singer181_Lane TurnerThe Boston Globe via Getty Images_uscoronavirusclosedsign Lane Turner/The Boston Globe via Getty Images

Kapan Obat Pandemi Lebih Buruk daripada Penyakitnya?

MELBOURNE/OXFORD – Sampai hari ini, hampir setengah populasi dunia, atau hampir empat miliar orang, berada dalam lockdown sesuai dengan aturan pemerintah sebagai upaya untuk menghentikan penyebaran virus corona COVID-19.

Berapa lama lockdown akan dilakukan? Jawaban yang jelas, memparafrasakan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson, adalah hingga kita telah “mengalahkan” COVID-19. Tapi kapan tepatnya ini terjadi? Hingga tidak ada satu orang pun di dunia yang mengidap penyakit ini? Hal tersebut mungkin tidak akan terjadi. Sampai kita punya vaksin, atau pengobatan yang efektif? Mencapai hal tersebut mungkin perlu waktu satu tahun, atau lebih lama lagi. Apa kita ingin orang-orang tetap melakukan lockdown, masyarakat kita tetap di dalam rumah – restoran, taman, sekolah, dan kantor tutup – selama itu?

Sulit rasanya untuk mengatakan hal ini, tapi Presiden AS Donald Trump benar: “Kita tidak boleh menjalani pengobatan yang efek sampingnya lebih buruk dari penyakitnya.” Lockdown punya manfaat kesehatan: lebih sedikit orang akan meninggal karena COVID-19, serta penyakit menular lainnya. Tapi hal ini punya dampak buruk dalam bidang sosial dan ekonomi: isolasi sosial, pengangguran, dan banyaknya kebangkrutan, hanya tiga contoh dari dampak buruk yang ada. Dampak ini mungkin masih belum begitu terlihat, tapi sebentar lagi pasti akan terlihat jelas.

We hope you're enjoying Project Syndicate.

To continue reading, subscribe now.

Subscribe

or

Register for FREE to access two premium articles per month.

Register

https://prosyn.org/oYjn2p0id