Female students in Nigeria school AFP/Getty Images

Mengakhiri Kesenjangan Gender dalam Pendidikan

WASHINGTON, DC – Jika mengingat seluruh hambatan yang dilalui, menyelesaikan pendidikan dasar di Niger tidak pernah menjadi sebuah hal yang pasti bagi Aishetu Mahmoudu Hama. “Sulit untuk belajar”, kenangnya. “Kami duduk di lantai – kadang duduk di tikar, kali lain kami hanya duduk di tanah.”

The Year Ahead 2018

The world’s leading thinkers and policymakers examine what’s come apart in the past year, and anticipate what will define the year ahead.

Order now

Tapi Aishetu tetap bertahan, dan sekarang ia telah menjadi seorang mahasiswa berumur 23 tahun. Aishetu mengetahui bahwa jika tidak bersekolah, kesempatan di dalam hidupnya akan terbatas pada menjadi pengembala, bertani, menikah dan mempunyai banyak anak. Selain itu, tidak ada peluang lain yang bisa ia raih.  

Seperti para guru perempuan yang menginspirasi ia untuk belajar, Aishetu ingin menjadi teladan bagi banyak perempuan muda dan saudara-saudaranya sendiri. Dia berharap bahwa ceritanya juga akan memotivasi mereka untuk menyelesaikan pendidikan.

Pada hari Anak Perempuan Internasional ini, Aishetu menjadi bukti atas perbedaan yang pendidikan berikan terhadap perempuan dan orang disekitar mereka. Namun perjuangan yang dilalui Aishetu mengingatkan kita bahwa masih banyak perempuan yang tidak mempunyai akses terhadap pendidikan. 

Mari pertimbangkan statistika yang mengerikan ini: Jumlah anak perempuan yang tidak bersekolah, meskipun telah mengalami penurunan sebesar 40% dari tahun 2000, masih berada di angka 130 juta. Hal ini bisa menjelaskan mengapa perempuan lebih sulit untuk mencari pekerjaan yang berarti dan dengan upah yang baik dibandingkan laki-laki, dan mengapa jumlah perempuan di angkatan kerja terus tertinggal dibandingkan laki-laki.

Lebih parah lagi, ketika pencapaian pendidikan anak perempuan telah tumbuh secara pesat, pertumbuhan yang sepadan di angkatan kerja masih sulit untuk dicapai. Menurut penelitian pada tahun 2015 oleh World Economic Forum, “meskipun lebih banyak perempuan dibandingkan laki-laki yang terdaftar di universitas di 97 negara, perempuan hanya menjadi mayoritas tenaga terampil di 68 negara dan menjadi mayoritas pemimpin hanya di empat negara.

Kesenjangan gender ini mencerminkan sebuah tantangan besar baik bagi perusahaan besar dan kecil. Di seluruh dunia, banyak perusahaan yang sulit untuk menemukan pekerja berkualitas disaat semakin banyak proses yang diotomasi. The International Commission for Financing Global Education Opportunity melaporkan bahwa tahun kemarin hampir 40% perusahaan mengalami kesulitan dalam merekrut pekerja dengan keterampilan yang dibutuhkan.

Perusahaan yang melakukan investasi di negara-negara berpenghasilan rendah juga memerlukan pekerja yang sehat. Hal ini lebih mungkin dicapai ketika para ibu mempunyai pendidikan: para ibu dan keluarganya cenderung lebih sehat dibandingkan jika para ibu tidak mempunyai pendidikan. Faktanya, penelitian menunjukkan bahwa jika seluruh perempuan usia produktif menyelesaikan pendidikan menengah, jumlah anak yang meninggal sebelum usia lima tahun akan menurun sekitar 350,000 setiap tahunnya.

Perusahaan yang melakukan investasi di negara berkembang dengan jumlah anak perempuan yang tidak bersekolah yang tinggi mempunyai kepentingan untuk membantu mereka mendapatkan pendidikan yang layak mereka dapatkan. Jika angka peserta pendidikan meningkat, maka kita akan lebih mungkin melihat perempuan yang mengikuti pelatihan teknis tingkat tinggi yang  banyak dibutuhkan oleh perusahaan saat ini.

Untuk menempatkan 130 juta anak perempuan di bangku sekolah, kita harus menghadapi berbagai hambatan yang sulit. Di banyak negara, pendidikan untuk anak perempuan tidak dianggap penting, hal ini karena adanya anggapan bahwa mereka akan hanya bekerja di rumah atau di pertanian keluarga. Pernikahan dini, pelecehan seksual, kurangnya fasilitas untuk anak perempuan yang sedang datang bulan, dan krisis kemanusiaan adalah beberapa faktor yang menjadikan anak perempuan lebih sulit untuk menyelesaikan pendidikan dibandingkan anak laki-laki. Dan khususnya di daerah terpencil, biaya sekolah dan perjalanan yang sulit ke sekolah menambah hambatan yang perlu dihadapi.  

