49

Hanya Eropa Bersatu yang Bisa Mengalahkan Gerakan Nasionalis Eropa

BRUSSELS – Keputusan pemilih Inggris untuk keluar dari Uni Eropa sungguh disayangkan, namun tidak mengejutkan. Selama beberapa dekade, politisi-politisi asal Inggris enggan memberikan dukungan atas keanggotaan di UE atau bahkan menjelaskan kepada rakyat Inggris mengenai cara kerja UE dan kenapa Kesatuan tersebut diperlukan.

Selama masa jabatannya, David Cameron telah gagal menunjukkan kepemimpinan atau kemauan untuk terlibat secara nyata di dalam UE. Sejak awal ia sudah setengah hati dan itu terlihat ketika ia terus-menerus memprotes para birokrat di Brussels. Sayangnya, upaya terakhir beliau untuk menyelamatkan keanggotaan Inggris di UE pada masa kampanye Brexit (British Exit) tidak cukup untuk mengembalikan efeknya terhadap opini rakyat Inggris yang sudah terpapar kebohongan selama berpuluh-puluh tahun.

Erdogan

Whither Turkey?

Sinan Ülgen engages the views of Carl Bildt, Dani Rodrik, Marietje Schaake, and others on the future of one of the world’s most strategically important countries in the aftermath of July’s failed coup.

Inggris sudah menentukan jalannya yaitu isolasi di Eropa dan menyangkal nasihat dari negara sahabat dan sekutunya. Kini, ketika kesatuan tersebut berakhir, pelajaran terpenting yang dipetik dari referendum “Brexit” yang memberikan vonis adalah kita tidak bisa menggulingkan nasionalisme dengan mengakomodasi kelompok nasionalis. Jika UE ingin melawan tekanan akibat gerakan nasionalisme yang melemahkan fundamental pendiriannya, UE harus menyimak kekhawatiran penduduknya dan menawarkan visi baru yang radikal demi tata kelola yang efektif. Jika tidak, ancaman nasionalis akan menyebar.

Sebagai pendahuluan, negara-negara UE lainnya kini harus menjunjung tinggi hukum Eropa dan mengupayakan perpisahan dengan cepat dan sepenuhnya. Rakyat Inggris memilih untuk hengkang dan para pemimpin politiknya bersikeras untuk menghormati hasil referendum, maka tidak salah untuk mendesak Inggris agar segera keluar. Jika kelambanan Inggris menyebabkan Eropa terus merugi keuangannya akibat ketidakpastian politik, perceraian secara menyeluruh hendaklah dilakukan sepihak.

Secara politik, UE tampaknya segera menjadi musuh, alih-alih mitra terpercaya UE. Sebelum terhindari hujatan, Theresa May – menteri dalam negeri, sekarang menjadi kandidat terkuat untuk menggantikan David Cameron sebagai Perdana Menteri – secara tersirat mengancam masa depan penduduk UE yang tinggal di Inggris dengan menjanjikan bahwa mereka menjadi “bagian dalam negosiasi” untuk rencana hengkangnya Inggris.

Theresa May sebenarnya menolak Brexit. Namun sikap bermusuhan anti-Eropa yang dimilikinya berbeda, tidak sama dengan rasa benci yang ditunjukkan politisi-politisi yang pro-Brexit, seperti Daniel Hannan, anggota Parlemen Eropa asal Partai Konservatif, dan Nigel Farage, pemimpin Partai Independen Inggris, yang bersukacita atas kemungkinan referendum lanjutan untuk meninggalkan UE di kalangan negara-negara Eropa.

Untungnya, penularan pasca Brexit sejauh ini gagal dimanifestasikan, terutama karena Inggris menjadi bahan olok-olokan publik sejak tanggal 23 Juni akibat prospek perekonomiannya yang melemah, sektor keuangannya – sumber kekuatan global – yang mempertimbangkan lokasi-lokasi baru, dan para pemimpinnya yang saling menusuk dari belakang.

Faktanya adalah referendum tersebut mungkin merangsang negara-negara Eropa – termasuk negara dengan partai-partai yang skeptis terhadap UE (Euroskeptic), seperti Denmark dan Swedia – untuk bersatu mendukung keanggotaan di UE. Sebuah survei pasca referendum yang dilakukan di Swedia menemukan bahwa 66% responden masih mendukung keanggotaan di UE. Di Denmark, survei serupa setelah referendum Brexit menunjukkan kenaikan dukungan sebanyak 9% untuk tetap berada di UE.

Pemimpin UE tidak bisa tinggal diam. Krisis Brexit harus diperlakukan sebagai peluang bagi UE, mengingat maraknya kekhawatiran atas globalisasi, terorisme, imigrasi, dan ketidaksetaraan. Eropa yang terpecah telah gagal mengatasi tantangan-tantangan tersebut; dan meskipun Inggris akan dirindukan, kini perpecahan di UE akan berkurang.

Akan tetapi, UE sekarang tidak mampu mengambil tindakan tegas dan berskala tegas. Guna memberi daya tarik emosional tentang nasionalisme populis, UE harus lebih responsif terhadap kebutuhan rakyatnya. Ini memerlukan reformasi struktural yang radikal terhadap Eurozone dan lembaga-lembaga politik utama di UE.

Para ekonom umumnya sepakat bahwa pemberlakuan mata uang tunggal tanpa kesatuan fiskal atau common treasury tidak akan berkelanjutan. Jika Eropa tidak merampungkan tugasnya saat pertama kali memperkenalkan euro, mereka akan terus-menerus mengalami penderitaan ekonomi akibat perpecahan struktural. Integrasi menyeluruh akan mengarah pada kesejahteraan dan tata kelola lebih baik.

Support Project Syndicate’s mission

Project Syndicate needs your help to provide readers everywhere equal access to the ideas and debates shaping their lives.

Learn more

Pengaturan keamanan Eropa mengalami kesulitan yang sama. Aneh memang betapa Eropa memiliki Badan Antariksa Eropa (European Space Agency) yang dihormati komunitas global namun tidak ada organisasi kredibel yang berfungsi untuk mengumpulkan dan bertukar intelijen di tengah perang melawan terorisme. Serangan di Paris bulan November lalu seharusnya memperjelas bahwa ancaman terorisme tidak mengenal batas negara sehingga menuntut adanya intelijen gabungan, namun negara-negara anggota UE masih mengutamakan kedaulatan masing-masing daripada keamanan bersama. Kerja sama antar pemerintah saja tidak cukup. Eropa memerlukan organisasi intelijen terpusat yang bergigi.

Melalui reformasi yang besar-besaran ini Eropa bisa mulai membendung kebangkitan populisme yang mengarah pada keberhasilan kampanye “Brexit”. Ada yang berpendapat bahwa lebih banyak kewenangan berdaulat harus dikembalikan kepada negara-negara anggota UE. Saya sangat sepakat. Hal ini hanya melemahkan proyek integrasi yang selama ini mempertahankan perdamaian dan kesejahteraan di Eropa. Populisme dan sikap anti-Euro (Eurosketicism) adalah rival proyek tersebut. Satu-satunya cara mengalahkannya ialah dengan membangun Eropa yang bekerja untuk rakyatnya. Jika tidak, ini akan menguntungkan demagog yang siap mengikuti jejak Inggris hanya untuk dikecam di kemudian hari.