0

Memperluas Riset Anti Malaria

LONDON – Dalam beberapa tahun terakhir ini, kemajuan yang luar biasa sudah tercapai dalam penanggulangan penyakit malaria. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), angka kematian akibat malaria turun sebanyak 60% sejak tahun 2000 sebagai akibat dari meningkatnya akses pada tes diagnostik dan pengobatan.

Tentu masih banyak yang perlu dilakukan, namun tren penurunan jumlah infeksi dan angka kematian baru menunjukkan kekuatan kolaborasi antar pemerintah (di negara-negara endemik dan non-endemik malaria), organisasi komersial dan nirlaba, serta lembaga riset dan industri. Tanpa kerja sama tersebut, kemajuan dalam penanggulangan penyakit mematikan ini tidak mungkin terwujud. Selain tindakan terkoordinasi di lapangan, peningkatan keterbukaan dan kolaborasi antar ilmuwan yang meneliti dan mengembangkan generasi obat-obatan dan vaksin terbaru juga melancarkan jalan menuju kemajuan lebih besar.

Chicago Pollution

Climate Change in the Trumpocene Age

Bo Lidegaard argues that the US president-elect’s ability to derail global progress toward a green economy is more limited than many believe.

Komunitas ilmiah kini semakin sadar bahwa tidak ada satu organisasi atau kelompok yang memiliki know-how atau sumber daya untuk melawan malaria sendirian. Sama dengan penyakit lain yang meresahkan negara-negara berkembang, aspek sainsnya sangat rumit dan peluang komersialnya terbatas. Guna memutarbalikkan kondisi terkait penyakit ini, kita perlu menyatukan beragam pengalaman dan keahlian ilmuwan dari berbagai latar belakang dan spesialisasi.

Untungnya, para ilmuwan telah sadar akan hal tersebut dan hasilnya adalah kebangkitan dan penyebaran suatu pendekatan terobosan baru dalam hal penelitian dan pengembangan (litbang). Disebut dengan “open innovation” ialah sebuah kesuksesan yang telah memutarbalikkan model litbang tradisional dan menghilangkan hambatan-hambatan dalam kolaborasi. Berdasarkan kesadaran bahwa “bersama lebih baik daripada sendiri”, open innovation mencerminkan cara kerja tim dimana saling berbagi menjadi kunci keberhasilan.

Keterbukaan ini dibuktikan dengan tingkat pertukaran data yang belum pernah terjadi sebelumnya. Pada tahun 2010, GSK, Genomics Institute of the Novartis Research Foundation, dan St. Jude Children’s Research Hospital di Memphis, Tennessee, membuka ke domain publik rincian atas lebih dari 20.000 senyawa aktif untuk melawan parasite malaria – 13.500 diantaranya berasal dari penyimpanan senyawa milik GSK. Ini merupakan peristiwa penting, sebuah langkah yang diharapkan bisa membangkitkan komunitas riset internasional.

Medicines for Malaria Venture (MMV), sebuah organisasi nirlaba, telah menerapkan langkah-langkah lebih maju. Melalui “open access malaria box,” MMV memberi akses fisik pada 400 senyawa yang tersedia secara komersial. Akses diberikan secara gratis pada ilmuwan di seluruh dunia apabila mereka sepakat untuk mengungkapkan hasil risetnya kepada publik. Kini malaria box sudah dimanfaatkan oleh lebih dari 250 kelompok riset di 30 negara di seluruh dunia dan mengarah pada dimulainya sejumlah program penemuan obat-obat baru di berbagai jenis penyakit yang terabaikan.

Selain dari memfasilitasi pertukaran instrumen dan gagasan, riset terbuka menciptakan kerangka kerja bagi ilmuwan dari berbagai instansi dan latar belakang untuk bekerja sama (baik berdekatan maupun berjauhan), memanfaatkan kelebihan satu sama lain, dan bertukar know-how.

Salah satu contoh kolaborasi ini adalah “open lab” pertama di dunia untuk riset penyakit di negara-negara berkembang, yang dibentuk pada tahun 2010 di lokasi penelitian milik GSK di Tres Cantos, Spanyol. Laboratorium ini dioperasikan dengan dukungan dan arahan dari berbagai aktor, termasuk GSK, Wellcome Trust, Uni Eropa, dan MMV, serta product-development partnerships (pengembangan produk) dan unit-unit di universitas. Hal ini memungkinkan peneliti dari lembaga-lembaga terkemuka di dunia mampu bekerja sama dengan ilmuwan dari industri dalam lingkungan kerja yang dinamis dan kolaboratif, dengan tujuan mengubah ide-ide riset awal menjadi program penemuan obat-obatan.

Melalui 60 proyek yang dirampungkan sejak pembentukannya, inisiatif ini diakui sebagai inkubator bagi lahirnya gagasan-gagasan baru dan model litbang dalam pengobatan yang bermanfaat untuk mengatasi tantangan kesehatan lainnya. Inisiatif litbang berbasiskan kolaborasi aktif lain juga sudah membuahkan hasil. Tiga potensi pengobatan malaria terbaru sedang dikembangkan oleh GSK (dua diantaranya melalui kerja sama dengan MMV) dan disiapkan untuk uji klinis.

Salah satu potensi pengobatan baru yang juga dikembangkan melalui kolaborasi GSK dan MMV, yaitu vivax malaria, sudah lebih maju dan memasuki tahap akhir uji klinis. Jika berhasil, vivax malaria dapat menjadi pengobatan pertama untuk penyakit malaria kambuhan yang disetujui selama lebih dari 60 tahun.

Selain itu, tahun lalu, regulator memberi lampu hijau bagi vaksin malaria buatan GSK. Pertama di dunia, ini adalah kulminasi riset selama tiga dekade and kolaborasi yang tidak pernah terjadi sebelumnya antara GSK, PATH Malaria Vaccine Initiative, dan sejumlah pusat litbang terkemuka di Afrika.

Fake news or real views Learn More

Meskipun kita patut bangga dan termotivasi atas kemajuan terkini, kita tidak boleh cepat merasa puas dengan upaya-upaya melawan malaria. Di setiap pencapaian positif ada kenyataan suram bahwa masih terdapat lebih dari 200 juta kejadian malaria setiap tahun yang membunuh hampir 500.000 jiwa dan sebagian besarnya adalah anak-anak berusia di bawah 5 tahun.

Melalui pembentukan komunitas riset yang kuat dan berbasiskan kolaborasi serta semakin mengalirnya arus pertukaran pengetahuan, kita semakin berpeluang meningkatkan upaya-upaya yang ada dan mendorong pihak lain untuk mengikuti langkah kita. Di sebuah bidang dimana keuntungan komersial terbatas namun potensi penguatan sistem kesehatan dan perekonomian bagi negara sangat besar, ilmuwan harus senantiasa menghilangkan ego masing-masing dan bekerja sama demi kemaslahatan penduduk dunia.