Skip to main content

Cookies and Privacy

We use cookies to improve your experience on our website. To find out more, read our updated Cookie policy, Privacy policy and Terms & Conditions

komlosy1_uzenzenGettyImages_robotpersonconflict uzenzen/GettyImages

Mengapa Kecerdasan Buatan Tidak Akan Menghilangkan Pekerjaan

WINA – Penyebaran kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di segala sektor perekonomian telah meningkatkan kemungkinan – dan bagi sebagian orang, kekhawatiran – bahwa mesin nantinya akan menggantikan tenaga kerja manusia. Kecerdasan buatan tidak hanya akan menjalankan porsi kegiatan mekanis yang semakin besar seperti yang telah kita lihat sejak revolusi industri pertama, namun juga melakukan koordinasi pekerjaan dengan berkomunikasi langsung antar mesin (yang disebut dengan Internet of Things).

Sebagian orang menyanjung terobosan-terobosan untuk mewujudkan mimpi manusia untuk terbebas dari kerja dan yang lain menyalahkan kecerdasan buatan karena menghambat manusia untuk merasakan kepuasan atas pekerjaannya dan menghilangkan penghasilan serta keuntungan lain yang didapat dari pekerjaan. Menurut yang menyalahkan, semakin banyak pekerjaan yang akan hilang, sehingga menyebabkan pengangguran masal walaupun permintaan akan ahli perancangan proses dan produk akan meningkat. Kajian mengenai kemungkinan pengaruh kecerdasan buatan dan peningkatan automasi pada pasar tenaga kerja tentunya masih sangat spekulatif, namun kita tidak boleh meremehkan kemungkinan konsekuensi teknologi baru terhadap lapangan kerja.     

Banyak pengamat, yang sangat khawatir, telah mendorong adanya penghasilan dasar tanpa syarat dan tanpa kerja untuk menghalau kemungkinan pemiskinan. Namun, sebelum ekonom dan pengambil kebijakan mulai menghitung untung-rugi penghasilan dasar umum, kita harus mempertanyakan premis atas masa depan tanpa kerja.

Definisi dari kata “kerja” yang sempit yang ada saat ini bermula pada akhir abad ke sembilan belas saat tumbuhnya industri besar mendorong terjadinya pemisahan tempat kerja dan rumah. Pekerjaan di daerah-daerah industri telah menyempit menjadi kegiatan untuk mendapatkan upah yang dilakukan di luar rumah, sedangkan pekerjaan rumah tangga, pertanian, pertanian swasembada (subsistence agriculture), barter antar tetangga tiba-tiba dikeluarkan dari perhitungan nilai pekerjaan. Aktivitas-aktivitas ini tidak hilang dari perekonomian inti maupun pinggiran di dunia, namun aktivitas-aktivitas tersebut tidak dianggap sebagai bagian dari dunia kerja dan pelakunya tidak dianggap sebagai tenaga kerja. Tidak ada upah berarti tidak ada pengakuan, tidak ada catatan statistik, dan tidak ada akses terhadap tunjangan pemerintah.

Ahli ilmu sosial menyatakan bahwa pekerjaan rumah tangga yang tidak mendapatkan upah dan pekerjaan swasembada, seperti halnya perburuhan tani dan kerajinan tradisional merupakan kegiatan ekonomi sederhana yang akan segera digantikan oleh teknik-teknik modern dan akan mengalami komodifikasi penuh. Walaupun cara pandang ini menginspirasi pergerakan sosialis pada abad ke dua puluh, perkiraan ini tidak menjadi kenyataan. Benar bahwa ketergantungan pada upah meningkat. Namun, di sebagian besar negara-negara berkembang, upah tidak dapat mencukupi kebutuhan makanan suatu keluarga, sehingga pekerjaan rumah tangga dan pekerjaan swasembada harus dilakukan untuk mengompensasi kekurangannya. Sejak tahun 1980an, pekerjaan yang tidak diupah juga kembali ke negara-negara maju.      

Akhir dari masa rekonstruksi pasca Perang Dunia II pada akhir dekade 1960an dan awal dekade 1970an menandakan transisi dari pembagian kerja (division of labour) internasional yang lama ke yang baru. Rasionalisasi, menguatnya pengaruh lembaga keuangan, dan adanya sistem alih daya (outsourcing) atas operasi padat karya ke negara-negara yang industrinya sedang berkembang mematahkan hubungan antara pekerjaan seumur hidup dengan jaminan sosial yang telah menjadi ciri dari pasar tenaga kerja negara-negara maju.

