17

Menuju Zaman Keemasan Islam yang Baru

SHARJAH – Kontribusi dunia Islam di masa lalu terhadap ilmu pengetahuan dan pendidikan sangat luar biasa. “Zaman keemasan” Islam – ketika keilmuan dan pengetahuan berkembang luas di seluruh dunia Islam – berlangsung berabad-abad, termasuk pendirian perguruan tinggi pertama di dunia. Akan tetapi sekarang, negara-negara dengan mayoritas penduduknya beragama Islam tertinggal jauh dibandingkan negara lain dalam hal pendidikan dan penelitian. Hal ini harus berubah jika kawasan tersebut ingin menyediakan lapangan kerja modern dan kehidupan yang lebih baik kepada penduduk yang jumlahnya terus bertambah dan mampu mengikuti perkembangan global.

Saat ini, hanya satu universitas dari dunia Islam – Middle East Technical University di Turki – yang masuk dalam daftar 100 universitas terbaik di dunia dan hanya sekitar selusin yang masuk dalam 400 besar di daftar lain. Meskipun tidak ada tes yang terstandarisasi secara internasional dalam bidang sains dan matematika di tingkat universitas, siswa kelas empat, delapan, dan sepuluh di dunia Islam memperoleh nilai di bawah rata-rata pada mata pelajaran tersebut, berdasarkan Trends in International Mathematics and Science Study dan Program for International Student Assessment. Ketimpangan dengan siswa-siswa di negara lain pun semakin besar.

Chicago Pollution

Climate Change in the Trumpocene Age

Bo Lidegaard argues that the US president-elect’s ability to derail global progress toward a green economy is more limited than many believe.

Selain itu, hasil penelitian – diukur dengan jumlah publikasi dan kutipan dalam jumlah internasional, serta paten – sangat rendah dibandingkan dengan jumlah penduduk dan kemampuan finansial. Negara-negara Muslim mengeluarkan rata-rata 0.5% PDB-nya untuk penelitian dan pengembangan, dibandingkan dengan rata-rata global yang adalah 1,78% PDB dan rata-rata OECD yakni di atas 2%. Jumlah penduduk yang bekerja di bidang sains juga jauh di bawah rata-rata global.

Delapan belas bulan yang lalu, satuan tugas non-pemerintahan dan non-partisan yang beranggotakan pakar-pakar internasional – dibentuk oleh Muslim World Science Initiative dan Malaysian Industry-Government Group for High Technology, dan dikoordinasikan oleh saya – dirancang untuk mengkaji kondisi ilmu pengetahuan yang memprihantikan di dunia Islam dan menentukan bagaimana universitas bisa memperbaiki kondisi tersebut. Pemahaman yang lebih baik atas berbagai isu dan potensi solusi dapat memungkinkan ilmu pengetahuan bangkit kembali di dunia Islam dan memberikan manfaat besar bagi perekonomian negara dan masyarakatnya.

Kajian kami atas kondisi ilmu pengetahuan di universitas-universitas di dunia Muslim mempertimbangkan tidak hanya anggaran dan penelitian, tapi juga isu-isu lain seperti status perempuan dalam studi dan karir di bidang sains. Selain itu, kami melakukan kajian menyeluruh – kajian yang tidak pernah dilakukan sebelumnya – mengenai cara pengajaran ilmu pengetahuan di universitas di dunia Islam, termasuk metode pedagogi, buku teks, bahasa pengantar, penyensoran terhadap topik-topik “kontroversial” (seperti teori evolusi), dan peran agama di kelas sains.

Dalam laporan yang baru saja diterbitkan, satuan tugas ini menyimpulkan bahwa meskipun kondisi ilmu pengetahuan secara keseluruhan di dunia Islam masih lemah, banyak upaya yang bisa dilakukan untuk memperbaikinya secara efektif dan efisien. Satuan tugas menawarkan beberapa rekomendasi spesifik bagi lembaga akademik, badan pembuat kebijakan nasional, dan pemangku kepentingan lainnya seperti akademi ilmu pengetahuan, asosiasi industri, dan organisasi masyarakat sipil.

Bagi lembaga akademik, salah satu tujuan utamanya haruslah meningkatkan kapasitas siswa untuk berpikir kreatif dan kritis (creative thinking and critical inquiry). Guna mencapai tujuan ini, satuan tugas menyarankan untuk memperluas pendidikan bagi siswa-siswa yang berfokus pada sains agar meliputi bidang humaniora, ilmu sosial, bahasa, dan komunikasi. Di saat yang sama, satuan tugas juga menyerukan penerapan metode-metode pembelajaran yang sudah teruji dan benar, khususnya pendekatan-pendekatan “inquiry-based” dan “active-learning”. Tentu saja pergeseran tersebut mengharuskan para pengajar untuk mendapat pelatihan dan menguasai metode-metode tersebut.

Para pengajar/dosen juga harus didorong untuk mendedikasikan diri untuk menulis buku dan menjalankan promosi ilmu pengetahuan, tidak hanya sekedar mempublikasikan makalah. Rekomendasi ini mungkin dianggap mengejutkan meningat rendahnya produktivitas penelitian di dunia Islam, akan tetapi kenyatannya adalah upaya tersebut akan menghasilkan manfaat lebih besar dibandingkan penekanan tunggal pada publikasi, yang secara tidak sengaja dapat memicu plagiarisme dan “ilmu sampah” (junk science).

Satuan tugas telah merekomendasikan agar badan-badan pembuat kebijakan nasional memberikan ruang lebih besar bagi universitas untuk berinovasi (terutama dalam kurikulum) dan berkembang (dalam program penelitian dan kolaborasi), dengan caranya masing-masing berdasarkan kekuatan dan kelemahan mereka. Satuan tugas juga telah meminta seluruh lembaga untuk menjunjung tinggi meritocracy dan menghindari gimmicks seperti membayar “kolaborasi” demi meningkatkan popularitas. Lonjakan ranking yang sifatnya instan tidak akan sebanding dengan risiko kerusakan reputasi dalam jangka panjang.

Langkah-langkah ini membutuhkan program perubahan yang bersifat bottom-up. Itulah sebabnya satuan tugas ini telah mengumumkan panggilan terbuka untuk semua universitas di dunia Islam untuk bergabung dalam jaringan sukarela yang disebut Network of Excellence of Universities for Science (NEXUS). Berada di bawah pengawasan satuan tugas ini, kelompok sejawat yang dipilih secara otonom – terdiri dari administrator di fakultas dan universitas yang mengakui bahwa perubahan harus dimulai dari dalam – akan menerapkan langkah-langkah yang dirancang oleh satuan tugas.

Fake news or real views Learn More

Harapannya adalah segera setelah upaya-upaya dari kelompok universitas pertama mulai membuahkan hasil, jumlah lembaga yang bergabung akan bertambah. Momentum yang dihasilkan akan menciptakan tekanan bagi kementerian, regulator, dan badan-badan pembuatan kebijakan lainnya – yang mungkin paling menentang perubahan – agar bersedia mengambil langkah-langkah yang saling melengkapi.

Universitas adalah pusat penelitian, pemikiran kritis, dan perdebatan yang hidup, tempat generasi mendatang tidak hanya mempelajari fakta dan teori yang sudah diakui tapi juga belajar membedah ide, menemukan kelemahan, dan membantu memperkaya dan memperluas basis pengetahuan kita. Ketika dunia Islam menghadapi tantangan-tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya, pentingnya menciptakan lingkungan akademis yang sehat harus selalu ditekankan.