4

Akhir dari Situs-situs Warisan Dunia

SAN FRANCISCO, CALIFORNIA – Lagi-lagi perubahan iklim memakan korban. Hampir seperempat terumbu karang di Situs Warisan Dunia Great Barrier Reef di Australia – salah satu ekosistem terkaya dan paling beragam di dunia – mati akibat pemutihan karang massal terburuk dalam sejarah. Bahkan di bagian paling utara Great Barrier Reef, kawasan paling murni dan jauh dari jangkauan manusia, kini hampir 50% karangnya telah musnah.

Perubahan iklim mengakibatkan kemungkinan terjadinya suhu panas di atas rata-rata yang memicu pemutihan ini meningkat hingga 175 kali. Ketika laut menyerap panas dari atmosfer, pemutihan karang besar-besaran seperti yang merusak Great Barrier Reef – di luar fenomena lainnya akibat kenaikan suhu – akan semakin sering menimpa hamparan terumbu karang dengan tingkat kerusakan lebih parah.

Chicago Pollution

Climate Change in the Trumpocene Age

Bo Lidegaard argues that the US president-elect’s ability to derail global progress toward a green economy is more limited than many believe.

Masa depan sejumlah Situs Warisan Dunia yang tidak ternilai – dan tentunya bumi kita – bergantung pada seberapa cepat upaya penurunan emisi gas rumah kaca yang dipicu perubahan iklim. Sayangnya alih-alih melindungi situs-situs yang ada di negaranya dengan menerapkan aksi iklim yang kuat, pemerintah di banyak negara justru secara aktif mengutamakan proyek-proyek energi kotor seperti tambang batubara dan pembangkit listrik tenaga pembakaran batubara.

Bahkan ketika Great Barrier Reef sekarat, Australia terus menambah eksploitasi bahan bakar fosil di dalam negeri. Selama satu tahun terakhir, pemerintah Australia mengizinkan tambang batubara Carmichael dan pelabuhan Abbot Point, yang berlokasi di dekat Great Barrier Reef, untuk memfasilitasi ekspor global atas produk dari tambang Carmichael. Emisi yang dihasilkan dari tambang tersebut termasuk salah satu jumlah emisi terbesar di dunia yang dihasilkan hanya dalam satu proyek.

Masalah ini tidak terbatas di Australia saja. Negara dengan dataran rendah seperti Bangladesh, salah satu negara paling rentan terhadap perubahan iklim, pemerintahnya mendukung usulan pembangunan dua pembangkit listrik tenaga batubara berskala besar yang berdekatan dengan Situs Warisan Dunia Sundarbans. India juga bersikap sama.

Selain mengeluarkan gas rumah kaca dalam jumlah besar, kedua pembangkit tersebut akan merusak Sundarbans, tempat bertemunya sungai Gangga dan sungai-sungai lainnya dengan Teluk Benggala di hamparan pulau bakau yang menjadi lokasi bermukimnya harimau-harimau Benggala yang terancam punah serta lumba-lumba sungai. Pembangkit listrik tersebut akan mencemari air dengan debu batubara yang beracun, mengeluarkan sisa-sisa batubara, dan mengharuskan pengerukan palung sungai. Merkuri dari pipa-pipa akan bermuara di perairan, mengkontaminasi pasokan makanan bagi ratusan ribu orang serta flora dan fauna, dan ketika itu terjadi maka kerusakannya bersifat permanen.

Memang benar Bangladesh mengalami keterbatasan energi, sebuah masalah yang harus diatasi jika pemerintahnya ingin maju dan perekonomiannya tumbuh. Namun ada alternatif lain. Negara tersebut berpotensi besar dalam hal produksi energi terbarukan dan sudah menjadi yang terdepan di program tenaga surya di atap bangunan (rooftop solar energy).

Tentu saja, tanggung jawab untuk mencegah bahaya perubahan iklim yang diakibatkan kegiatan manusia tidak hanya diemban oleh negara-negara yang memiliki Situs Warisan Dunia. Tapi mengingat hal-hal yang sudah kita ketahui, pemeloporan proyek-proyek energi kotor yang merusak tidak lagi dapat dibenarkan.

Ketika pemerintah gagal melindungi kekayaan alam yang dimilikinya, Komite Warisan Dunia (WHC) harus bangkit untuk membantu mengakhiri eksploitasi bahan bakar fosil yang tidak ada hentinya. Terutama, WHC harus mengeluarkan rekomendasi kepada pemerintah untuk mengurangi ancaman-ancaman terkait dengan bahan bakar fosil, mengidentifikasi situs-situs yang terancam bahaya semacam itu, serta menjalankan misi monitoring.

Sasaran pertama dan utama haruslah ditujukan untuk mendorong pemerintah yang memiliki kapasitas untuk mengurangi ancaman-ancaman terkait dengan bahan bakar fosil yang membahayakan sejumlah situs yang ada, agar segera bertindak. Tindakan dari WHC akan membantu mendidik dan memberdayakan masyarakat sipil, sembari memberi tekanan pada lembaga-lembaga keuangan untuk menunda pengucuran dana bagi proyek-proyek pembangunan yang besar.

Fake news or real views Learn More

Pertemuan-pertemuan tahunan WHC, seperti yang baru-baru ini diselenggarakan di Istanbul, merupakan forum yang tepat untuk mengerahkan upaya tesebut. Kini, lusinan lembaga dan lebih dari 60.000 orang menuntut WHC untuk menyerukan pembatalan rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga batubara, melainkan untuk berinvestasi pada energi terbarukan. Selain itu, lusinan ilmuwan terkemuka, LSM, serta advokat asing dan advokat asal Australia sudah menuntut agar WHC counsel Australia tidak lagi memberikan dukungannya pada pembangunan yang akan memperparah dampak perubahan iklim yang menimpa Great Barrier Reef.

Seiring dengan semakin buruknya ancaman perubahan iklim yang menghantui kita, lembaga-lembaga yang berkuasa seperti WHC harus bangkit dan melawan kebergantungan pada batubara dan bahan bakar fosil lainnya, sebuah warisan yang beracun dan mematikan. Jika komite tersebut terus berdiam diri dan tidak menyikapi isu yang krusial ini, situs-situs Warisan Dunia sejagat akan sengsara.