0

Janji-janji pada Anak-anak Suriah yang Tidak Ditepati

LONDON – Jika Anda pernah kehilangan harapan, apalagi kehilangan kepercayaan akan pentingnya prinsip pantang menyerah, ingatkanlah diri Anda kembali atas cerita Mohammed Kosha. Sebagai seorang pengungsi berumur 16 tahun yang tinggal di Lebanon, Mohammed telah mengatasi berbagai macam halangan yang mungkin tak pernah terpikirkan oleh kita, untuk meneruskan pendidikannya. Para pemimpin dunia harus belajar dari kisah Mohammed.

Empat tahun yang lalu, Mohammed dan keluarganya lari dari rumah mereka di kota Darya, daerah pinggiran kota Damaskus, untuk melarikan diri dari serangan kekuatan bersenjata Suriah yang terus terjadi. Mohammed kehilangan satu tahunnya di Sekolah Dasar di kota asalnya karena terlalu berbahaya untuk pergi ke sekolah. Lalu, ia tidak bersekolah lagi selama setahun saat keluarganya sampai di Lebanon, di mana mereka tinggal saat ini.

Chicago Pollution

Climate Change in the Trumpocene Age

Bo Lidegaard argues that the US president-elect’s ability to derail global progress toward a green economy is more limited than many believe.

Hidup Mohammed berubah saat pemerintah Lebanon membuka sekolah negeri-sekolah negeri di negara tersebut untuk para pengungsi. Kelas-kelas tersebut tidak hanya penuh; namun juga dilakukan dalam Bahasa Inggris, artinya, ia harus belajar bahasa baru. Namun, Mohammed menangkap kesempatan untuk belajar, lalu mempelajari pelajaran-pelajaran tersebut dengan tekun. Bulan lalu, dengan mengatasi hambatan-hambatan yang ada, ia mendapatkan nilai kedua tertinggi dalam ujian sekolah menengah Brevet Lebanon. Dan ini bukan akhir dari cerita.

Mohammed tahu bahwa pendidikan adalah kunci untuk membangun masa depan yang lebih baik. Dalam kata-katanya, “Belajar memberikan kita harapan.” Seandainya para pemimpin dunia memiliki sedikit saja dari kebijaksanaan Mohammed ini.

Namun sudah ada beberapa tanda-tanda baik. Dalam sebuah pertemuan di London  pada bulan Februari, para donor internasional mengakui pentingnya pendidikan bagi para pengungsi, dan berjanji untuk menyekolahkan semua anak pengungsi Suriah pada akhir tahun 2017. Mereka bahkan berjanji untuk menyediakan dana sebesar $1.4 miliar untuk mencapai tujuan tersebut.

Ini adalah sebuah janji yang ambisius kepada sekelompok anak-anak yang sangat rentan. Hari ini, sekitar satu juta anak-anak pengungsi Suriah berusia 5-17 –sekitar setengah dari jumlah keseluruhan – tidak bersekolah. Lalu, sebagian besar yang bersekolah akan drop out sebelum memulai sekolah menengah mereka. Dalam ruang generasi sekolah dasar yang tunggal, Suriah telah mengalami apa yang mungkin merupakan kemunduran pendidikan terbesar dalam sejarah. Tingkat anak-anak Suriah yang bersekolah sekarang ini di bawah rata-rata kawasan sub-Sahara Afrika.

Namun saat ini, hanya enam bulan kemudian, janji pendidikan untuk semua pengungsi akan diingkari, dan menghapus harapan jutaan orang Suriah. Hanya 39% dari $662 juta bantuan pendidikan darurat yang direncanakan oleh lembaga-lembaga kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa berhasil didanai. Selanjutnya, seperti yang dicatat di dalam laporan Theirworld yang diterbitkan hari ini, hanya sebagian dari $1.4 miliar yang dijanjikan di London telah disalurkan.

Karena komunitas internasional melalaikan tanggung jawabnya, tetangga-tetangga Suriah telah lanjut melakukan upaya-upaya yang luar biasa untuk mengatasi masalah di atas. Lebanon, Yordania, dan Turki (dengan jumlah yang lebih sedikit) telah membuka sekolah-sekolah negeri mereka untuk para pengungsi Suriah.

