42

Politik Beracun Versus Ekonomi yang Lebih Baik

NEW YORK – Hubungan antara politik dan ekonomi berubah. Para politikus negara maju terkunci di dalam konflik-konflik yang aneh, sering kali beracun, dan tidak bertindak berdasarkan konsesnsus ekonomi yang berkembang mengenai bagaimana keluar dari periode yang berlarut-larut ini, yang berkaitan dengan pertumbuhan yang rendah dan tidak seimbang. Tren ini harus diputarbalikkan, sebelum melumpuhkan dunia yang sudah maju secara struktural dan menghapus ekonomi yang sedang berkembang juga.

Jelas, pertengkaran politik bukanlah sesuatu yang baru. Sampai baru-baru ini, ada harapan bahwa jika para ahli ekonomi profesional mencapai konsensus teknokratik mengenai pendekatan politik yang baik, maka para pemimpin politik akan mendengarkan. Bahkan saat partai-partai politik yang lebih radikal berusaha untuk mendorong agenda yang berbeda, kekuatan-kekuatan besar – baik itu bujukan moral dari para pemerintah G7, pasar modal swasta, atau secara bersyarat bergantung pada pinjaman International Monetary Fund dan World Bank– hampir selalu pasti terlihat bahwa pendekatan konsensus akhirnya selalu unggul.

Chicago Pollution

Climate Change in the Trumpocene Age

Bo Lidegaard argues that the US president-elect’s ability to derail global progress toward a green economy is more limited than many believe.

Pada tahun 1990an dan 2000an, sebagai contoh, apa yang dikenal sebagai Konsensus Washington mendominasi pembuatan keputusan di sebagian besar dunia, dan semua orang dari Amerika Serikat sampai ke gelombang besar ekonomi yang sedang berkembang yang menginginkan kebebasan perdagangan, swastanisasi, penggunaan mekanisme harga yang lebih besar, deregulasi sektor keuangan, dan reformasi fiskal dan moneter dengan penekanan yang besar pada sisi pasokan. Pelaksanaan Konsensus Washington oleh berbagai institusi multilateral memperbesar penyebarannya, membantu meningkatkan proses globalisasi ekonomi dan keuangan yang lebih besar.

Pemerintah-pemerintah baru – khususnya pemerintahan yang dipimpin oleh gerakan-gerakan non-tradisional, yang kebangkitan kekuasannya berasal dari balik ketidakpuasan dan kefrustrasian dalam negeri atas partai-partai arus utama – terkadang tidak sepakat dengan kelayakan dan relevansi Konsensus Washington. Namun, seperti yang ditunjukkan oleh Presiden Brazil Luiz Inácio Lula da Silva dengan kebijakan porosnya pada tahun 2002, konsensus tersebut cenderung menyebar lebih jauh. Dan hal ini terus berayun sampai sekitar dua tahun yang lalu, saat Perdana Menteri Yunani Alexis Tsipras menjalankan putar balik yang sama terkenalnya.

Namun setelah bertahun-tahun pertumbuhan yang rendah dan terlihat jelas tidak inklusif, konsensus tersebut mulai menurun. Para warga negara negara maju frustasi dengan “kemapanan” – termasuk “para ahli” ekonomi, para pemimpin politik arus utama, dan perusahaan-perusahaan multinasional yang dominan – yang terus-menerus mereka salahkan atas penderitaan ekonomi mereka.

Berbagai gerakan dan tokoh anti-kemapanan secara cepat menangkap frustasi ini, menggunakan retorik yang membakar dan bahkan agresif untuk memenangkan dukungan. Mereka bahkan tidak perlu memenangkan pemilihan umun untuk mengganggu mekanisme transmisi antara ekonomi dan politik. Kerajaan Inggris menunjukkan bahwa pada bulan Juni, dengan voting Brexit-nya --- sebuah keputusan yang secara langsung membelokkan konsensus ekonomi luas yang ada di Uni Eropa  adalah berdasarkan kepentingan terbaik Inggris.

Referendum tersebut terjadi karena satu alasan: pada tahun 2013, Perdana Menteri saat itu, David Cameron, takut bahwa ia tidak akan mampu mengamankan suara dari basis Partai Konservatif dalam pemilihan umum tahun tersebut. Sumber dari ketakutan Cameron? Gangguan politik dari Partai Independen Inggris –sebuah partai anti kemapanan yang akhirnya hanya memenangkan satu kursi di Parlemen dan akhirnya sekara tidak punya pemimpin dan sedang bergejolak.

