6

Kehidupan yang Bebas dan Setara

MADRID – Dalam seperempat abad sejak publikasi pada tahun 1990 mengenai Laporan Pembangunan Manusia yang pertama (Human Development Report), kita telah menorehkan kemajuan yang luar biasa dalam pengentasan kemiskinan dan peningkatan kesehatan, pendidikan, dan kondisi kehidupan ratusan juta penduduk dunia. Meskipun demikian, sejumlah pencapaian yang membanggakan ini belum merata penyebarannya. Baik itu antar negara maupun di dalam negeri, masih terlihat tingginya ketimpangan dalam hal pembangunan manusia.

Contohnya kematian bayi. Di Islandia, dari setiap 1.000 anak yang dilahirkan, dua anak meninggal dunia sebelum menginjak usia 1 tahun. Di Mozambik, angka kematian bayi adalah 120 per 1.000 kelahiran hidup. Demikian pula di Bolivia, bayi yang lahir dari ibu yang tidak berpendidikan memiliki kemungkinan dua kali lebih besar akan meninggal di bawah usia 1 tahun dibandingkan bayi yang dilahirkan seorang ibu yang setidaknya menyelesaikan pendidikan sekunder. Seorang anak berusia lima tahun yang dilahirkan ke dalam keluarga berpendapatan rendah di Amerika Tengah, rata-rata memiliki tinggi badan yang 6 cm lebih pendek dibandingkan anak di keluarga berpendapatan tinggi.

Chicago Pollution

Climate Change in the Trumpocene Age

Bo Lidegaard argues that the US president-elect’s ability to derail global progress toward a green economy is more limited than many believe.

Perbedaan tersebut terjadi karena berbagai alasan. Diantaranya adalah “vertical inequalities” seperti ketimpangan distribusi pendapatan, serta “horizontal inequalities” seperti perbedaan yang ditemukan dalam kelompok karena faktor-faktor seperti ras, jenis kelamin, dan etnis, selain itu juga perbedaan yang terbentuk antar komunitas karena pemisahan wilayah pemukiman.

Banyak orang mengalami berbagai jenis diskriminasi di saat yang sama dan kadang pengucilan yang mereka derita adalah akibat dari interaksi. Gabungan antara kesenjangan/ketidaksetaraan yang bersifat vertikal dan horizontal ini bisa menyebabkan memperpanjang kemiskinan dan ketimpangan inter-generasi.

Kita patut bersyukur, kesadaran atas dampak buruk dari ketimpangan terhadap demokrasi, pertumbuhan ekonomi, perdamaian, keadilan, dan pembangunan manusia kini semakin meningkat. Semakin jelas juga bahwa ketimpangan mengikis kohesi sosial dan menaikkan risiko kekerasan dan ketidakstabilan. Pada akhirnya, kebijakan-kebijakan ekonomi dan sosial menjadi ibarat dua sisi mata koin, saling berkaitan walaupun tidak sama persis.

Selain alasan moral untuk menurunkan ketimpangan, disini terdapat alasan ekonomi. Jika ketimpangan terus meningkat, perlu adanya pertumbuhan yang lebih tinggi untuk memberantas kemiskinan ekstrem dibandingkan dengan kondisi apabila manfaat ekonomi tersebar dengan lebih merata.

Tingginya ketimpangan juga berkorelasi dengan kemungkinan adanya political capture oleh sekelompok elit yang ingin membela kepentingannya dengan menghambat reformasi egaliter. Permasalahannya, tidak hanya ketimpangan akan melemahkan uyaya perwujudan tujuan bersama dan ketersediaan common good, tapi juga bisa menciptakan hambatan struktural pada pembangunan, contohnya dengan pajak regresif dan penurunan investasi untuk pendidikan, kesehatan, atau infrastruktur.

Pertumbuhan saja tidak akan menjamin terciptanya akses yang sama pada barang publik dan jasa berkualitas, tetap dibutuhkan kebijakan yang terencana. Sejarah terkini di Amerika Latin, kawasan di dunia dengan ketimpangan tertinggi, memberikan contoh baik tentang hal-hal yang dimungkinkan ketika kebijakan semacam itu diterapkan. Kawasan ini berhasil memperbaiki inklusi sosial dalam dekade pertama di abad ini melalui gabungan antara dinamisme ekonomi dan komitmen politik yang konstan untuk melawan kemiskinan dan ketimpangan sebagai kedua permasalahan yang saling bergantung (interdependent).

Berkat upaya ini, Amerika Latin adalah satu-satunya kawasan di dunia yang berhasil menurunkan kemiskinan dan ketimpangan, sembari meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Lebih dari 80 juta penduduk beralih ke kelas menengah, untuk pertama kalinya melampaui jumlah penduduk miskin dan menjadi segmen populasi yang terbesar di kawasan tersebut.

Banyak yang berpendapat bahwa ini dimungkinan oleh kondisi-kondisi eksternal yang menguntungkan, termasuk tingginya harga komoditas sehingga memudahkan ekspansi ekonomi. Tetapi, bukti dari LAC Equity Lab milik Bank Dunia menegaskan bahwa pertumbuhan hanya berkontribusi sebagian terhadap perbaikan sosial (social gain) yang terjadi di Amerika Latin, selebihnya karena distribusi ulang pengeluaran sosial (social spending).

Memang benar, kebijakan-kebijakan progresif adalah inti dari ekspansi ekonomi itu; adanya generasi baru pekerja berpendidikan tinggi yang memasuki pasar tenaga kerja, mendapat gaji yang lebih besar dan mengambil dividen dari pengeluaran sosial. Kenaikan upah terbesar terjadi pada kelompok berpendapatan terendah.

Fake news or real views Learn More

Kini Amerika Latin telah memasuki periode pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat, prestasi mereka sedang diuji. Pemerintah memiliki ruang fiskal yang lebih sedikit dan sektor swasta kurang mampu menciptakan lapangan kerja. Upaya untuk menurunkan kemiskinan dan ketimpangan berisiko akan tertunda atau bahkan terhenti. Para pembuat kebijakan di kawasan ini harus bekerja keras untuk mempertahankan kemajuan dalam pembangunan manusia jangka panjang.

Pentingnya menurunkan ketimpangan telah diabadikan dalam prinsip-prinsip Revolusi Perancis, kata-kata di dalam Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat, dan target-target yang ditetapkan pada Tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB. Upaya ini merupakan landasan membentuk dunia yang tidak hanya berkeadilan, tapi juga damai, sejahtera, dan berkelanjutan. Jika Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia menyatakan “semua orang dilahirkan merdeka (bebas) dan memiliki hak yang sama”, bukankah kita semua layak senantiasa menjalani kehidupan seperti itu?