0

Kemunculan Kembali Penyakit Malaria yang Ganas

SINGAPURA – Penurunan drastis angka kematian akibat malaria sejak awal abad ini merupakan salah satu kisah sukses terbaik di bidang kesehatan masyarakat dalam beberapa tahun terakhir. Berkat investasi gabungan dalam pencegahan, diagnosis, dan pengobatan, angka kematian akibat penyakit ini berkurang 60% setiap tahunnya sejak tahun 2000 dan telah menyelamatkan lebih dari enam juta jiwa.

Meskipun impian mencapai penghapusan malaria nampaknya hampir menjadi kenyatan, tingginya penolakan terhadap obat-obatan kini mengancam kesuksesan besar ini. Penolakan terhadap obat anti malaria yang paling efektif yaitu artemisinin mulai hangat di Kamboja dan meluas ke kawasan Sungai Mekong.

Chicago Pollution

Climate Change in the Trumpocene Age

Bo Lidegaard argues that the US president-elect’s ability to derail global progress toward a green economy is more limited than many believe.

Tanpa tindakan cepat dan efektif, bentuk baru penolakan terhadap malaria akan meluas – sebuah pola yang muncul dua kali pada beberapa jenis obat malaria yang terdahulu. Pemerintah, lembaga internasional, organisasi masyarakat sipil, dan industri harus menerapkan langkah-langkah urgen demi mencegah epidemi akibat resistensi malaria dan menghentikan timbulnya kejadian mematikan lainnya.

Guna menunda penyebaran resistensi untuk memungkinkan produksi obat-obatan baru, perlu ditetapkan sasaran jangka pendek yang bersifat urgen: mencegah timbulnya efek resistensi di Asia Selatan dan Asia Tenggara dan menghambat penyebarannya di kawasan lain. Berdasarkan pengalaman sejarah, resistensi terhadap artemisinin dapat bergeser ke India dan berlanjut ke Afrika Sub-Sahara dan mungkin seluruh dunia, sehingga membahayakan jutaan jiwa dan merusak kemajuan yang sudah dicapai selama beberapa dekade terakhir.

Pada tahun 1950-an, resistensi terhadap salah satu obat yang disebut klorokuin bermunculan di sekitar perbatasan Thailand-Kamboja. Peristiwa yang sama terulang lagi pada tahun 1970-an terhadap sulfadoksin-pirimetamin (SP). Dimulai dari Asia Tenggara resistensi terhadap klorokuin dan SP menyebar ke India lalu ke Afrika dan kawasan lain. Jutaan orang meninggal dunia sebagai akibatnya dan sebagian besar diantaranya adalah anak-anak di benua Afrika.

Konsekuensi dari meluasnya resistensi terhadap artemisinin juga sama buruknya. Bahkan kelompok yang paling kolot pun sudah memperkirakan kenyataan suram. Sebuah studi menemukan bahwa penyebarannya dapat menyebabkan tambahan angka kematian sebanyak 116.000 jiwa per tahun serta pengeluaran medis terkait dan kerugian produktivitas sebanyak $417 juta – di luar biaya $12 miliar akibat hilangnya produktivitas karena malaria yang menimpa Afrika Sub-Sahara setiap tahunnya.

Meskipun terdapat kekhawatiran secara umum dalam 8 tahun terakhir, resistensi terhadap artemisinin belum dapat dikendalikan. Sebaliknya, justru resistensi serupa terdeteksi di Kamboja, Vietnam, Laos, Thailand, dan Myanmar, di perbatasan timur India.

Terdapat kenaikan bantuan donor, terutama the Regional Artemisinin-resistance Initiative, yang didanai oleh hibah sejumlah $100 juta dari The Global Fund to Fight AIDS, Tuberculosis, and Malaria. Namun lambannya penguatan atas intervensi pengendalian yang konvensional belum terbukti mampu mengalahkan penyebaran resistensi.

Untuk mengakhiri malaria, perlu ada gerakan global secara terpadu melawan faktor pemicu resistensi. Selain dari upaya menanggulangi resistensi terhadap artemisinin di kawasan Mekong, perlu ada tindakan lain di luar itu. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), hingga November 2015, otoritas nasional di sektor kesehatan di enam negara Afrika dan Kolombia belum mencabut izin pemasaran yang dikeluarkan bagi penggunaan oral artemisinin secara monoterapi – sebagai salah satu pendorong utama resistensi.

Komitmen yang lebih kuat dari sektor swasta juga diperlukan. Hingga bulan Desember 2015, 21 produsen obat-obatan yang dihubungi WHO belum sepakat untuk menghentikan produksi monoterapi artemisinin per oral. Lebih dari dua-pertiga industri ini beroperasi di Asia.

Perusahaan-perusahaan farmasi berbasiskan riset juga harus berinvestasi pada obat-obat anti malaria generasi terbaru. Walapun pengobatan berbasiskan artemisinin masih efektif, pada akhirnya obat ini harus digantikan – jika tidak akan berisiko menjadi bagian dari permasalahan.

Melalui kemitraan publik-swasta dengan Singapore Economic Development Board, Novartis Institute for Tropical Diseases memimpin pembentukan konsorsium riset untuk menjawab kebutuhan ini. Upaya ini telah menghasilkan dua calon obat anti malaria baru yang menjanjikan dan saat ini menjalani uji klinis Tahap 2 – tipe senyawa baru yang bisa menyembuhkan malaria melalui cara-cara yang berbeda dari terapi yang ada sekarang sehingga berpotensi memerangi kemunculan resistensi obat.

Lebih lanjutnya, skema kerja sama pengembangan produk, seperti Drugs for Neglected Diseases initiative dan Medicines for Malaria Venture, tengah menyatukan akademisi, perusahaan farmasi, dan lembaga donor untuk menghasilkan pengobatan potensial terbaru untuk penyakit-penyakit yang diabaikan. Kolaborasi ini bisa mempercepat supaya senyawa-senyawa menjanjikan lainnya bisa segera melewati proses pengembangan dan persetujuan obat yang panjang dan mahal.

Fake news or real views Learn More

Dua senyawa anti malaria lainnya pada uji klinis Tahap 2 kini tengah dikembangkan melalui dukungan dari Medicines for Malaria Venture – satu diantaranya oleh Takeda Pharmaceuticals dan US National Institutes of Health dan lainnya bersama perusahaan farmasi asal Perancis yaitu Sanofi.

Mungkin kita telah memenangkan banyak perang melawan malaria, tapi tanda-tanda peringatan yang lazim mengindikasikan bahwa kita bisa saja kalah. Penyebaran resistensi artemisinin di Asia saat ini mengancam kehidupan anak-anak di Afrika di masa depan. Itu sebabnya kita memerlukan tindakan efektif untuk mencegah penyebaran resistensi artemisinin, termasuk investasi sesegera mungkin pada pengobatan anti malaria generasi terbaru. Jika kita tidak mengindahkan sejarah penyakit malaria, kita akan tertimpa nasib buruk itu lagi.