Syrian doctor Nazeer Al-Khatib/Getty Images

Dokter yang Mengungsi untuk Kesehatan Pengungsi

TORONTO – Pengungsi Suriah seringkali digambarkan sebagai kelompok yang membebani komunitas dimana mereka menetap, khususnya beban sehubungan dengan layanan kesehatan. Namun bagi mereka yang melarikan diri dari perang sipil di Suriah, ketidakpedulian akan nasib mereka dibayangi dengan kenyataan akan kebutuhan mereka – dan beragam keahlian yang mereka miliki. Meskipun para pengungsi membawa banyak permasalahan layanan kesehatan, mereka juga memiliki banyak pengalaman dalam bidang profesi medis, yang jika digunakan dengan baik, dapat memberikan banyak manfaat kepada komunitas yang menerima mereka, dan juga pengungsi lainnya. 

The Year Ahead 2018

The world’s leading thinkers and policymakers examine what’s come apart in the past year, and anticipate what will define the year ahead.

Order now

Salah satu tantangan terbesar bagi pengungsi dimanapun adalah menemukan dokter. Di banyak negara yang menjadi tuan rumah pengungsi, pengobatan yang tidak memadai diakibatkan oleh xenophobia, kendala bahasa, atau kurangnya jumlah staf medis. Hal ini terutama dialami oleh banyak pengungsi Suriah, yang tersebar di wilayah Timur Tengah, Afrika Utara, Eropa, dan Amerika Utara.

Namun banyak juga pengungsi Suriah yang berpendidikan tinggi. Ketika mereka menetap di wilayah yang jauh dari rumah sakit atau klinik dimana mereka dulu berpraktek, para dokter dari Suriah hanya ingin kembali bekerja. Dan bukankah ini waktu yang tepat bagi mereka untuk melakukan hal tersebut?

Di Inggris, terdapat upaya-upaya untuk mencapai hal tersebut. Dinas Kesehatan Nasional dan Asosiasi Medis Inggris mulai melatih ulang dokter yang mengungsi, yang banyak berasal dari Suriah dan Afganistan, untuk mengisi posisi dokter yang jumlahnya kian berkurang di klinik-klinik di Inggris. Melalui program pelatihan Bahasa Inggris, pendidikan pasca-sarjana, dan pendaftaran profesi, program-program di London, Lincolnshire, dan Skotlandia bertujuan untuk mengintegrasikan dokter yang mengungsi kedalam profesi medis di negara mereka. Upaya-upaya ini harus mendapat dukungan.  

Melatih ulang dokter yang mengungsi tidak hanya baik dari segi moral; namun juga mempunyai manfaat praktis. Dokter yang mengungsi lebih mampu mengobati penyakit pasien yang merupakan pengungsi. Dokter yang mengungsi juga dapat membantu memastikan bahwa gelombang pasien baru tidak menjadikan sistem layanan kesehatan negara tuan rumah kewalahan. Dan melatih ulang dokter yang mengungsi lebih murah dan cepat dibandingkan dengan mendidik mahasiswa kedokteran. Dengan adanya sekitar 600 dokter yang mengungsi yang tinggal di Inggris, terdapat banyak sumber daya yang bisa dimanfaatkan di Inggris.   

Terlebih lagi, pengungsi yang menjadi pasien akan mendapatkan manfaat ketika dirawat oleh dokter yang memahami kondisi mereka, termasuk besarnya tekanan psikososial yang diakibatkan oleh pengungsian. Pengalih bahasa bisa membantu, namun mereka tidak selalu ada dalam kondisi kritis. Dokter yang memahami kondisi emosi dan latar belakang budaya pengungsi lebih mampu untuk membuat pasien merasa nyaman.

Inggris bukan satu-satunya negara yang menyadari potensi dari dokter yang mengungsi. Di Turki, dokter dan perawat yang berasal dari Suriah telah menerima pelatihan untuk membantu mereka lebih memahami sistem layanan kesehatan di negara tersebut. Tujuan dari program ini adalah untuk memungkinkan pekerja profesional kompeten yang berasal dari Suriah untuk memberikan pengobatan pada pasien, sehingga mengurangi hambatan bahasa dan logistik dalam memberikan pengobatan yang efektif, mudah diakses dan bermartabat.            

