11

Pendidikan sebagai Penangkal Radikalisasi

DUBAI – Setiap pengunjung di Timur Tengah pasti melihat kesenjangan yang semakin besar antara aspirasi pendidikan, kewirausahaan, dan pekerjaan yang dimiliki kaum muda di kawasan ini dan kenyataan pahit yang menghalangi begitu banyak dari mereka dari terwujudnya masa depan yang positif. Memang, di Timur Tengah, setengah dari penduduk usia 18-25 tahun tergolong penangguran (unemployed) atau setengah menganggur (underemployed).

Kondisi ini diperburuk dengan krisis pengungsi global, kini sekitar 30 juta anak-anak terlantar, 6 juta diantaranya dari Suriah saja, hanya sedikit yang mungkin bisa kembali ke rumahnya selama usia sekolah. Tentu tidak mengejutkan ketika kelompok yang dikenal di kawasan ini sebagai Daesh (Negara Islam atau ISIS) percaya bahwa krisis ini bisa menciptakan lahan subur bagi rekrutmen mereka dengan adanya populasi besar kaum muda yang terusir dan merasa tidak puas.

Chicago Pollution

Climate Change in the Trumpocene Age

Bo Lidegaard argues that the US president-elect’s ability to derail global progress toward a green economy is more limited than many believe.

Kini propagandis Daesh menyalahgunakan media sosial sama seperti pendahulu-pendahulu mereka yang ekstrimis dan para propagandis sezamannya terkadang menyalahgunakan masjid – sebagai forum radikalisasi. Kelompok ini secara konsisten mengunggah muatan-muatan yang meragukan atau menolak kemungkinan koeksistensi antara Islam dan dunia Barat dan menyerukan pemuda untuk berjihad.

Video-video mengerikan yang mengandung kekerasan yang dibuat Daesh telah mengakibatkan kontroversi (shock appeal). Namun satu hal yang memiliki daya tarik terbesar bagi pemuda-pemuda yang tidak puas adalah undangan untuk menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari diri mereka sendiri dan masyarakat di tempat tinggal mereka. Shiraz Maher dari Pusat Internasional untuk Studi Radikalisasi (ICSR) di King’s College London mengidentifikasi benang merah dari sentimen diantara anggota-anggota baru: “ingin menegakkan kebenaran-keadilan Tuhan, pembangkangan, perasaan teraniaya, dan penolakan untuk menyesuaikan diri”. Seperti yang disimpulkan dalam laporan terbaru yang disusun Quilliam Foundation, Daesh memanfaatkan hasrat pemuda menjadi bagian dari sesuatu yang berharga; itu merupakan daya tarik utopis organisasi ini yang paling memikat bagi anggota-anggota baru.

Mengingat hal ini beberapa diantaranya anda akan setuju bahwa kita tengah berada dalam pertempuran hati dan pikiran yang terus-menerus dan tidak bisa dimenangkan oleh cara-cara militer saja. Kekuatan keras (hard power) bisa menyingkirkan pemimpin-pemimpin utama Daesh, tapi kita perlu lebih dari itu untuk meyakinkan hampir 200 juta pemuda Muslim bahwa ekstrimisme, secara harafiah, adalah jalan buntu.

Ada banyak contoh operasi diam-diam yang dijalankan untuk melawan ekstrimisme di sub-benua India dan Timur Tengah: majalah anak-anak di Pakistan, video yang ditujukan untuk remaja di Afrika Utara, stasiun radio di Timur Tengahm dan buku-buku serta publikasi yang menentang Al-Qaeda. Mereka bisa membantu mengungkap kebenaran tentang kehidupan di Daesh – bahwa mereka itu brutal, korup, dan rentan terhadap pembersihan internal (internal purge) – melalui berbagai cara, termasuk dengan menarik perhatian untuk meninggalkan kelompoknya. Sebagaimana termuat dalam laporan tahun 2014, “[keberadaan pembelot] menghancurkan citra akan persatuan dan tekad yang berusaha disampaikan [kelompok ini].”

Tetapi kita harus lebih ambisius jika ingin memenangkan perang pemikiran/ide (war of ideas), mempertahankan ruang budaya yang disebut Daesh sebagai “zona abu-abu”, yang kehancurannya sangat mereka dambakan.  Ini adalah ruang dimana warga Muslim dan non-Muslim bisa hidup berdampingan, menemukan nilai-nilai bersama, dan bekerja sama. Peter Neumann, Direktur ICSR, telah mengusulkan perlombaan video YouTube tentang jatuhnya Daesh. “Kita menerima 5.000 video dengan seketika,” jelas Peter. “4.000 diantaranya junk tapi 1.000 lainnya efektif – 1.000 video melawan propaganda [Daesh].”

Solusi jangka panjang terbaik untuk melawan ekstrisme, bagaimanapun juga adalah pendidikan. Di Jaffa, Israel, sebuah sekolah yang dikelola oleh Gereja Skotlandia mengajarkan keutamaan toleransi kepada anak-anak Muslim, Yahudi, dan Nasrani. Di seluruh Lebanon, kurikulum sekolah yang seragam tentang memperjuangkan keberagaman agama – termasuk “penolakan terhadap segala bentuk radikalisme dan pengasingan agama atau sektarian” – diajarkan kepada anak-anak Sunni, Syiah, dan Nasrani sejak usia sembilan. Lebanon juga memperkenalkan double shift (kelas pagi dan siang/sore) dalam sistem pendidikannya guna memenuhi kebutuhan 200.000 anak-anak pengungsi Suriah.

Jika negara yang bermasalah seperti Lebanon, negara yang hancur akibat kekerasan sektarian dan perpecahan agama, bisa memperjuangkan koeksistensi dan memberikan kesempatan belajar bagi pengungsi Suriah, maka tidak ada alasan bagi negara-negara lainnya di kawasan itu tidak mengikuti teladannya.

Fake news or real views Learn More

Pilihannya jelas. Kita bisa saja berdiri dan menonton generasi baru pemuda Muslim yang melek internet (web-savvy) dibanjiri dengan klaim palsu bahwa Islam tidak bisa hidup berdampingan dengan nilai-nilai Barat. Atau kita bisa mengakui bahwa pemuda di Timur Tengah dan di negara-negara dengan populasi Muslim memiliki aspirasi yang sama dengan kaum muda di negara manapun di dunia.

Semua bukti menunjukkan bahwa kaum muda di kawasan tersebut mendambakan pendidikan, pekerjaan, dan kesempatan untuk mengoptimalkan bakat mereka. Resolusi kita di tahun 2016 harus berupaya mewujudkannya.