0

Inovator Kesehatan di Negara-negara Berkembang

DHAKA – Kita hidup di tengah era paradoks kesehatan yang tragis. Gerakan imunisasi massal sukses memberantas penyakit, namun kematian anak di sejumlah negara seperti Haiti dan Bangladesh akibat penyakit mudah disembuhkan yang disebabkan patogen-patogen umum tak kunjung hilang. Globalisasi berhasil mengangkat jutaan orang keluar dari kemiskinan ekstrem, namun tidak menyelamatkan mereka dari ancaman penyakit tidak menular di era pasca-industrial – mulai dari diabetes hingga jantung – yang marak di negara-negara yang kekurangan sumber daya untuk mengobati.

Di balik paradoks ini masih hangat isu lain: mayoritas riset kesehatan berlangsung di negara-negara maju, sementara kebanyakan beban kesehatan masyarakat secara global muncul di negara-negara berpendapatan rendah dan menengah. Rendahnya efisiensi dalam pengalokasian sumber daya sangat buruk – bisa dibilang menyalahi moral, sehingga melemahkan pengembangan solusi-solusi kesehatan bagi negara yang paling membutuhkan.

Chicago Pollution

Climate Change in the Trumpocene Age

Bo Lidegaard argues that the US president-elect’s ability to derail global progress toward a green economy is more limited than many believe.

Dahulu dimungkinkan bagi kita mengatasi masalah pembangunan global menyangkut generasi pertama dengan pemindahan modal dan solusi langsung dari negara-negara kaya ke negara-negara miskin. Misalnya melalui program untuk meningkatkan jumlah siswa masuk sekolah dasar, dan di bidang kesehatan masyarakat, gerakan imunisasi massal.

Tetapi, generasi terbaru masalah pembangunan, seperti kualitas pendidikan hingga kematian anak akibat penyakit dapat diobati, lebih sulit dipecahkan. Permasalahan semacam itu menuntut adanya peningkatan kapasitas jangka panjang dan transfer pengetahuan dari negara-negara kaya ke negara-negara miskin; keduanya penting dalam pengembangan solusi.

Dengan kata lain, fokus pada strategi-strategi dan investasi kesehatan masyarakat secara global harus bergeser menuju penurunan ketimpangan struktural antara negara-negara kaya dan miskin, dari segi kapasitas melakukan riset medis dan implementasi kesehatan masyarakat. Misi tersebut – menurut saya pribadi harus menjadi tujuan utama setiap inisiatif kesehatan masyarakat di tingkat global saat ini – perlu mengenali peranan besar lembaga-lembaga seperti International Centre for Diarrhoeal Disease Research (icddr,b), berkedudukan di Dhaka, Bangladesh, tempat saya bekerja sebagai ilmuwan.

Sekarang, sebagian besar aktivitas kesehatan masyarakat di tingkat global melibatkan peneliti dari negara-negara maju yang memimpin tim lokal di negara-negara berkembang. Meskipun ini lebih baik daripada memaksakan solusi-solusi sudah jadi seperti di zaman Perang Dingin lalu, ini tidak ideal. Penelitian kesehatan dan penerapan kebijakan di negara-negara berkembang harus dipimpin oleh peneliti dan spesialis dari negara-negara berpendapatan rendah dan menengah – pakar yang bisa memadukan keahlian ilmiah paling mutakhir dengan pemahaman yang kuat atas konteks lokal.

Manfaat besar dari inovasi yang dimotori negara-negara berkembang sudah dirasakan sejak dahulu. Semenjak 15 tahun terakhir, inovasi-inovasi ilmiah yang dirintis oleh negara dunia ketiga sudah berkontribusi signifikan terhadap kemajuan yang diraih Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs), terutama dalam hal kesehatan dunia.

Sumbangan icddr,b saja cukup membuktikan keuntungan di balik inovasi kesehatan yang diusung sebuah negara berkembang. Semua peneliti di lembaga tersebut menerapkan sains yang bersifat rumit dan inovatif, mulai dari uji klinis dan studi epidemiologi hingga uji coba modifikasi perilaku yang bertujuan mengurangi penyebaran penyakit menular, dan hasilnya sungguh menakjubkan.

