A group of Ethiopians stand nearby rotten carcasses of animals Joel Robine/Getty Images

Mencegah Bencana Kelaparan di Afrika di Masa Depan

NEW YORK – Setelah mengalami penurunan selama lebih dari satu dekade, jumlah orang kelaparan di dunia kembali meningkat. Tahun ini ditandai dengan krisis pangan global terburuk sejak Perang Dunia ke-II, dimana Sudan Selatan, Yaman, Somalia, dan Nigeria mengalami kelaparan atau hampir mengalami hal tersebut. Lebih dari 20 juta orang di keempat negara tersebut memiliki ketahanan pangan yang sangat buruk, dan PBB memperkirakan bahwa segera  diperlukan $1.8 miliar bantuan kemanusian.        

The Year Ahead 2018

The world’s leading thinkers and policymakers examine what’s come apart in the past year, and anticipate what will define the year ahead.

Order now

Instabilitas politik dan konflik sangat berdampak pada buruknya ketahanan pangan, namun produksi pangan yang tidak mencukupi juga telah meningkatkan ketegangan dan memperparah kelaparan. Di Afrika Sub-Sahara, dimana tiga dari empat negara yang berada di ambang kelaparan tersebut berada, telah lama tertinggal dalam bidang hasil panen dibandingkan wilayah lain, hal ini disebabkan oleh input pertanian yang buruk, seperti rendahnya kualitas bibit dan pupuk.

Investasi dalam bidang pertanian adalah salah satu cara yang paling efektif untuk mengakhiri kelaparan dan meningkatkan stabilitas politik. Terdapat 50 juta petani kecil di wilayah Afrika Sub-Sahara saja, dan pekerjaan mereka menyokong jutaan orang lainnya. Negara-negara di benua tersebut yang melakukan banyak investasi dalam pembangunan pertanian dan petani kecil telah dengan sukses menghindari kelaparan.

Misalnya saja Ethiopia, yang mengalami salah satu bencana kelaparan paling buruk sepanjang sejarah pada pertengahan dekade 1980-an. Diperkirakan satu juta orang meninggal saat krisis tersebut terjadi, yang disebabkan oleh konflik dan kekeringan, dan dibutuhkan waktu bertahun-tahun bagi negara tersebut untuk pulih dari bencana kelaparan. 

Saat ini, Ethiopia berada dalam kondisi yang damai, namun kekeringan kembali terjadi. Pada tahun 2016, negara ini mengalami musim tanam paling kering dalam 50 tahun terakhir. Namun Ethiopia tidak mengalami bencana kelaparan tahun lalu. Tentunya terdapat orang yang mengalami kelaparan, tapi bencana berhasil dihindari. Oxfam mengaitkan hal ini dengan kenyataan bahwa pemerintahan Ethiopia lebih siap dalam mendistribusikan makanan dan air kepada jutaan orang. Negara ini juga telah memperbaiki infrastruktur pertanian mereka, dan sistem irigasi dan air minum yang baru telah memberikan akses yang mudah ke sumber air yang bersih dan aman di wilayah pedesaan.

Selama lebih dari satu dekade, pemerintahan Ethiopia telah menjadikan pengembangan pertanian sebagai prioritas utama. Pada tahun 2010, mereka menciptakan Badan Transformasi Pertanian Ethiopia, yang merupakan sebuah badan pemerintah yang bertujuan untuk meningkatkan produktivitas sektor pertanian. Seperti yang ditulis oleh penulis asal Inggris dan juga peneliti mengenai Afrika, Alex de Waal, “Politik menyebabkan bencana kelaparan, dan politik juga bisa menghentikan hal tersebut.” Ethiopia membuktikan hal tersebut. Meskipun bantuan lokal dan internasional masih mengalir selama masa pemulihan, investasi jangka panjang Ethiopialah yang meningkatkan ketahanan negara tersebut.

