0

Inklusi Keuangan dan Langkah Ke Depan

CAMBRIDGE – Layanan keuangan kebanyakan tidak dirancang untuk peminjam dan penabung kecil; sejumlah model yang tidak biasa mulai berkembang dengan pesat di pasar yang belum tergarap. Akan tetapi, tanpa roadmap kebijakan strategi yang memandu perkembangan teknologi keuangan (financial-technology) atau biasa dikenal dengan fintech, layanan dari model-model “connector” terbaru ini akan terus terbatas.

Di Kenya, keberhasilan M-Pesa, sebuah aplikasi pembayaran seluler, mampu mengubah situasi dengan cepat. PayPal memerlukan dua pencatatan di NASDAQ dan perlu hampir dua dekade untuk bergerak di dalam ekonomi terbesar dunia untuk merengkuh konsumen aktif sebanyak 188 juta dan $282 miliar pembayaran tahunan. Walaupun M-Pesa baru saja berjalan kurang dari satu dekade dan di dalam pasar yang jauh lebih kecil, M-Pesa memiliki hampir sebanyak 17juta  pengguna aktif yang melakukan lebih dari $50 miliar transaksi non-tunai tahun yang lalu.

Chicago Pollution

Climate Change in the Trumpocene Age

Bo Lidegaard argues that the US president-elect’s ability to derail global progress toward a green economy is more limited than many believe.

Mirip dengan M-Pesa, bKash sekarang mendominasi sistem pembayaran di Bangladesh sampai pada tahapan di mana “bKashing” telah menjadi istilah yang umum dalam Bahasa Bengali. Seperti halnya“Xeroxing,” “Hoovering,” dan “Googling” dalam Bahasa Inggris.

Model-model lain, seperti Microensure dan Bima, juga telah mendapatkan pasarnya, dengan menawarkan solusi-solusi asuransi mikro di negara-negara yang sedang tumbuh. Jan Dhan Yojana, sebuah program pemerintah India dengan prioritas tinggi yang menyediakan akses sektor perbankan bagi masyarakat miskin, telah membuka 250 juta akun bank baru selama kurang dari dua tahun.

Produk-produk fintech yang baru harus menghadapi berbagai tantangan, bukan hanya peningkatan akses layanan keuangan. Layanan-layanan yang meningkatkan keuangan inklusif harus menyediakan output dengan volume tinggi namun dengan nilai rendah, yang artinya bahwa mereka harus bergantung pada berbagai kemitraan untuk memenuhi permintaan-permintaan konsumen tertentu. Masalah akan muncul saat mitra-mitra ini memiliki keterbatasan mereka sendiri atau prioritas yang berbeda.

Sebagai contoh, Microensure dan Bima telah menyediakan asuransi untuk jutaan orang; namun akhirnya pelayanan merkea tergantung pada para perusahaan asuransi untuk mengalokasikan modal dan menanggung kebijakan-kebijakan asuransi. Begitu juga, saat ada lampu hijau pertumbuhan industri asuransi di kawasan-kawasan seperti Sub-Sahara Afrika, perusahaan-perusahaan asuransi global harus terus-menerus beradaptasi terhadap perubahan-perubahan peraturan di pusat atau pasar asal mereka, dan tidak jelas apakah mereka memiliki kemampuan untuk melebarkan sayap ke negara-negara berpenghasilan rendah.

Atau, kita bisa lihat M-Pesa itu sendiri. Empat tahun yang lalu, M-Pesa melakukan kemitraan dengan Commercial Bank of Africa untuk menambahan sebuah alat peminjaman, M-Shwari, ke dalam produk-produknya. Sejak saat itu, mereka telah mampu membuka akun pinjaman, bahkan lebih banyak dari bank-bank Kenya manapun. Namun, akun-akun tersebut masih lebih kecil dari seperempat pengguna M-Pesa yang aktif, dan M-Shwari masih melakukan pelayanan untuk pinjaman 30 hari saja. M-Shwari bukanlah bagian utama dari bisnis mitra-mitra tersebut.

