1

Arab Saudi dan Shock Therapy yang Dialami

BEIRUT – Sejak dahulu Arab Saudi bergantung pada minyak untuk menggerakkan roda pertumbuhan ekonomi dan pembangunan. Tahun lalu, pendapatan dari minyak menyumbangkan tiga-perempat total pemasukan dari ekspor dan sekitar 90% pendapatan negara. Akan tetapi merosotnya harga minyak baru-baru ini menunjukkan pertanda jelas: Arab Saudi, seperti negara-negara lain di Timur Tengah yang kaya atas minyak bumi dan gas alam, perlu memperkenalkan suatu model pembangunan yang lebih beragam.

Sejak harga minyak jatuh pada pertengahan tahun 2014, laju pertumbuhan PDB di Arab Saudi mengalami penurunan tajam, sama halnya dengan pertumbuhan kredit dan tingkat likuiditas. Surplus anggaran dan surplus transaksi berjalan berubah menjadi defisit. Tahun ini, defisit diperkirakan mencapai 13% defisit anggaran dan 6.4% defisit transaksi berjalan dari PDB.

 1972 Hoover Dam

Trump and the End of the West?

As the US president-elect fills his administration, the direction of American policy is coming into focus. Project Syndicate contributors interpret what’s on the horizon.

Selain itu, meski berjaya di tahun-tahun sebelumnya, pendapatan asli negara Kerajaan Saudi telah surut. Sebagaimana dialami negara-negara lain di Timur Tengah, pendapatan dari minyak tidak dialihkan secara tepat menjadi human capital, infrastruktur, dan kapasitas berinovasi yang merupakan prasyarat terciptanya pertumbuhan produktivitas dan diversifikasi ekonomi. Jadi, di samping mengupayakan penyesuaian terhadap “new normal” yang berlaku terhadap harga minyak, Arab Saudi harus merancang suatu model perekonomian yang mendobrak dan mengatasi hambatan-hambatan struktural yang mengekang produktivitas dan pertumbuhan.

Sebuah target yang sukar sekali dipenuhi, sehingga pemerintah pada umumnya memilih untuk menyelesaikan secara bertahap. Namun putra mahkota, Pangeran Muhammad bin Salman, meluncurkan Program Transformasi Nasional (National Transformation Program atau NTP) pada bulan Juni lalu, menganjurkan agar Arab Saudi mengambil langkah berbeda dan memperkenalkan shock therapy pada perekonomian.

Sebuah dokumen setebal 110 halaman yang memuat kebijakan dan target yang harus dipenuhi kementerian dan instansi pemerintahan selama periode 2016-2020, NTP mengandung 543 reformasi khusus senilai SAR 270 miliar ($72 miliar), di luar biaya penyesuaian bagi sektor swasta. Bahkan, inti dari reformasi yang diusulkan adalah penambahan peran sektor swasta dalam perekonomian yang cenderung didominasi negara, agar menghasilkan jumlah lapangan kerja lebih besar dalam bidang-bidang produktivitas lebih tinggi.

Pembiayaan seluruh reformasi tersebut – belum lagi suntikan dana public investment fund sebanyak 2 triliun dolar AS untuk menyokong perekonomian pasca minyak – membutuhkan peningkatan efisiensi, privatisasi dengan cepat, kemitraan publik-swasta yang efektif, pemungutan pajak yang menganut prinsip broad-based (termasuk pajak pertambahan nilai sebesar 5% yang diterapkan tahun 2018 nanti) serta pemotongan belanja atas sejumlah proyek infrastruktur. Semuanya harus dijalankan secara efisien, apabila pemerintah ingin mencapai sasaran pokok lainnya: anggaran berimbang pada tahun 2020.

Target-target kebijakan khusus juga sangat ambisius. Pertama, pemimpin Saudi akan melakukan privatisasi sebagian terhadap perusahaan minyak nasional Saudi Arabian Oil Company (Aramco) dan membentuk perusahaan dana investasi. Selain itu, subsidi energi akan dikurangi secara bertahap agar terjadi peralihan menuju penggunaan energi yang intensif. Rencana tersebut memuat target-target spesifik yang menargetkan kenaikan kontribusi dari bisnis properti, teknologi informasi, sektor jasa, pariwisata, serta industri pertahanan dan farmasi terhadap PDB.