Namun negara lain yang menjadi tuan rumah belum mempunyai pola pikir yang sama. Misalnya saja di Lebanon dan Yordania dimana terdapat lebih dari 1.6 juta pengungsi Suriah yang terdaftar, upaya untuk memperbolehkan dokter Suriah untuk memberikan perawatan bagi pengungsi yang menjadi pasien dianggap sebagai perbuatan kriminal. Dokter yang tidak mematuhi aturan tersebut dapat dipenjara dan mungkin dideportasi. Bahkan Kanada, negara yang pada umumnya menyambut keberagaman dan menghargai hak asasi manusia, berada dibalik hambatan dalam pendekatan inovatif untuk kesehatan pengungsi. Dokter yang berasal dari Suriah harus menjalani pelatihan ulang selama bertahun-tahun di Kanada, dan mereka seringkali kesulitan untuk mendanai besarnya biaya untuk mendapatkan sertifikasi ulang.

Ditengah adanya penolakan ini, layanan kesehatan untuk pengungsi harus dilihat lebih dari sekedar serangkaian tantangan logistik dan operasional, namun juga sebagai sebuah proses politik. Terdapat dua dimensi dari permasalahan ini yang harus ditangani jika kita ingin agar pengungsi yang menjadi pasien diberikan pelayanan yang baik, dan agar dokter yang mengungsi dapat dikerahkan dengan baik.

Sebagai permulaan, dokter yang mengungsi berjuang untuk dapat diterima oleh rekan sejawat mereka di negara tuan rumah karena adanya bias politik atau pribadi. Menyadari potensi pertentangan dalam program integrasi bagi dokter yang mengungsi sangatlah penting untuk mengembangkan kebijakan proaktif untuk menjamin kesuksesan.

Selain itu, dokter yang mengungsi harus dilatih untuk menghadapi keberagaman kebutuhan medis di negara tuan rumah. Misalnya saja, di banyak negara asal pengungsi, permasalahan kesehatan lesbian, gay, biseksual, transgender, dan intersex (LGBTI) masih dianggap tabu, bahkan dikalangan pekerja medis. Bagi dokter yang mengungsi yang tinggal di negara dimana kesehatan dan hak LGBTI diakui, kurikulum integrasi harus mencakup pelatihan mengenai kesehatan LGBTI, khususnya hak dari pengungsi LGBTI yang termasuk kedalam kelompok yang sangat rentan. Meningkatkan kesehatan dari pengungsi LGBTI dapat menjadi landasan bagi masyarakat yang lebih terbuka.

Krisis pengungsi yang melanda Suriah hanyalah sebuah riak dalam gelombang besar pengungsian. Diseluruh dunia, terdapat 22.5 juta orang yang secara resmi terdaftar sebagai pengungsi, dan hampir 66 juta terpaksa meninggalkan rumah mereka. Sedikit kemungkinan jumlah ini akan berkurang dalam jangka waktu dekat, mengingat bencana yang ditimbulkan oleh perubahan iklim dan oleh manusia maupun alam, terus membuat banyak orang harus meninggalkan daerah asal mereka.

Setiap pengungsi masa depan ini suatu saat akan membutuhkan akses pada tenaga medis profesional yang terlatih dalam kesehatan pengungsi, keberagaman, dan inklusi. Memberdayakan dokter yang menjadi pengungsi untuk ambil bagian dalam solusi akan membantu mengubah dogma yang mengakar mengenai keberagaman pengungsi dan identitas sosial mereka. Namun, hal penting lainnya adalah bahwa upaya ini akan menandai langkah penting dalam memastikan kesehatan pengungsi yang lebih inklusif.          

http://prosyn.org/lbLq4OT/id;

Handpicked to read next