Project Syndicate is conducting a short reader survey. As a valued reader, your feedback is greatly appreciated.

Take Survey

Seiring dengan percepatan digitalisasi dan globalisasi rantai komoditas, pemberi kerja semakin sering menawarkan kontrak kerja yang semakin fleksibel yang makin menekan pekerja untuk menerima kondisi kerja yang tidak menentu. Banyak orang yang harus melakukan beberapa pekerjaan, bergantung pada subsidi pemerintah, dan memperbanyak jam kerja tanpa upah untuk mengompensasi ketidakpastian kerja, masa-masa menganggur, dan hilangnya pekerjaan yang memberikan mereka tunjangan sosial. Kaum pekerja miskin yang tidak dapat hidup hanya dari upah mereka sekarang mengambil beberapa pekerjaan atau kontrak; di daerah pedesaan, mereka memenuhi sebagian kebutuhan makanan dan perumahan mereka melalui pertanian swasembada dan membangun rumah mereka sendiri.   

Namun peningkatan kegiatan tanpa upah tidak terbatas pada kaum miskin. Untuk memenuhi persyaratan kerja yang baru pada era kecerdasan buatan dan mesin, kaum berada pun harus merancang dan membangun kinerja fisik dan mentalnya, termasuk penampilan, motivasi, dan ketahanan. Walaupun mereka bergantung pada asisten rumah tangga untuk memasak, menjaga kebersihan rumah, dan mengasuh anak serta menggunakan jasa profesional untuk meningkatkan keterampilan dan dukungan psikologis, mereka masih harus menginvestasikan lebih banyak waktu untuk mengembangkan diri dan anggota keluarganya.

Hanya sebagian kecil dari semakin meningkatnya pekerjaan tanpa upah ini yang dapat dilakukan oleh kecerdasan buatan; apa pun pekerjaan yang dilakukan oleh kecerdasan buatan, maka hal itu akan menciptakan permintaan baru yang harus dipenuhi. Saat ini, masih sulit untuk menerka kegiatan apa yang akan timbul di masa depan karena hilangnya sentuhan personal dan mesin serta algoritma-algoritma menggantikan komunikasi antar manusia. Nantinya, seperti pergeseran kita dari sektor-sektor primer, ke sekunder, dan ke tersier yang telah kita hadapi di masa lalu, kekosongan yang timbul sebagai akibat dari pergeseran itu akan menumbuhkan sektor ekonomi baru dengan bentuk-bentuk kegiatan terkomodifikasi baru; hubungan timbal balik yang baru juga bisa mengisi pergeseran ini.      

Saat ini, berapa pun penghasilannya, hampir tidak ada orang yang mampu menolak pekerjaan tanpa upah (shadow work) yang diperlukan saat berkomunikasi, berbelanja, dan berhubungan dengan perbankan. Dengan memberi data kepada berbagai perusahaan, konsumen menjadi pekerja tanpa upah bagi perusahaan-perusahaan komersial dan mendorong kapitalisme global.

Baik kita melihat masa depan pekerjaan dari perspektif kebutuhan atau kepuasan, pekerjaan tidak akan hilang karena hadirnya kecerdasan buatan. Pengurangan pekerjaan dengan upah kemungkinan besar akan disertai dengan peningkatan kegiatan tanpa upah dan kegiatan swasembada serta pekerjaan tanpa upah modern lainnya.        

Skenario tersebut hanya baik jika kita mampu menemukan cara-cara baru untuk mendistribusikan pekerjaan dengan upah dan tanpa upah secara adil ke semua warga. Jika tidak, dunia kita bisa menjadi terpecah. Para pecandu kerja (workaholics) yang kaya akan memiliki pekerjaan yang berupah tinggi namun membuat stres, dan para pengangguran akan terpaksa melakukan strategi swasembada untuk menambah penghasilan dasar atau menerima bantuan sosial pemerintah.              

Value in the Age of AI banner image

Click here

https://prosyn.org/Xf94cOnid;

Edit Newsletter Preferences

Set up Notification

To receive email updates regarding this {entity_type}, please enter your email below.

If you are not already registered, this will create a PS account for you. You should receive an activation email shortly.