Apabila NTP diniatkan untuk menghasilkan diversifikasi ekonomi lebih luas, Arab Saudi harus menggabungkan pertumbuhan berorientasi nilai tambah dan bersendi ekspor, pada akhirnya merengkuh integrasi regional dan internasional lebih besar. Program tersebut menguraikan aspek-aspek fundamental beserta rencana reformasi pendidikan untuk merangsang inovasi dan memenuhi kebutuhan pasar tenaga kerja yang berubah. Secara khusus, NTP mencakup uraian mencapai kenaikan tingkat penguasaan matematika dan bahasa Inggris setinggi 15% dalam kurun waktu lima tahun, selain target penambahan fokus pada pembelajaran subjek “STEM” (sains, teknologi, engineering, dan matematika).

NTP juga bertujuan meningkatkan partisipasi perempuan di pasar tenaga kerja, dari 22% sekarang menuju 28% pada akhir tahun 2030. Sasaran tersebut, dilengkapi dengan dukungan dan peluang tambahan bagi kaum muda yang jumlahnya tumbuh dengan cepat, diharapkan mengurangi tingkat pengangguran dari 11.6% menjadi 9% dalam periode lima tahun.

Setiap tindakan, mulai dari pengurangan subsidi sampai dengan usulan pemotongan gaji di sektor publik, reformasi yang diusung NTP mencerminkan kontrak sosial baru di Kerajaan Saudi. Rencana tersebut ibarat “long march”, mengharuskan kerja sama publik-swasta yang efektif, buy-in dari masyarakat, dan strategi komunikasi yang jelas untuk menerapkan restrukturisasi perekonomian menyeluruh yang ditunjang dengan reformasi kebijakan fiskal dan kebijakan makro lainnya.

Ada sejumlah preseden atas strategi ini: negara-negara penghasil minyak seperti Norwegia, Malaysia, Indonesia, dan Meksiko telah menjalankan diversifikasi ekonomi. Tetapi konteks eksternal ketika negara-negara tersebut melakukan reformasinya – ditandai dengan lonjakan globalisasi dan pertumbuhan cepat – jauh berbeda dengan konteks sekarang. Bahkan, transformasi tersebut memakan waktu 20 tahun.

Sebaliknya, implementasi NTP justru berlomba-lomba dengan waktu dan dihantui oleh faktor eksternal seperti harga minyak yang merosot, ekonomi global yang melemah, dan gerakan menolak globalisasi. Selain itu, pertumbuhan jangka pendek dalam negeri akan meredup akibat ketidakpastian kebijakan, konsolidasi fiskal, efek instan dari reformasi, dan kebutuhan mendesak untuk memutarbalikkan karakter kebijakan moneter dan fiskal, yakni peralihan dari pro-cyclical menuju counter-cyclical.

Belum diketahui apakah Arab Saudi sanggup mengatasi tantangan-tantangan tersebut. Keberhasilan bergantung pada beberapa faktor, contohnya kapasitas penyerapan di perekonomian negara dan kompetensi kelembagaan pemerintah. Tidak hanya itu, sukses bergantung pada kemampuan negara untuk membangkitkan energi dan ambisi pemuda-pemudi Saudi yang menantikan reformasi dengan penuh semangat, dan menyingkap “animal spirits” para investor swasta.

Supaya berhasil, Arab Saudi perlu mengambil langkah-langkah tambahan. Saudi harus melakukan liberalisasi terhadap rezim investasi langsung luar negeri (foreign direct investment), mengizinkan kepemilikan asing 100% dalam kasus-kasus tertentu, menarik dan mempertahankan tenaga kerja asing melalui usulan kebijakan imigrasi “green card”, dan merangsang keterbukaan dan pariwisata melalui kebijakan “open skies”. Selain itu, pasar modal dalam negeri sangat diperlukan dalam pembiayaan infrastruktur dan defisit pada pemerintah. Saudi perlu merangkul kekuatan inovatif yang berasal dari teknologi finansial dan membentuk bursa efek atau pasar modal lapis kedua, untuk mengembangkan inklusi keuangan dan memudahkan akses pada pembiayaan untuk usaha kecil dan menengah.

Fake news or real views

Di luar semua reformasi makro yang sukar, NTP juga menuntut peralihan bertahap menuju sistem hukum civil law untuk mengelola perekonomian dan bisnis. Kontrak sosial baru juga perlu didampingi oleh peningkatan transparansi dan akuntabilitas sektor publik dan keterlibatan publik.

NTP adalah manifestasi kesadaran pemimpin Arab Saudi atas kendala-kendala yang dihadapi dan kemauan untuk memecahkannya. Satu-satunya hal yang pasti disini adalah jalan menuju transformasi ekonomi Arab Saudi masih panjang dan sebelum memetik hasilnya, negara harus siap melewati sejumlah kerikil.