Bahkan jika tantangan budaya, politis, dan geografis ini dapat dihadapi, negara maju harus memberikan lebih banyak sumber daya untuk mendidik anak perempuan di negara-negara berkembang dibandingkan yang telah mereka berikan di masa lalu. Yang mengagetkan adalah dana yang berasal dari negara donor untuk dana bantuan pembangunan untuk bidang pendidikan telah mengalami penurunan selama enam tahun terakhir, dan jumlah yang ada saat ini lebih kecil jika dibandingkan dengan tahun 2010. Negara-negara donor sangat perlu untuk membalikkan tren tersebut.

Global Partnership for Education telah menjadi salah satu katalisator utama dalam mendidik anak perempuan selama satu setengah dekade. Berkat dana GPE, terdapat 38 juta anak perempuan di negara berkembang yang terdaftar di sekolah dasar pada tahun 2002 hingga 2014.

Untuk melanjutkan kemajuan tersebut, GPE akan mengadakan konferensi pembiayaan, yang diselenggarakan bersama dengan Pemerintah Senegal dan Perancis pada tanggal 2 Februari 2018 di Dakar. Kami meminta donor diseluruh dunia untuk membantu kami mencapai dana tahunan sebesar $2 milyar pada tahun 2020.   

Dengan pendanaan yang mencukupi, GPE dapat mendukung kebutuhan pendidikan 870 juta anak-anak di lebih dari 80 negara. Selain itu, GPE juga dapat membantu negara-negara berkembang untuk membangun sistem pendidikan yang akan memberikan anak perempuan seperti Aishetu kesempatan untuk mewujudkan potensi mereka. Ketika anak perempuan dan perempuan diberdayakan melalui pendidikan, mereka dapat mengubah dunia menjadi tempat yang lebih baik. Investasi terhadap potensi mereka adalah sebuah pertaruhan yang harus dimenangkan.            

http://prosyn.org/3WNxWvh/id;

Handpicked to read next

  1. Chris J Ratcliffe/Getty Images

    The Brexit Surrender

    European Union leaders meeting in Brussels have given the go-ahead to talks with Britain on post-Brexit trade relations. But, as European Council President Donald Tusk has said, the most difficult challenge – forging a workable deal that secures broad political support on both sides – still lies ahead.

  2. The Great US Tax Debate

    ROBERT J. BARRO vs. JASON FURMAN & LAWRENCE H. SUMMERS on the impact of the GOP tax  overhaul.


    • Congressional Republicans are finalizing a tax-reform package that will reshape the business environment by lowering the corporate-tax rate and overhauling deductions. 

    • But will the plan's far-reaching changes provide the boost to investment and growth that its backers promise?


    ROBERT J. BARRO | How US Corporate Tax Reform Will Boost Growth

    JASON FURMAN & LAWRENCE H. SUMMERS | Robert Barro's Tax Reform Advocacy: A Response

  3. Murdoch's Last Stand?

    Rupert Murdoch’s sale of 21st Century Fox’s entertainment assets to Disney for $66 billion may mark the end of the media mogul’s career, which will long be remembered for its corrosive effect on democratic discourse on both sides of the Atlantic. 

    From enabling the rise of Donald Trump to hacking the telephone of a murdered British schoolgirl, Murdoch’s media empire has staked its success on stoking populist rage.

  4. Bank of England Leon Neal/Getty Images

    The Dangerous Delusion of Price Stability

    Since the hyperinflation of the 1970s, which central banks were right to combat by whatever means necessary, maintaining positive but low inflation has become a monetary-policy obsession. But, because the world economy has changed dramatically since then, central bankers have started to miss the monetary-policy forest for the trees.

  5. Harvard’s Jeffrey Frankel Measures the GOP’s Tax Plan

    Jeffrey Frankel, a professor at Harvard University’s Kennedy School of Government and a former member of President Bill Clinton’s Council of Economic Advisers, outlines the five criteria he uses to judge the efficacy of tax reform efforts. And in his view, the US Republicans’ most recent offering fails miserably.

  6. A box containing viles of human embryonic Stem Cell cultures Sandy Huffaker/Getty Images

    The Holy Grail of Genetic Engineering

    CRISPR-Cas – a gene-editing technique that is far more precise and efficient than any that has come before it – is poised to change the world. But ensuring that those changes are positive – helping to fight tumors and mosquito-borne illnesses, for example – will require scientists to apply the utmost caution.

  7. The Year Ahead 2018

    The world’s leading thinkers and policymakers examine what’s come apart in the past year, and anticipate what will define the year ahead.

    Order now