Sekarang, nampaknya, bendungan sudah terbuka. Di dalam konferensi tahunan Partai Konservatif, pidato dari Perdana Menteri Teresa May dan anggota-anggota kabinetnya menunjukkan keinginan untuk melakukan “Brexit keras,” yang akhirnya melucuti pengaturan-pengaturan perdagangan yang telah berguna selama ini bagi ekonomi menereka. Mereka juga memasukkan serangan terhadap “elit internasional” dan kritik dari kebijakan-kebijakan Bank of England yang penting dalam menstabilisasi ekonomi Inggris seketika setelah referendum terjadi—ini memberikan pemerintah May waktu untuk membentuk strategi Brexit yang utuh.

Berbagai ekonomi berkembang lainnya mengalami perkembangan politik yang mirip. Di Jerman, keberadaan Alternative für Deutschland, sebuah partai yang sangat kanan, yang keberadaannya dalam beberapa pemilihan umum pusat secara mencengangkan kuat, tampak sudah mempengaruhi perilaku pemerintah.

Di Amerika Serikat, bahkan kampanye Donald Trump untuk menjadi presiden gagal untuk menaruh seorang Republikan balik lagi ke Gedung Putih (seperti yang makin terlihat, di dalam kejadian akhir-akhir ini dari kampanyenya yang sangat tidak biasa, banyak pemimpin Republikan yang telah meninggalkan nominasi partai mereka tersebut), pencalonannya sebagai presiden akan meninggalkan dampak berkepanjangan dalam politik Amerika. Jika tidak diatur dengan baik, referendum Italia berdasarkan Undang-Undang pada bulan Desember –sebuah gagasan yang beresiko dari Perdana Menteri Matteo Renzi untuk menyatukan dukugnan – dapat berbahaya, seperti yang dilakukan oleh Cameron, menyebabkan gangguan politik dan meremehkan tindakan yang efektif untuk mengatasi tantangan-tantangan ekonomi negara tersebut.

Jangan salah: pilihan-pilihan kebijakan yang solid dan meyakinkan itu ada. Setelah kinerja ekonomi yang biasa-biasa saja selama bertahun-tahun, ada persetuhuan yang berkembang bahwa gerakan menjauh dari ketergantungan yang berlebihan terhadap kebijakan moneter yang tidak konvensional dibutuhkan. Seperti yang dikatakan  oleh Managing Director IMF Christine Lagarde, “bank-bank sentral tidak boleh menjadi satu-satunya permainan yang ada.”

Fake news or real views Learn More

Namun, bank-bank sentral masih menjadi satu-satunya permainan yang ada. Seperti argumen saya di The Only Game in Town, yang diterbitkan pada bulan Januari, negara-negara membutuhkan pendekatan kebijakan yang lebih komprehensif, yang melibatkan reformasi struktural yang pro terhadap pertumbuhan, manajemen permintaan yang lebih seimbang (termasuk pembelanjaan fiskal yang lebih besar dalam infrastruktur), dan arsitektur serta koordinasi kebijakan lintas batas yang lebih baik. Ada juga sebuah kebutuhan, yang dicontohkan oleh krisis Yunani yang berkepanjangan, untuk mengatasi kantong-kantong keberhutangan yang berlebihan, yang dapat menyebabkan dampak yang menghancurkan, melebihi mereka yang telah terkena dampaknya.

Munculnya konsensus-konsensus baru dalam hal-hal tersebut adalah berita baik. Namun, dalam lingkungan politik saat ini, menerjemahkan konsensus tersebut menjadi tindakan akan terjadi dengan lambat, dengan cara yang terbaik. Resikonya adalah, seperti halnya politik yang buruk menghasilkan ekonomi yang baik, kemarahan dan frustasi populer akan muncul, meracuni politik lagi. Satu harapan yang menggarisbawahi kepemimpinan politik mengambil kendali waktu untuk membuat koreksi-koreksi di tengah-tengah proses terjadi secara suka rela, sebelum tanda-tanda krisis ekonomi dan keuangan memaksa para pembuat keputusan sibuk meminimalisasi kerusakan.