Produk-produk di atas bukanlah satu-satunya pemain pasar. Kompetitor terbaru yang menantang M-Pesa adalah mVisa, sebuah kemitraan antara Visa Inc. dan dua bank Kenya lainnya. Dengan $400 juta penghasilan pada tahun 2016, Safaricom – induk perusahaan M-Pesa – kemungkinan akan fokus untuk mempertahankan penawaran pokoknya sebelum berusaha memperkenalkan produk-produk baru. Di dalam daftar terbaru Safaricom mengenai produk-produk prioritas baru untuk memperluas keuangan inklusif, produk-produk simpan pinjam hampir berada di peringkat terakhir.

Inovasi dan kewirausahaan yang tak kenal lelah diperlukan untuk menghubungkan masyarakat miskin dengan sistem keuangan formal; namun, dari sudut pandang kebijakan dan pembangunan, kita perlu mengubah upaya kita menjadi peningkatan ekosistem yang lebih besar agar potensi produk-produk fintech yang baru dapat diwujudkan.

Contohnya, transaksi-transaksi non-tunai M-Pesa’s disokong oleh uang tunai yang dikontribusikan oleh para konsumen, yang held in trust atau digunakan untuk kepentingan kreditor kapan saja. Pendapatan bunga dari dana-dana yang saat ini saat ini disalurkan melalui Yayasan M-Pesa. Dengan sistem yang dibuat secara hati-hati, uang ini akan digunakan untuk penggunaan produktif yang lebih besar. Program Jan Dhan Yojana di India telah menggerakkan kira-kira $6 miliar dari konsumen-konsumen yang baru saja didapatkan, yang dapat digunakan untuk menyediakan produk-produk tambahan yang bisa disesuaikan dengan masing-masing konsumen.

Layanan-layanan fintech yang sedang berkembang dapat belajar dari perusahaan perdagangan elektronik Tiongkok, Alibaba, yang cepat memperluas wadah pembayarannya, Alipay. Setelah Alibaba meluncurkan dana pasar uangnya, Yu’e Bao, pada bulan Juni 2013, mereka mulai berinvestasi lagi pada simpanan-simpanan mikro yang tidak produktif yang dimiliki oleh para konsumen Alipay-nya.

Pada akhir tahun 2015, manajer dana Yu’e Bao telah mengawasi aset sebesar $165 miliar dan telah mengubah jutaan nasabah tabungan Alipay yang kecil dan secara keuangan tidak tinggi menjadi para penanam modal yang dapat mengumpulkan keuntungan yang layak. Untuk membangun wadah mereka, Alibaba bergantung pada data yang besar untuk mengatur dinamika unik dari likuiditas dana tersebut; dan mereka diuntungkan oleh kerangka peraturan di Tiongkok yang belum ditetapkan, walaupun ini dapat berubah di masa depan.

Konteks Tiongkok mungkin unik; dan, memang, ada kekhawatiran yang makin berkembang mengenai resiko-resiko di dalam model Yu’e Bao. Namun, para pembuat peraturan dan firma-firma fintech harus mencatat contoh-contoh seperti Alipay untuk membangun kemungkinan-kemungkinan strategis yang masuk akal untuk sektor yang sedang berkembang ini. Yang paling penting, mereka harus ingat bahwa akses terhadap keuangan bukanlah akhir yang ingin dituju. Akses terhadap keuangan adalah cara untuk meningkatkan kesejahteraan manusia.

Fake news or real views Learn More

Sebuah investigasi India Express baru-baru ini menunjukkan apa yang akan terjadi jika layanan-layanan keuangan disediakan dalam ruang hampa. Koran tersebut menemukan beberapa contoh di mana para pekerja di bank-bank pemerintah India memasukkan satu Rupee ke dalam akun nasabah tanpa sepengetahuan nasabah. Para pegawai ini tampaknya ditekan untuk mengurangi jumlah akun dengan neraca nol, yang mana, semuanya ternyata berkaitan dengan program Jan Dhan Yojana.

Penipuan yang sama, sekarang kita tahu, adalah praktik yang biasa di bank Amerika Serikat, Wells Fargo. Perbedaannya adalah bahwa para konsumen di bagian bawah piramida memiliki alternatif-alternatif perbankan lainnya. Akses layanan keuangan adalah awal yang diperlukan, namun hal ini harus membawa kita ke titik yang lain.