Emmanuel Dunand/ Getty Images

From War to Work (Transisi Pasca-Konflik)

OXFORD – Jelas sekali bahwa konflik menghasilkan banyak efek negatif yang berdampak luas, terutama pada pekerjaan. Namun pemahaman yang berlaku mengenai kaitan antara konflik dan pekerjaan tidak sepenuhnya mengakui kerumitan hubungan tersebut – sebuah kelemahan yang meremehkan kebijakan ketenagakerjaan yang efektif di negara-negara rentan.

Kebijaksanaan konvensional yang berlaku adalah konflik memusnahkan lapangan kerja. Selain itu, sebab pengangguran bisa memacu lebih banyak konflik, ketika pemuda pengangguran mendapat pengakuan dan ganjaran ekonomis dari tindak kekerasan, penciptaan lapangan kerja harus menjadi bagian pokok dalam kebijakan pasca-konflik. Tapi, meski asumsi-asumsi tersebut jelas terdengar logis, seperti saya uraikan dalam sebuah makalah yang diterbitkan tahun 2015, mereka tidak sepenuhnya akurat.

Asumsi pertama – bahwa konflik kekerasan memusnahkan lapangan kerja – mengabaikan fakta bahwa setiap konflik itu unik. Beberapa konflik, seperti perang saudara di Sri Lanka tahun 2008-2009, terpusat di daerah yang relatif kecil, sehingga sebagian besar wilayah negara – dan perekonomiannya – tidak terkena dampak.

To continue reading, please log in or enter your email address.

Registration is quick and easy and requires only your email address. If you already have an account with us, please log in. Or subscribe now for unlimited access.

required

Log in

http://prosyn.org/4QY44Ps/id;