4

Kenapa Isu Perubahan Iklim Menyangkut Pendidikan

NEW YORK – Perubahan iklim mempengaruhi semua orang namun kita belum bertindak sebegitu cepatnya untuk menanggulangi penyebabnya, memitigasi kerusakannya, dan beradaptasi terhadap dampaknya. Banyak orang tidak memahami risiko-risiko perubahan iklim yang mengancam perekonomian global dan struktur sosial. Dan sayangnya, mereka yang paham pun cenderung meremehkan keuntungan besar yang akan tercipta dari peralihan global menuju keberlanjutan dan energi bersih.

Menurut studi terbaru Pew, tujuh dari sepuluh warga Amerika dikategorikan sebagai non-partisan tidak begitu takut jika perubahan iklim akan menimpa mereka. Lebih parahnya lagi, para peneliti asal Yale University baru-baru ini menemukan bahwa 40% orang dewasa di seluruh dunia bahkan belum pernah mendengar istilah perubahan iklim. Di sejumlah negara berkembang, seperti India, angka tersebut melonjak hingga 65%.

Erdogan

Whither Turkey?

Sinan Ülgen engages the views of Carl Bildt, Dani Rodrik, Marietje Schaake, and others on the future of one of the world’s most strategically important countries in the aftermath of July’s failed coup.

Angka-angka bahwasanya mengecewakan, tapi masih bisa diperbaiki. Studi dari Yale menyimpulkan bahwa “prestasi pendidikan cenderung menjadi satu-satunya penentu kesadaran publik yang paling kuat atas perubahan iklim”. Dengan berinvestasi pada pendidikan berkualitas, kita bisa mempersiapkan generasi berikutnya untuk menghadapi permasalahan global semacam ini.

Ada tiga alasan kenapa pendidikan dan aksi melawan perubahan iklim sebenarnya berhubungan dan saling melengkapi. Pertama, pendidikan mengisi kesenjangan pengetahuan. Memahami dampak yang sudah diakibatkan perubahan iklim terhadap hidup seseorang akan memberi keuntungan praktis, terutama bagi penduduk miskin yang paling rentan menderita gagal panen dan bencana alam, seperti longsor dan banjir, peristiwa yang disebabkan oleh perubahan iklim. Bagi komunitas yang harus membangun ulang dari nol setiap bencana menimpa, mereka kehilangan peluang dalam percepatan pembangunan. Ketika komunitas memahami perubahan yang tengah terjadi – dan bertambahnya kemungkinan terjadi bencana – mereka bisa meningkatkan ketahanan dan beradaptasi terhadap dampak buruk perubahan iklim.

Kedua, pendidikan melawan sikap apati. Adanya pengetahuan tentang upaya-upaya mengatasi perubahan iklim bisa membuka peluang untuk pertumbuhan ekonomi. Investor global harus menyadari bahwa solusi-solusi yang berkelanjutan akan meningkatkan kesejahteraan dan menghasilkan peluang ekonomi lebih banyak. Contohnya, di Niger, pendidikan dan teknik-teknik bertani yang mutakhir membantu melipatgandakan pemasukan bagi lebih dari satu juta orang, sembari memulihkan tanah-tanah yang rusak parah. Di Amerika Serikat, sejak tahun 2014, terdapat lebih banyak pekerjaan yang bergantung pada tenaga surya dibandingkan tambang batubara.

Akan tetapi, banyak orang bersikeras bahwa upaya mitigasi dampak perubahan iklim terlalu mahal bagi gaya hidup saat ini. Menurut studi dari Pew, hampir tujuh dari sepuluh orang percaya bahwa mengingat keterbatasan teknologi mereka harus merombak gaya hidupnya secara drastis. Anggapan tersebut tidak benar dan pendidikan bisa melawan sifat skeptis semacam ini yang menutup peluang gaya hidup hijau atau cerdas iklim.

Terakhir, pendidikan menyuguhkan pengetahuan teknis yang dibutuhkan untuk membangun masa depan lebih baik melalui inovasi – masa depan yang diisi dengan energi bersih dan aman, pertanian berkelanjutan, dan kota-kota cerdas (smart cities). Perluasan akses kepada pendidikan akan menyuburkan inovasi dalam negeri – wirausaha akan memanfaatkan peluang untuk menanggulangi persoalan setempat. Secara global, kita tidak bisa mengandalkan pusat-pusat pengetahuan seperti Silicon Valley atau Oxford untuk mengembangkan “peluru perak” yang akan memberantas semua masalah perubahan iklim. Solusi-solusi bisa digodok di pusat-pusat teknologi tapi juga bisa berasal dari desa dan kota yang berkembang, dihasilkan oleh petani dan produsen dengan berbagai sudut pandang terhadap dunia di sekitar mereka. Ini akan menciptakan sebuah lingkaran kebajikan (virtuous cycle). Menjadi lebih mudah bagi orang-orang yang berpendidikan untuk pindah dan menyatu dengan komunitas baru, serta berbagi pengetahuan yang mereka bawa.

Untungnya, sekarang generasi muda kita lebih berpendidikan dan berkomitmen untuk mengurangi jejak karbonnya (carbon footprint) masing-masing daripada generasi sebelumnya. Mereka memimpin aksi dan berkukuh agar kita semua memikirkan ulang dampak setiap tindakan. Namun kita harus memperluas akses kepada pendidikan di seluruh dunia guna menjamin upaya mereka tidak tersia-sia.

Support Project Syndicate’s mission

Project Syndicate needs your help to provide readers everywhere equal access to the ideas and debates shaping their lives.

Learn more

Sebagai bentuk pengakuan atas pentingnya pendidikan, pemerintah Norwegia di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Erna Solberg yang visioner, telah membentuk International Commission on Financing Global Education Opportunity, sebuah lembaga tempat saya bernaung. Pekan ini akan diselenggarakan sebuah pertemuan di Oslo dan saya berharap kita bisa menyelesaikan tantangan-tantangan masa kini dan menerapkan pengetahuan bahwa pendidikan sesungguhnya adalah aset terbaik dalam pemecahan masalah yang kita miliki.

Mengatasi bahaya perubahan iklim bukan sekadar keharusan (existential imperative); tapi juga peluang menciptakan pembangunan lebih bersih, lebih produktif, dan lebih adil. Hanya masyarakat global yang berpendidikan yang bisa melakukan tindakan nyata dan mengantarkan kita menuju sasaran tersebut.