9

Perekonomian Dunia Tanpa Cina

NEW HAVEN – Apakah perekonomian Cina akan meledak? Dijerat beban utang yang terlampau besar (debt overhang) dan gelembung pasar perumahan (property bubble), ditambah dengan badan usaha milik negara yang ibarat mayat hidup dan perbankan yang sekarat, Cina sering digambarkan sebagai calon bencana di tengah dunia yang rentan krisis.

Saya masih yakin bahwa ketakutan tersebut berlebihan, sebab Cina memiliki strategi, kemampuan, dan komitmen untuk mewujudkan perubahan struktural besar-besaran menjadi masyarakat konsumen yang berbasis jasa, sembari sukses menghindari cyclical headwinds yang menghantui. Tetapi saya menyadari bahwa pandangan ini hanya diterima segelintir orang.

Chicago Pollution

Climate Change in the Trumpocene Age

Bo Lidegaard argues that the US president-elect’s ability to derail global progress toward a green economy is more limited than many believe.

Misalnya, Menteri Keuangan Amerika Serikat Jacob J. Lew berulang kali menyatakan opini yang agak membingungkan bahwa Amerika Serikat “tidak bisa menjadi satu-satu mesin perekonomian dunia.” Sebetulnya ya memang tidak: kontribusi ekonomi Cina terhadap pertumbuhan global diperkirakan setara dengan empat kali kontribusi AS tahun ini. Barangkali Jacob Lew mengira-ngira skenario terburuk bagi Cina menurut penilaiannya atas perekonomian dunia.

Lalu bagaimana jika para skeptis benar? Apa yang akan terjadi jika ekonomi Cina betul-betul kolaps, laju pertumbuhannya merosot ke satu digit, atau bahkan negative territory, seperti yang umumnya menimpa negara-negara yang dilanda krisis? Tentu saja Cina akan menderita, begitu pula ekonomi global yang sekarang pun sudah goyah. Ketika semua mata tertuju ke Cina, hipotesis ini patut ditelaah.

Pertama, tanpa Cina, ekonomi dunia diperkirakan sudah mengalami resesi. Laju pertumbuhan Cina tahun ini diproyeksikan mencapai 6,7% – jauh melebihi estimasi awal. Menurut Dana Moneter Internasional atau IMF, ekonomi Cina menyumbangkan 17,3% PDB global (basis PPP/ purchasing-power-parity). Kenaikan 6,7% pada PDB riil Cina akan diterjemahkan ke dalam pertumbuhan ekonomi dunia sebagai kontribusi PDB global sebanyak 1,2 poin persentase. Tanpa Cina, kontribusi tersebut akan hilang dari proyeksi IMF lalu yang juga sudah dipangkas, dari awalnya pertumbuhan global 3,1% menjadi 1,9% – tepat di bawah  ambang batas resesi global.

Itu baru efek langsung akibat absennya Cina dari dunia. Selain itu ada keterkaitan lintas negara dengan negara-negara maju lainnya.

Negara-negara yang dikenal sebagai resource economies – seperti Australia, Selandia Baru, Kanada, Rusia, dan Brasil – akan terkena dampak paling parah. Sebagai raksasa pertumbuhan yang padat sumber daya, Cina mengalahkan kontribusi dari negara dengan perekonomian besar lainnya, yang seluruhnya menyumbangkan 9% PDB dunia. Meski negara-negara tersebut di atas mengklaim negaranya memiliki struktur ekonomi diversifikasi yang tidak sepenuhnya bergantung pada permintaan komoditas Cina, pasar mata uang berpendapat lain: ketika proyeksi pertumbuhan Cina direvisi – naik atau turun – nilai tukarnya pun ikut bergerak. IMF saat ini memperkirakan lima negara di atas akan melemah 0,7% di tahun 2016, mencerminkan resesi sekarang di Rusia dan Brasil serta kondisi modest growth di tiga negara lainnya. Dengan demikian, jika ekonomi Cina meledak, perkiraan baseline ini harus dipangkas habis.

Sama halnya dengan mitra dagang Cina di Asia – mayoritas adalah negara-negara yang bergantung pada ekspor dan mengandalkan pasar Cina sebagai sumber permintaan eksternal. Ini tidak akan menimpa negara-negara berkembang di Asia seperti Indonesia, Filipinam dan Thailand, tapi juga negara-negara besar dan maju seperti Jepang, Korea, dan Taiwan. Bila digabungkan, enam negara tersebut setara dengan 11% PDB dunia. Ledakan di Cina bisa dengan mudahnya mengurangi setidaknya 1 poin persentase dari laju pertumbuhan kolektif.

Amerika Serikat pun patut waspada. Cina adalah pasar ekspor ketiga terbesar bagi AS dan paling cepat tumbuh. Jika ekonomi Cina meledak, permintaan ekspor akan hilang – mengurangi sekitar 0,2-0.3 poin persentase dari pertumbuhan ekonomi AS yang sudah di bawah rata-rata yakni 1,6% di tahun 2016.

Terakhir, nasib Eropa. Pertumbuhan di Jerman, satu-satunya harapan perekonomian Eropa Kontinental yang meredup, masih sangat mengandalkan ekspor. Ini diakibatkan oleh semakin besarnya pengaruh Cina – kini pasar ekspor ketiga terbesar bagi Jerman, persis di bawah Uni Eropa dan Amerika Serikat. Ledakan di Cina akan melemahkan pertumbuhan ekonomi Jerman, juga berdampak buruk pada negara-negara Eropa lain yang didominasi Jerman.

Menariknya, dalam update terbaru World Economic Outlook terbitan bulan Oktober, IMF mengabadikan satu bab khusus analisis efek spillover Cina – asesmen berbasis model atas dampak global dari kemunduran ekonomi Cina. Sejalan dengan argumen di atas, IMF berfokus pada kaitan pada eksportir komoditas, eksportir asal Asia, dan negara-negara yang disebut “systemic advanced economies” (Jerman, Jepang, dan AS) yang paling rentan terhadap jatuhnya ekonomi Cina. Menurut perkiraan IMF juga, efek terparah akan dirasakan Asia, setelah itu negara-negara yang ekonominya berorientasi pada sumber daya; sensivitas pada tiga negara maju diperkirakan sekitar setengah yang dialami mitra dagang Cina di luar Jepang.

Fake news or real views Learn More

Studi IMF menyimpulkan bahwa efek spillover global Cina akan menambah 25% efek langsung dari defisit pertumbuhan Cina. Ini berarti apabila pertumbuhan ekonomi Cina terhenti, sesuai hipotesis kita tadi, jumlah total efek langsung (1,2 poin persentase pertumbuhan global) dan efek tidak langsung (tambahan sekitar 0,3 poin persentase lagi) akan menghilangkan separuh estimasi baseline dari pertumbuhan global tahun 2016, dari 3,1% menjadi 1,6%. Walaupun itu jauh dari rekor kontraksi ekonomi pada tahun 2009 yaitu 0,1%, tetap saja selisihnya tidak besar dibandingkan dua resesi global sebelumnya di tahun 1975 (pertumbuhan 1%) dan tahun 1982 (0,75%).

Mungkin cuma saya disini yang optimis dengan Cina. Walaupun saya masih berharap dengan prospek ekonomi global, saya pikir kita menghadapi masalah-masalah lebih besar daripada ekonomi Cina yang kendur. Namun ya saya setuju bahwa perekonomian dunia pasca krisis tanpa kehadiran Cina akan mengalami banyak kesulitan. Siap-siap saja untuk menanggung akibatnya.