Namun, sistem-sistem pendidikan di negara-negara tersebut, yang sudah terbatas bahkan sebelum krisis, tidak dapat menangani beban yang terpaksa harus mereka panggul. Para pengungsi Suriah saat ini adalah sepertiga dari semua siswa sekolah negeri Lebanon. Ini seperti sistem sekolah dasar Amerika tiba-tiba menyerap semua anak-anak Meksiko. Jumlah guru, kelas, atau buku teks pelajaran tidak cukup untuk menyampaikan pendidikan yang layak untuk anak-anak pengungsi.

Konferensi bulan Februari seharusnya menghasilkan solusi yang akan meringankan beban para negara tetangga Suriah. Pemerintah-pemerintah negara penerima pengungsi telah melakukan bagiannya, yakni, mempersiapkan rencana mereka dari awal dalam menyampaikan pendidikan universal mereka kepada anak-anak pengungsi. Lalu mereka bekerja dengan para donor untuk membuat strategi yang komprehensif guna menjangkau semua anak yang tidak bersekolah dan meningkatkan kualitas pendidikan.

Namun demikian, karena komunitas internasional gagal untuk melakukan apa yang mereka janjikan, proses ini pun terhambat dan mungkin dapat membalikkan keadaan. Lebih dari 80.000 pengungsi Suriah yang sedang bersekolah di Lebanon saat ini beresiko kehilangan tempat mereka.

Konsekuensi kemanusiaan dari krisis pendidikan di antara para pengungsi Suriah terlihat jelas. Terlihat dari banyaknya pekerja anak yang memetik sayur di Lembah Bekaa Lebanon atau bekerja di pabrik-pabrik pembuatan pakaian di Turki, di mana setengah juta pengungsi tidak bersekolah. Hal ini juga tercermin dari aliran keluarga pengungsi yang terus melakukan perjalanan berbahaya ke Eropa, didorong oleh harapan mereka bahwa anak-anak mereka akan mendapatkan kesempatan-kesempatan pendidikan di sana. Namun, banyak pemerintah Eropa yang terus berinvestasi pada kawat berduri dan rumah-rumah tahanan, dibandingkan dengan investasi untuk sekolah dan guru.

Ada sebuah alternatif – namun waktu terus berderu. Bulan depan, PBB dan Amerika Serikat akan mengadakan satu ronde lagi pertemuan puncak pengungsi.Saat ini, pemerintah dapat menanggalkan janji mereka yang terus diulang dan retorika mereka di negara masing-masing. Mereka harus membawa rencana-rencana konkrit untuk menyalurkan $1.4 miliar yang telah mereka janjikan.

Masyarakat internasional juga harus memikirkan ulang perihal cara penyaluran bantuan tersebut. Krisis Suriah tidak akan selesai dalam waktu dekat. Daripada menyalurkan bantuan melalui permohonan kemanusiaan tahunan yang kekurangan dana dan tidak dapat diandalkan, donor-donor perlu untuk menyediakan pendanaan multi-tahun yang dapat diperkirakan, seperti yang telah dilakukan oleh Inggris. Secara umum, Uni Eropa dan Bank Dunia harus melebarkan dan menggiatkan dukungan mereka terhadap pendidikan.

Fake news or real views Learn More

Tentu saja, lebih banyak pendanaan donor untuk pendidikan hanyalah sebagian dari cara yang ada. Ada lebih banyak cara yang dapat dan seharusnya bisa dilakukan oleh para pemerintah penerima pengungsi, walaupun dibutuhkan usaha yang lebih besar. Sebagai awalnya, mereka harus bekerja untuk mengatasi masalah perbedaan bahasa yang dihadapi oleh anak-anak Suriah. Mereka juga dapat mengatasi masalah kurangnya guru melalui rekrutmen guru-guru pengungsi Suriah. Yang paling penting, para pemerintah penerima pengungsi dapat membantu para pengungsi untuk lebih percaya diri dan dapat berdiri sendiri, yaitu dengan meningkatkan status hukum mereka dan memperluas hak mereka untuk bekerja.

Akhir kata, respon yang tepat terhadap krisis pendidikan di antara pengungsi harus melibatkan pendekatan yang lebih baik terhadap pembagian beban. Sebelum menuju pertemuan puncak PBB bulan depan, para pemerintah harus meninjau janji-janji yang telah mereka buat di konferensi London. Dan mereka harus mengingat ucapan Nelson Mandela: “Janji-janji pada anak-anak tidak boleh diingkari.”