4

Rahasia di Balik Kesuksesan Dubai

DUBAI – Ketika sejumlah pemerintah di kawasan Timur Tengah dalam proses melepaskan diri dari ketergantungannya atas sumber daya alam dan mengupayakan diversifikasi ekonomi, mereka patut memetik pembelajaran dari Dubai. Kisahnya cukup menakjubkan.

Dalam waktu kurang dari satu generasi, Dubai bertransformasi menjadi pusat investasi, perdagangan, dan budaya yang terkemuka di dunia. Meski krisis keuangan global pada tahun 2008 memberi pukulan tajam (karena dampak aset properti yang melambung), Dubai mampu pulih begitu cepatnya dan itu ditandai dengan usulan penyelenggaran sejumlah event seperti World Expo 2020.

 1972 Hoover Dam

Trump and the End of the West?

As the US president-elect fills his administration, the direction of American policy is coming into focus. Project Syndicate contributors interpret what’s on the horizon.

Kemampuan Dubai untuk tidak sekadar bertahan tapi juga berkembang di tengah krisis patut mendapat sorotan. Maka, pada musim semi lalu, saya mulai menelaah pertumbuhan berdaya tahan yang berlangsung di Dubai, serta tantangan yang mungkin mewarnainya. Sebagai bagian dari riset ini, saya melakukan lebih dari 40 wawancara mendalam dengan pejabat pemerintah dan elite bisnis, dan saya sempurnakan temuan-temuan yang ada dengan sumber data sekunder.

Pertumbuhan dan ketahanan Dubai diperoleh berkat “model ABS” yang dianut, yaitu attraction, branding, dan state-led development atau pemikat/daya tarik, pemerekan, dan pembangunan yang dimotori negara/pemerintah. Layaknya sistem rem di mobil yang mencegah hilangnya kendali di kondisi bahaya, tiga strategi Dubai menjaga agenda pembangunan melalui jalur yang benar, meski di tengah krisis ekonomi.

Sehubungan dengan pembangunan yang dimotori pemerintah, pendekatan Dubai relatif sama dengan negara-negara Teluk. Masyarakatnya mengikuti tradisi yang berdasarkan garis keturunan sehingga penguasanya, dipimpin oleh keluarga kerajaan, memiliki peran sebagai wali dan pemimpin yang berwenang menentukan arah dan bentuk pertumbuhan ekonomi. Dengan demikian, “Dubai, Inc.” bisa dengan mudah dan cepatnya beradaptasi terhadap situasi ekonomi yang dinamis.

Dubai sering disebut Singapura di Padang Pasir, karena seperti Singapura, Dubai mengalami pertumbuhan ekonomi besar dan mendapat keuntungan dari kepemimpinan yang proaktif dan visioner yang sanggup mengubah city-state kecil dengan sumber daya terbatas menjadi entrepôt yang unggul di kancah internasional.

Selain itu, Dubai berhasil melakukan branding untuk menarik investasi serta tenaga kerja asing yang diperlukan untuk mewujudkan ambisinya. Ibarat New York, Shanghai, dan Las Vegas yang semuanya memperindah citranya melalui arsitektur, Dubai menghadirkan sebuah identitas yang berorientasi pada inovasi melalui pemandangan kota dan kaki langit yang memiliki 150 gedung pencakar langit, melampaui kota-kota lain di dunia kecuali New York dan Hong Kong.

Dubai juga memiliki gedung kantor pertama dengan cetakan 3-D, pulau-pulau buatan yang mengagumkan, kota dengan satu-satunya “hotel bintang tujuh” (istilah yang mereka populerkan sendiri), pusat perbelanjaan yang disertai akuarium, ski indoor, dan fasilitas skydiving, ditambah lagi dengan berbagai gedung-gedung dan taman hiburan yang populer. Dubai juga menjadi tuan rumah lomba pacuan kuda termahal di dunia dan event olahraga mewah lainnya.

Citra Dubai semakin diperkuat dengan kestabilan politik, keamanan, toleransi, keberagaman budaya, dan tingginya standar hidup yang semuanya memikat ekspatriat dari banyak negara. Selain itu, emirat menarik bagi investor asing dengan diberlakukannya zona ekonomi khusus yang sulit ditandingi negara lain.

Dua miliar orang hidup di kawasan yang mudah dijangkau dengan empat-jam penerbangan dari Dubai, maka tidak mengejutkan kota ini menjadi lokasi pilihan bagi pelancong dan investor. Disampaikan oleh seorang pengusaha perempuan yang saya wawancarai, “Dubai menawarkan semua yang dicari investor dan turis dari seluruh dunia,” ditambah dengan “banyaknya pemuda-pemudi Arab yang antusias mencari dan mewujudkan “the Dubai Dream”.

Dubai melengkapi keunggulan kompetitifnya dalam menarik pekerja dengan keterampilan tinggi plus investasi dengan kebijakan ketenagakerjaan yang juga merangsang masuknya tenaga kerja asing dengan keterampilan lebih rendah untuk menggerakkan mesin pembangunan. Namun kebergantungan terhadap pekerja asing bisa memunculkan masalah struktural di kemudian hari. Walaupun perusahaan bisa memutus hubungan kerja di tengah masa sulit, hal ini akan berakibat pada kekurangan suplai buruh ketika kondisi membaik. Menarik pekerja dengan keterampilan lebih tinggi akan memakan waktu lebih lama dibandingkan dengan melepasnya.

Terdapat risiko lain. Meskipun emirat diberkati dengan kestabilan politik dan ekonomi yang tahan lama, goncangan yang cukup berat di kawasan akan memicu pekerja asing untuk pindah, walau diiming-iming gaji tinggi dan gaya hidup menawan. Ketergantungan ini akan mengancam kestabilan ekonomi jangka panjang di Dubai dan melemahkan kemampuannya menahan gejolak di masa depan.

Sadar akan risiko-risiko tersebut, penguasa Dubai baru-baru ini menyetujui rencana komprehensif untuk meningkatkan pendidikan yang bertujuan mengembangkan modal manusia dalam negeri. Penguasa Dubai, Sheikh Mohammed Bin Rashid, mengatakan bahwa “kami siap memupuk generasi siswa baru yang mampu memanfaatkan instrumen masa depan.”

reformasi pendidikan akan memetik hasilnya setelah satu generasi atau lebih. Singapura pada akhirnya berhasil mengembangkan basis SDM lokal yang berketerampilan tinggi melalui investasi-investasi besar pada pendidikan dan menetapkan kelulusan dari pendidikan jenjang universitas sebagai prioritas nasional. City-state ini sekarang meraih posisi atas dalam nilai hasil ujian internasional di bidang sains dan matematika.

Fake news or real views Learn More

Model ABS menjelaskan ketahanan ekonomi Dubai dan pemulihan cepat pasca krisis keuangan global. Model ini juga membantu emirat menyesuaikan strateginya untuk menghadapi tantangan-tantangan baru. Sama seperti sebuah mobil, model ABS mempermudah pengemudinya untuk mengurangi laju atau mengubah arah untuk menghindari rintangan, dan perangkat pembangunan yang dimotori negara/pemerintah bisa menyelaraskan daya tarik dan pemerekan sesuai dengan tujuan pembangunan dan perubahan kondisi di dalam dan luar Timur Tengah.

Di sisi lain, jika pemerintah gagal memperbaiki masalah struktural – modal manusia dalam negeri yang lemah – Dubai akan mengendarai mobil yang lebih berbahaya, yang mana sulit atau mustahil menghindari rintangan tanpa rodanya mengunci.