8

Memenangkan Perang Melawan TB

SEATTLE – Manusia telah berusaha mengatasi tuberkulosis sejak Zaman Batu. Namun, kemajuan dalam upaya mengatasi penyakit tersebut baru dicapai pada abad terakhir. Sebuah vaksin, yang digunakan pertama kali pada manusia, masih digunakan hingga saat ini di seluruh dunia. Selain itu, serangkaian antibiotik, dimulai dari streptomisin yang diperkenalkan pada tahun 1940an, telah terbukti efektif untuk mengobati infeksi.

Sejak 1990, angka kematian tahunan yang disebabkan oleh TB telah berkurang hingga hampir separuhnya. Sejak tahun 2000 hingga 2014, diagnosis dan pengobatan yang lebih baik telah menyelamatkan sekitar 43 juta nyawa manusia. Meskipun demikian, perkembangan ini telah melambat, hal ini menandakan bahwa perjuangan masih panjang. Penurunan jumlah kasus TB setiap tahunnya dalam abad terakhir hanya sebesar 1,65%; pada tahun 2014, TB telah memakan korban 1,5 juta jiwa.

Erdogan

Whither Turkey?

Sinan Ülgen engages the views of Carl Bildt, Dani Rodrik, Marietje Schaake, and others on the future of one of the world’s most strategically important countries in the aftermath of July’s failed coup.

Sementara itu, strain-strain penyakit telah mengembangkan kekebalan terhadap pengobatan yang ada. Penyalahgunaan dan pengelolaan antibiotik yang kurang tepat telah menimbulkan multidrug-resistant TB. Strain-strain ini harus diobati dengan obat generasi kedua, yang lebih mahal dan sering menimbulkan efek samping yang lebih parah. Strain-strain yang resistan terhadap obat generasi kedua juga mulai bermunculan, strain-strain ini dikenal dengan sebutan extensively drug-resistant TB.

Mengingat besarnya beban ekonomi serta penderitaan yang ditimbulkan oleh TB pada manusia menandakan bahwa upaya yang komprehensif untuk mengatasi TB sangat dibutuhkan. Menurut serangkaian artikel di jurnal kedokteran Inggris The Lancet, seorang profesor di bidang kesehatan global dan pengobatan sosial di Harvard Medical School yang bernama Salmaan Keshavjee telah menjabarkan strategi untuk mengatasi TB. Keshavjee dan sekelompok ilmuwan, dokter dan advokat TB dari lembaga pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat, rumah sakit dan universitas telah bertekad untuk mengurangi angka kematian TB hingga nol – selain itu, mereka juga menjabarkan langkah-langkah yang diperlukan guna mewujudkan tekad tersebut.

Langkah pertama adalah untuk meningkatkan upaya pengumpulan data. Epidemi TB, seperti penyakit menular lainnya, berbeda-beda tingkatnya di berbagai belahan dunia; oleh sebab itu, upaya pemberantasan perlu untuk disesuaikan dengan kondisi setempat. Program TB setempat perlu menggunakan data yang ada dengan lebih baik, memperluas pengumpulan data yang dilakukan secara rutin, memuktahirkan sistem penyimpanan data serta mengembangkan infrastuktur analitis yang diperlukan untuk mengukur dampak intervensi setempat. Temuan-temuan ini perlu dibuat tersedia di negara di mana data dikumpulkan, selain itu, poin pembelajaran harus dibagikan kepada negara-negara tetangga serta negara-negara yang berada dalam satu kawasan dengan negara tempat pengumpulan data.

Terlebih lagi, petugas kesehatan harus memperluas upaya untuk mencegah infeksi baru dan mengobati kasus baru dengan cepat. Rantai transmisi TB dapat diputus apabila petugas kesehatan secara aktif mencari pengidap TB dan dengan segera memberikan pengobatan sehingga para pegidap tidak lagi menular. Strategi ini telah terbukti efektif berdasarkan evaluasi empiris dan model matematika.

Pada saat yang sama, diperlukan upaya untuk mengendalikan penyebaran penyakit, infeksi laten yang merupakan sumber dari hampir semua kasus TB baru. Mycobacterium tuberculosis, bakteri yang menyebabkan penyakit ini, dapat tidak aktif dalam waktu lama, sehingga pada periode tersebut pengidap TB tidak menunjukan gejala bahwa dirinya telah terinfeksi. Upaya untuk mengobati TB pada tahap ini dapat mencegah bakteri menyebar dan mengurangi beban global penyakit TB. Identifikasi orang-orang yang terinfeksi namun tidak menunjukan gejala melalui peluncuran terapi pencegahan di populasi yang beresiko serta mengembangkan tes diagnostik yang lebih baik akan membantu mengurangi sumber bakteri.

Pengembangan vaksin yang lebih efektif memiliki dampak yang paling besar terhadap epidemi. Vaksin Bacillus Calmette–Guérin diberikan kepada bayi di banyak belahan dunia, namun, keampuhanya untuk mengatasi TB paru sangat beragam. Vaksin yang lebih baik sangat diperlukan untuk memberantas penyakit tersebut secara global.

Support Project Syndicate’s mission

Project Syndicate needs your help to provide readers everywhere equal access to the ideas and debates shaping their lives.

Learn more

Yang terakhir, setiap upaya untuk memberantas TB harus mengakui bahwa akar dari penyakit tersebut adalah kemiskinan dan pengucilan sosial. Sejak pertengahan abad ke dua puluh, upaya dunia untuk mengatasi TB telah menekankan solusi biomedis dan terfokus pada pengobatan wabah. Tetapi, sebelum antibiotik dikembangkan, peningkatan standar hidup telah membantu mengurangi dampak TB. Penggabungan pendekatan biomedis dengan penekanan pada pentingnya gizi yang baik, perumahan yang layak dan kesejahteraan manusia diperlukan untuk menundukan penyakit tersebut.

Masyarakat dunia harus bekerja sama dan menerjemahkan pengetahuan serta strategi menjadi intervensi program di masyarakat yang mendapatkan pengaruh terparah oleh TB. Dengan mengembangkan alat baru – seperti diagnostik cepat, pengobatan infeksi dan penyakit TB yang aman dan lebih singkat serta meningkatkan keampuhan vaksin TB – memperkuat sistem kesehatan, dan meningkatkan kondisi hidup populasi yang beresiko maka salah satu penyakit yang paling berbahaya dalam sejarah manusia dapat diatasi. Hanya dengan cara demikian maka TB pada akhirnya dapat dibuat tidak relevan sehingga menjadi bagian dari lalu dan hanya dapat ditemukan di buku sejarah.