

Whither Turkey?

Sinan Ülgen engages the views of Carl Bildt, Dani Rodrik, Marietje Schaake, and others on the future of one of the world’s most strategically important countries in the aftermath of July’s failed coup.

Misi tersebut jelas tampak mustahil. Pada saat itu, cacar sudah merenggut dua juta jiwa dan menjangkit 15 juta orang, setiap tahunnya. Akan tetapi, seperti di televisi, Henderson dan tim yang dipimpinnya di World Health Organization (WHO) melawan ekspektasi. Dalam sepuluh tahun, cacar adalah penyakit menular pertama – dan sejauh ini masih satu-satunya – yang berhasil dihilangkan sepenuhnya.

Kunci sukses prestasi medis ini bukan terobosan-terobosan di bidang kesehatan yang besar (vaksin cacar sudah digunakan sejak abad ke-18). Justru kesuksesan ini dicapai melalui diplomasi, fleksibilitas, dan kerja sama.

Sejak awal, tidak begitu besar kepercayaan WHO terhadap kampanye vaksinasi. Mayoritas, termasuk direktur jenderal WHO, meyakini bahwa upaya pemusnahan penyakit cacar mengharuskan suntik vaksin terhadap 1,1 miliar di 31 negara yang terkena infeksi, termasuk di desa-desa terpencil – bayangkan betapa sulitnya perencanaan serta pengaturan logistiknya.

Itulah sebabnya delegasi-delegasi WHO berdebat selama berhari-hari sebelum menyepakati, dengan perbedaan suara yang tipis, pengucuran dana sejumlah 2,4 juta dolar AS per tahun untuk upaya tersebut – bilangan yang terlalu kecil untuk menutupi biaya vaksin yang tidak ditanggung, apalagi untuk mendanai dukungan logistik yang diperlukan. Banyak donor yang memiliki pesimisme yang sama, mereka percaya bahwa anggaran yang dimiliki lebih baik dihabiskan untuk infrastruktur pelayanan kesehatan, misalnya. Bahkan UNICEF memutuskan tidak mau berkontribusi pada kampanye tersebut.

Faktanya, keputusan yang menugaskan Henderson menjalankan tugas sial untuk memimpin kampanye berasal dari keputusan direktur jenderal WHO untuk menempatkan warga asal Amerika sebagai penanggung jawab, agar Amerika Serikat lah, bukan WHO, yang dipersalahkan jika program tersebut gagal. (Henderson mencoba menolak, namun tidak ada pilihan “jika anda berkenan” atau kalimat “should you choose to accept it” seperti yang diputar di televisi.) Meskipun demikian, Henderson berhasil memutarbalikkan kemalangannya menjadi keberuntungan, berdasarkan sebuah pemahaman utama.

Henderson mengakui bahwa Uni Soviet – negara yang bertahun-tahun memaksakan kampanye penghapusan cacar dan sudah menjanjikan donasi sebanyak 25 juta dosis vaksin setiap tahunnya – tidak akan antusias atas kepemimpinan yang diemban warga Amerika. Jadi ia mendekati wakil menteri kesehatan Uni Soviet, Dimitri Venediktov, lalu membangun ikatan yang memungkinkan kedua pihak berkolaborasi dalam hal strategi dan logistik, di luar donasi vaksin yang diserahkan (AS setuju menyediakan 50 juta dosis per tahun). Dua sekutu yang paling berseberangan pada akhirnya memimpin perlawanan bersama.

Keterampilan diplomasi Henderson dijodohkan dengan keahliannya mengenali bakat dan kepemimpinan. Ia bersikeras agar seluruh stafnya meluangkan setidaknya sepertiga waktu mereka di lapangan, berkerja dengan pejabat setempat dan mengunjungi desa-desa, supaya mereka bisa menyaksikan langsung kesulitan-kesulitan vaksinasi massal.

William Foege, salah satu staf adalah dokter misionaris Kristen Lutheran yang menjadi konsultan yang dipekerjakan CDC di Nigeria. Pada suatu hari di bulan Desember 1966, Foege menerima informasi adanya kasus cacar di desa lain dan ia segera menuju kesana untuk memberi vaksin kepada keluarga korban dan penduduk desa.

Namun Foege khawatir bahwa wabah lebih luas mungkin merambah dan ia tidak memiliki vaksin cukup banyak untuk semua penduduk. Jadi ia menerapkan taktik berbeda: ia menyuruh beberapa utusan (runner) ke semua desa dalam radius 30 mil untuk melakukan pengecekan, kemudian Foege memberi vaksin kepada penduduk yang tinggal di empat lokasi yang mana kasusnya bermunculan. Tindakannya melahirkan “ring vaccination” di sekitar penduduk yang terkena infeksi sehingga menghentikan rantai penularan.

Strategi Foege diperluas ke Nigeria bagian timur, lalu diperkenalkan ke kawasan lain di Afrika Barat, dan pada akhirnya diterapkan dalam kondisi tersulit: India, dengan populasi 500 juta orang. Membutuhkan 20 bulan dan 130.000 pekerja terlatih di bidang kesehatan, tapi kutukan cacar yang menghancurkan India sejak berabad-abad sebelumnya berhasil dihapuskan. Kemudian, terlepas dari bencana alam, penculikan terhadap staf WHO, dan perang saudara, para pekerja mampu mengulangi kesuksesannya di Bangladesh, Ethiopia, dan Somalia. Akhirnya, di tahun 1980, dunia terbebas dari cacar.

50 tahun setelah peluncuran misi gagah ini, memori dari prestasi hebat yang dihasilkannya mulai memudar. Namun pembelajaran yang dipetik dari kemampuan misi ini dalam merangsang komunitas internasional yang jengkel untuk bersatu mengatasi tantangan bersama menjadi sangat vital, terutama ketika masalah-masalah urgen seperti pengrusakan lingkungan hidup menuntut adanya solusi-solusi global.

Support Project Syndicate’s mission

Project Syndicate needs your help to provide readers everywhere equal access to the ideas and debates shaping their lives.

Learn more

Sebagaimana dikemukakan Foege, penghapusan cacar membuktikan bahwa “upaya global itu mungkin”. Kita tidak perlu “terus hidup dalam bencana, pemerintah yang buruk, konflik, dan risiko-risiko kesehatan yang tidak terkendali”. Justru, “aksi terkoordinasi yang dilakukan sekelompok orang yang berdedikasi” bisa “menghasilkan masa depan lebih baik.”

Manusia tidak bisa bertahan hidup dalam lingkungan yang mana air dan udaranya tercemar, lautnya kotor, satwa dan tumbuhan liarnya terancam punah, dan lahannya rusak. Tantangan-tantangan ekologis yang kita hadapi ini adalah persoalan kesehatan masyarakat dan isu kesejahteraan, sama seperti infeksi cacar dahulu. Misi kita, mau atau tidak, siap atau tidak, adalah menyerukan kemauan bersama untuk menghentikan penghancuran diri di dunia kita.