Contoh terkemuka dari hasil kerja icddr,b adalah cairan rehidrasi oral (oral rehydration solution atau ORS), larutan dari campuran gula dan garam yang diberikan lewat mulut kepada pasien yang menderita diare seperti kolera. Cairan tersebut diperkirakan mencegah 40 juta kematian global sejak tahun 1960an dan disebut salah satu penemuan medis terpenting di abad ke-20. Ini lah salah satu hasil dari peran sentral icddr,b.

Baru-baru ini, saya dan tim mengembangkan sistem baru berbiaya rendah untuk penggunaan “bubble CPAP” (continuous positive airway pressure), yang menjaga aliran udara selama proses pengobatan pneumonia akut. Trevor Duke, Direktur di Centre for International Child Health di RSRoyal Children di University of Melbourne, juga terlibat dalam proyek ini.

Versi bubble CPAP yang kami kembangkan, yang menggunakan bahan lebih murah dan banyak tersedia seperti tabung plastik dan botol shampo, terbukti selama pengujian bahwa lebih efektif daripada terapi oksigen aliran rendah yang lazim dipakai sesuai anjuran WHO. Di akhir uji coba, RS Dhaka menggunakan bubble CPAP baru yang rendah biaya, alih-alih terapi yang disarankan WHO, sebagai bagian dari pengobatan standar untuk anak-anak penderita pneumonia. Sejak saat itu, angka kematian pasien yang diobati dengan bubble CPAP turun dari 21% menjadi hanya 6%.

Kesuksesan ini berangkat dari fakta bahwa para peneliti icddr,b – mayoritas adalah warga negara Bangladesh yang menerima pelatihan di luar negeri – sangat familiar menyikapi masalah yang perlu diatasi. Mereka tahu persis cara menghadapi keterbatasan sumber daya yang sangat sulit, bahkan mustahil.

Pengalaman MDG selama 15 tahun menunjukkan dengan jelas potensi inovasi negara berkembang yang tidak diragukan lagi dalam memajukan kesehatan masyarakat. Untungnya, para pemimpin dunia betul-betul meresapi pembelajaran tersebut: rumusan Sustainable Development Goals atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan – agenda pembangunan pasca-2015 yang ambisius telah diadopsi pada pertemuan PBB bulan September lalu – bersendikan pada ide kepemilikan lokal.

Meskipun demikian, di balik dukungan kuat terhadap penelitian dan pengembangan yang dimotori institusi setempat, masih ada sejumlah kendala yang menghambat inovasi negara berkembang yang perlu dipecahkan segera. Tentu tidak mengejutkan bahwa masalah tersulitnya adalah kurangnya sumber daya, baik manusia dan anggaran. Untuk mengatasinya, negara-negara maju dan berkembang perlu bekerja sama guna menjamin adanya investasi yang memadai, agar upaya lokal terus berjalan dengan optimal.

Fake news or real views Learn More

Melalui dukungan yang cukup dari mekanisme pembiayaan dalam dan luar negeri, pusat-pusat inovasi seperti icddr,b bisa tumbuh dan berkembang di negara-negara miskin. Dengan mendorong pertukaran pengetahuan dan transfer teknologi, lembaga-lembaga tersebut bisa mempererat kerja sama dengan negara-negara berkembang dan pada akhirnya menghilangkan ketimpangan yang langgeng dan tragis yang selama ini menghantui kesehatan dunia.

Inovasi-inovasi kesehatan yang bermunculan dari negara-negara miskin sudah melewati ujian scalability dan applicability di tempat-tempat yang paling membutuhkan. Ketika mayoritas penduduk dunia tinggal di tempat yang memiliki keterbatasan sumber daya, kita harus menghargai dan berinvestasi pada upaya yang dikerahkan para pihak yang mendorong garda depan ilmu kedokteran di negara-negara berkembang.