9

Mayoritas Diam (Silent Majority) di Arab Harus Bersuara

ALJIR – Sejak UNDP (United Nations Development Program) mulai mengerjakan Laporan Indeks Pembangunan Manusia di Negara-negara Arab atau Arab Human Development Reports (AHDR) pada tahun 2001, situasi di kebanyakan negara Arab telah beranjak dari buruk menjadi semakin buruk. Faktanya, kini negara-negara di kawasan tersebut bahkan tidak bisa bersatu untuk menerbitkan laporan baru. Hal ini sungguh disayangkan, sebab menyepakati visi bersama yang terbaru untuk masyarakat Arab, terutama pemudanya, merupakan prasyarat bagi terciptanya perdamaian dan kesejahteraan di Timur Tengah dan Afrika Utara.

AHDR pertama yang diterbitkan pada tahun 2002, mengidentifikasi tiga “defisit pembangunan” utama yang menghambat dunia Arab: pengetahuan, pemberdayaan perempuan, dan kebebasan. Laporan tersebut, dikenal sebagai dokumen yang “ditulis oleh warga Arab untuk rakyat Arab”, mempunyai pengaruh jelas pada narasi pembangunan kawasan dan sikap elite nasional ketika membahas persoalan-persoalan yang dihadapi masyarakatnya.

Chicago Pollution

Climate Change in the Trumpocene Age

Bo Lidegaard argues that the US president-elect’s ability to derail global progress toward a green economy is more limited than many believe.

Pada masa perumusan ADHR pertama, dunia Arab cukup optimis. Israel, sehabis keluar dari Lebanon pada tahun 2000, juga hengkang dari Gaza pada tahun 2005. Pemimpin-pemimpin Arab baru – seperti Raja Abdullah II di Yordania, Raja Mohammed VI di Maroko, dan Presiden Bashar al-Assad di Suriah – mulai memangku jabatan dan memberi harapan perubahan. Arab Saudi mengumumkan pemilu daerah yang pertama pada tahun 2003 dan berikutnya pada tahun 2005. Mesir dan Irak juga menyelenggarakan pemilu demokratis. Kemudian, upaya Aljazair untuk menghentikan pergulatan sipil yang tiada habisnya juga relatif berhasil, berkat tingginya harga minyak ketika itu.

Setelah Arab Spring, yang bermula di bulan Desember 2010 dan memuncak selama 2011, UNDP mengawali ADHR tahun 2015 dengan fokus pada dilema pemuda Arab. Saya adalah salah satu anggota tim AHDR 2015 bersama 30 tokoh intelektual dan aktivis dari dunia Arab. ADHR 2015 memiliki tema serupa dengan laporan sebelumnya, namun kali ini kami melibatkan langsung pemuda Arab yang berpengaruh untuk mengumpulkan data terbaik dan menonjolkan efek-efek perang yang merajalela di kawasan.

Laporan tahun 2015 kemudian dirampungkan di bulan Mei 2015. Namun sejak itu hanya tersimpan rapi di kantor Biro Arab UNDP di New York, mungkin sebagian besar dikarenakan kritik keras yang dimuat dalam laporan terhadap penguasa elite di Arab.

Satu temuan dari laporan tahun 2015 yang bisa saya angkat secara terbuka adalah kebangkitan “mayoritas diam” (silent majority) di dunia Arab yang berpikiran lebih liberal, terutama di kalangan pemuda. Tren menjanjikan ini muncul dalam bentuk perbandingan antar generasi dari survei opini global. Akses kepada informasi yang dimiliki pemuda Arab saat ini jauh lebih hebat dibandingkan sebelumnya dan mereka merangkul nilai-nilai yang dipegang pemuda di negara-negara lain, bukan nilai-nilai dari generasi orangtua mereka. Selain itu, pemuda Arab haus akan partisipasi lebih besar dalam masyarakat sipil, emansipasi dari hirarki patriarkal, dan ruang lebih luas bagi kreativitas individual. Walaupun disana pendidikan tidak mendapat kebebasan dibandingkan negara-negara lain, sebab kurikulumnya yang konservatif, pemuda Arab bisa memperoleh sejumlah kebebasan.

Mengingat temuan-temuan tersebut, laporan tahun 2015 menganjurkan kelompok-kelompok progresif di tingkat nasional, regional, dan internasional untuk mendukung tuntutan atas emansipasi, sebuah hasrat yang bisa mengarah pada penemuan solusi-solusi lokal terhadap tantangan-tantangan dalam mewujudkan tata kelola pemerintahan lebih baik, perekonomian lebih produktif, dan masyarakat lebih berdaya tahan. Satu-satu jalan menuju perubahan besar-besaran di dunia Arab ialah dengan membebaskan inovasi dan kreativitas – dan itu membutuhkan masyarakat sipil yang tidak berada dalam kekangan. Hak-hak sipil fundamental harus diberikan, dan didukung oleh perubahan mendalam pada sistem pendidikan, reformasi hukum keluarga, dan perluasan ruang bagi media dan budaya.

Laporan tahun 2015, yang saya harap bisa segera diterbitkan, layaknya bisa mendorong perbincangan yang konstruktif dan rasional di dunia Arab. Diawali dengan peringatan berikut: “pemuda di kawasan kini semakin tidak puas dengan struktur kekuasaan politik kaku yang memarjinalkan mereka. Kecuali pemerintah bisa tersadar dari kenyataan yang membutakan ini, mereka akan dihadapkan dengan semakin meluasnya kelompok ekstremis.”

Fake news or real views Learn More

Mayoritas diam yang baru adalah pertahanan terbaik melawan arus radikal dan kekecewaan yang mengisi kekosongan politik yang diakibatkan oleh runtuhnya orde lama. Penduduk Arab yang berorientasi pada reformasi harus berupaya membesarkan jalan tengah, daripada menyatukan ujung-ujung ekstrem atau radikal. Mayoritas diam pun harus mengakhiri kesunyian. Jika tidak, revolusi melawan status quo yang tidak layak akan terus dipimpin oleh kelompok ekstrem yang cuma bisa menyuarakan keluhan dan kecaman, bukan aspirasi.

Tahun 2000-an awal memberi harapan bagi dunia Arab dan kini kita bisa saksikan harapan tersebut diperbarui kembali. Para reformis dari masyarakat sipil di Arab harus didorong untuk bangkit dan bersuara sekarang, atau terpaksa merugi dan kehilangan harapan ke generasi berikutnya.