2

Memperkenalkan Pendidikan Daring (online) kepada Dunia Arab

DUBAI – Sejak dahulu, pendidikan merupakan tantangan bagi dunia Arab, rendahnya akses pada pendidikan berkualitas berkontribusi terhadap semakin besarnya skills gap yang menyebabkan banyak pemuda, bahkan lulusan perguruan tinggi, menjadi pengangguran dan putus asa. Di kawasan yang sering dilanda konflik dan kekacauan, tentu tidak mudah memecahkan permasalahan tersebut. Namun, melalui pendekatan yang tegas dan inovatif, jalan keluarnya bisa dicapai.

Sudah pasti satu strategi tunggal tidak menjamin akan menyelesaikan tantangan pendidikan di dunia Arab. Melalui yayasan Abdulla Al Ghurair Foundation for Education yang baru dibentuk dan memiliki dana sebanyak 1,1 miliar dolar AS dan mandat untuk membuka peluang lebih besar bagi pemuda-pemudi Arab dengan pemberian beasiswa, kami telah mengkaji efektivitas berbagai pendekatan yang layak – termasuk efektivitas biaya. Ada satu opsi yang menonjol: online learning.

Chicago Pollution

Climate Change in the Trumpocene Age

Bo Lidegaard argues that the US president-elect’s ability to derail global progress toward a green economy is more limited than many believe.

Bahkan negara-negara Arab membuat kemajuan luar biasa cepat dalam perluasan konektivitas internet. Pada tahun 2018, diperkirakan terdapat 226 juta pengguna internet di dunia Arab, lebih dari 55% populasi penduduknya – hampir 7% lebih tinggi dibandingkan rata-rata global. Akan tetapi mayoritas pemuda menggunakan internet untuk mengakses media sosial, daripada keperluan ekonomi atau pendidikan. Dengan demikian, mereka kehilangan peluang besar, apalagi mengingat kemajuan yang dicapai dalam hal peningkatan efektivitas dan daya tarik online learning.

Kini, banyak universitas terbaik di dunia melakukan perkuliahan ilmu komputer dan teknik secara online. Bahkan, berlawanan dengan kepercayaan umum, pembelajaran semacam ini tidak berupa ceramah online selama 2 jam penuh tanpa praktik. Justru, pembelajaran tersebut berisikan video tutorial singkat, aktivitas interaktif untuk mempraktikkan konsep-konsep dalam skenario yang realistis, serta kuis dan penilaian sejawat yang memberi masukan berharga bagi siswa. Berkat model yang berkembang dengan cepat, online learning kini menjadi alternatif yang sangat baik dibandingkan pendidikan tradisional.

Ini merupakan kabar baik. Bagaimanapun juga, pembelajaran melalui teknologi internet memecahkan sejumlah tantangan besar yang dihadapi sistem pendidikan negara-negara Arab saat ini.

Pertama, banyak pemuda membutuhkan akses kepada pendidikan yang terjangkau. Ketika sebuah komunitas memiliki akses internet, seperti di sebagian besar negara Arab saat ini, perluasan online learning untuk menjangkau jutaan pemuda yang saat ini putus sekolah atau tidak mampu memasuki lembaga pendidikan berkualitas, dapat dilakukan dengan biaya relatif rendah.

Beberapa perguruan tinggi ternama di dunia Arab jelas tidak dapat mengakomodasi siswa sebegitu banyaknya. Meskipun mampu, mereka mungkin memilih untuk tidak. Kami menyaksikan sendiri betapa sejumlah universitas di negara-negara Arab dan di kawasan lainnya menutup pintunya dari pengungsi-pengungsi asal Suriah dan negara lain, hingga memaksa mereka menghadapi kesulitan keuangan dan beban birokrasi yang rumit.

Tantangan kedua adalah rendahnya kualitas pendidikan. Sudah terlampau lama, perguruan tinggi di kawasan Timur Tengah dijalankan tanpa perlu membuktikan bahwa program pendidikan yang diselenggarakan selaras dengan standar-standar mutu dan ekspektasi global. Metode online learning akan memudahkan pengukuran keberhasilan dan memastikan bahwa siswa memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang bisa digunakan.

Sementara itu, online learning akan memfasilitasi pengenalan metode pengajaran dan pembelajaran baru dan inovatif. Contohnya, berkurangnya perkuliahan dengan ceramah dan pembelajaran hafalan akan menciptakan ruang bagi pembelajaran bersifat self-paced (mandiri) dan metode belajar serta instrumen penilaian berbasis personal/individu yang digunakan para dosen di platform pendidikan online seperti Massive Open Online Courses (MOOC) dari EdX dan platform lainnya.

Ketiga, dunia Arab menghadapi kesulitan dalam penyelenggaran pembelajaran berkesinambungan (continuous learning). Agar mampu bertahan di tengah perekonomian yang dinamis, dimana teknologi berdampak pada redundancy di banyak pekerjaan dan pentingnya mempunyai spesialisasi, tenaga kerja dimana pun harus secara konsisten memutakhirkan atau mengembangkan berbagai keterampilan yang dimiliki.

Saat ini, hanya pemuda dari keluarga kaya di dunia Arab, tanpa komitmen pribadi seperti keluarga dan pekerjaan, yang bisa memperoleh pembelajaran berkesinambungan, dalam bentuk gelar pasca sarjana di universitas-universitas terbaik. Kursus online terbuka akan menyetarakan kedudukan (level the playing field) dengan memberikan kualifikasi profesional dari perguruan tinggi terkemuka yang bisa membuat prospek karir seseorang meroket.

Dengan mempertimbangkan semua hal di atas, kami membentuk Al Ghurair Open Learning Scholars Program, bertujuan untuk menyediakan pendidikan terbaik di dunia kepada pemuda di dunia Arab melalui kuliah jarak jauh (online degree program). Kami menetapkan standar yang tinggi melalui kolaborasi perdana dengan MIT, pemimpin di dunia pembelajaran online terbuka.

Kolaborasi antara MIT dan Open Learning Scholars Program akan menghasilkan dua program “MicroMasters” baru yang terdiri atas lima kursus selama 12 minggu dalam bidang STEM (sains, teknologi, engineering/teknik, dan matematika) yang saat ini tidak diajarkan di dunia Arab. Kami berharap program-program tersebut – bisa diakses pemuda di negara-negara Arab dan sekitarnya – akan memikat siswa dan mendapat dukungan kuat dari pemberi kerja.

Fake news or real views Learn More

Akan tetapi, untuk memaksimalkan dampak investasi kami, persepsi atas online learning harus diubah dan ini memerlukan upaya gabungan dari lembaga penyelenggara pendidikan, pemerintah, dan sektor swasta. Sesungguhnya, perguruan tinggi di negara-negara Arab harus mulai mendalami perluasan online learning yang bermutu tinggi. Pemerintah harus mengkaji ulang persepsinya untuk memberi pengakuan pada program-program yang dikelola perguruan tinggi yang kredibel dan berakreditasi internasional. Bagi sektor swasta, kuncinya adalah memberi penghargaan bagi pekerja yang memegang gelar dan sertifikasi dari program kuliah online.

Sementara itu, Abdulla Al Ghurair Foundation for Education akan mengawali upaya bersama untuk menawarkan gelar sarjana dan pasca-sarjana secara online di bidang STEM dari universitas-universitas terbaik di dunia kepada pemuda-pemudi Arab. Apabila terus ditunda, mayoritas pemuda Arab akan jauh ketinggalan.