Peningkatan investasi strategis dalam pertanian, mulai dari donor dari benua Afrika atau dunia internasional, dapat membantu negara lain di wilayah tersebut untuk mendapatkan manfaat yang sama. Perubahan iklim menjadikan investasi tersebut kian penting, seiring dengan kejadian cuaca ekstrem – baik dalam bentuk banjir ataupun kekeringan – menjadi kian sering terjadi diseluruh Afrika Sub-Sahara.

Meski tanpa bantuan pemerintah, para petani dapat mengambil langkah-langkah mudah dan murah untuk memitigasi guncangan iklim. Dengan menggunakan teknik-teknik pertanian pintar seperti bibit yang tahan kekeringan, tumpangsari, pengomposan, dan diversifikasi tanaman, para petani dapat mengurangi dampak cuaca ekstrem dengan biaya yang sangat rendah.

Pepohonan adalah salah satu alat paling efektif yang kita miliki dalam melawan perubahan iklim, dan pepohonan juga mempunyai nilai ekonomis bagi petani kecil. Petani bisa berinvestasi senilai $2 untuk bibit dapat mengambil keuntungan sebesar lebih dari $80 dalam waktu sepuluh tahun, ketika beberapa dari pohon yang telah cukup usia dapat ditebang dan dijual. Pohon juga memberikan manfaat bagi lingkungan hidup dalam pertumbuhannya – dengan menyerap karbon, meningkatkan kesehatan tanah dan mencegah erosi.

Para petani yang mempunyai aset dalam bentuk pepohonan, ternak, atau uang tunai yang didapat dari menjual kelebihan panen lebih mampu bertahan dalam guncangan cuaca. Dan, seperti yang ditunjukkan oleh organisasi kami di enam negara Afrika, para petani dapat membangun basis aset mereka dengan pelatihan dan dukungan keuangan. Oleh karena itu kami percaya bahwa pemerintah-pemerintah di Afrika dan donor bilateral harus menambah investasi mereka dalam program yang memberikan petani keahlian untuk memproduksi tanaman jangka panjang, khususnya pepohonan, secara berkelanjutan. Praktik yang berbiaya terjangkau – seperti menanam tanaman dalam barisan, menyiangi dengan benar, dan menggunakan pupuk dalam jumlah kecil – juga merupakan metode yang terbukti meningkatkan produksi panen secara dalam jumlah besar.

Ketika dampak perubahan iklim diperkirakan menjadi lebih intensif dalam beberapa tahun mendatang, para petani kecil di Afrika harus mempersiapkan diri untuk masa depan yang lebih bergejolak. Secara historis, Amerika Serikat merupakan donor terbesar di dunia untuk program ketahanan pangan global, namun kepemimpinan Amerika Serikat dalam bidang ini menjadi tidak jelas di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump. Ketika inisiatif ketahanan pangan global mendapatkan dukungan bipartisan di Kongres Amerika, pemerintahan Trump mengusulkan pengurangan besar-besaran terhadap anggaran program bantuan asing.      

Dengan berkurangnya dukungan dari Amerika, pemerintah-pemerintah di Afrika dan Eropa, yayasan, donor internasional, dan aktivis harus siap untuk membantu para petani di Afrika membangun ketahanan jangka panjang. Berinvestasi di pertanian adalah cara yang paling efisien untuk meningkatkan ketahanan pangan di Afrika, dan pada saat yang sama menjamin bahwa masyarakat yang berada di garis depan perlawanan terhadap perubahan iklim dapat mempertahankan perkembangan ekonomi dan lingkungan yang berkelanjutan dan sehat.

Hanya dengan perencanaan yang hati-hati, dan diikuti dengan pembelajaran dari negara seperti Ethiopia, negara-negara di Afrika Sub-Sahara dapat mengatasi penyebab bencana kelaparan. Meskipun ketahanan pangan adalah permasalahan yang rumit untuk dipecahkan, pencegahan bencana kelaparan di masa depan tidak harus menjadi hal yang rumit.           

http://prosyn.org/G84InyK/id;

Handpicked to read next