11

Mengkaji Paradoks Produktivitas

WASHINGTON, DC – Selama lebih dari sepuluh tahun, productivity growth (pertumbuhan produktivitas) mengalami penurunan drastis di sebagian besar negara maju, meski banyak kemajuan telah diraih di sejumlah bidang seperti teknologi komputer, telepon seluler, dan robotika. Semua kemajuan tersebut seharusnya membangkitkan produktivitas; akan tetapi di Amerika Serikat, negara yang memimpin inovasi teknologi, rata-rata kenaikan produktivitas buruh di sektor bisnis pada kurun waktu 2004-2014 justru kurang dari setengah laju pertumbuhan di dekade sebelumnya. Apa yang sebetulnya terjadi?

Salah satu teori yang menonjol akhir-akhir ini adalah paradoks produktivitas yang sering disebut-sebut itu diklaim tidak ada. Pertumbuhan produktivitas hanya tampak menurun, sebab statistik yang digunakan untuk mengukurnya telah gagal menangkap keseluruhan prestasi-prestasi terbaru, terutama yang diperoleh berkat teknologi informasi dan komunikasi yang modern dan berkualitas tinggi. Jika harga tidak mencerminkan perbaikan mutu pada produk baru, estimasi price deflator berlebih dan real output terlampau rendah.

Chicago Pollution

Climate Change in the Trumpocene Age

Bo Lidegaard argues that the US president-elect’s ability to derail global progress toward a green economy is more limited than many believe.

Selain itu, sebagaimana diutarakan kelompok skeptis, ukuran standar produktivitas didasarkan pada PDB, yang menurut definisinya hanya mencakup output yang dihasilkan. Consumer surplus – satu hal yang tumbuh cepat seiring dengan kemampuan layanan berbasis internet, seperti mesin pencari Google dan Facebook membuat konsumen menikmati kepuasan baru, dengan market price mendekati nol – justru diabaikan.

Argumen di atas mengandung logika. Sesungguhnya, kajian terkini mengenai riset tentang produktivitas oleh Brookings Institution dan Chumir Foundation membenarkan bahwa kemajuan dari teknologi baru kurang diberi bobot yang layak, karena perhitungan hanya terkait dengan product quality dan consumer surplus.

Namun dua jenis standar tersebut, menurut hasil laporan, hanya menjelaskan segelintir porsi dari melemahnya kemajuan ekonomi. Lebih lanjutnya, kesenjangan tersebut sudah muncul sejak lama dan tampaknya tidak bertambah di tahun-tahun terakhir. Kesimpulannya jelas: melemahnya pertumbuhan produktivitas nyata terjadi.

Barangkali kita perlu menelaah komponen lain di tengah paradoks ini: inovasi teknologi. Banyak pihak menyatakan bahwa persoalan utamanya adalah inovasi-inovasi teknologi sekarang dinilai kurang signifikan dibandingkan pendahulunya. Teknologi informasi dan komunikasi (ICT) baru, menurut klaim para “techno-pessimists”, tidak menghasilkan manfaat ekonomi luas sebagaimana yang berhasil diciptakan dari mesin pembakaran dalam dan elektrifikasi. Di sisi lain, para “techno-optimists,” meyakini bahwa kemajuan ICT berpotensi menggerakkan pertumbuhan produktivitas; walaupun potensi tersebut memang lamban dan muncul secara bertahap.

Apa makna di balik angka yang ada? Data di tingkat perusahaan menunjukkan pertumbuhan produktivitas relatif stabil pada perusahaan-perusahaan yang berada di garis depan teknologi. Tetapi memang sejumlah bisnis yang kurang maju secara teknologi, umumnya bisnis lebih kecil, mengalami pertumbuhan yang sangat rendah. Hal ini menggambarkan bahwa permasalahan sesungguhnya bukan pada teknologi itu sendiri tapi lambatnya penyebaran teknologi.

Terdapat juga unsur makroekonomi dari penurunan laju produktivitas, diakibatkan oleh rendahnya aggregate demand. Menurut mantan menteri keuangan Amerika Serikat Larry Summers, ketika tingkat investasi yang diperkirakan lebih rendah dari tingkat tabungan meskipun tingkat suku bunganya nol, merosotnya pertumbuhan akan menurunkan PDB dan pertumbuhan produktivitas, lalu menyebabkan apa yang disebut “secular stagnation.”

Namun tentu saja argumen supply and demand sangat berkaitan erat. Benar bahwa ekspektasi techno-pessimist, yang mungkin menurunkan profit yang diperkirakan, dapat menekan investasi. Sementara itu, penumpukan pendapatan berlebih di atas – sebuah kondisi yang mungkin diperparah dengan kurang meratanya penyebaran teknologi – menyebabkan kelebihan tabungan.

Strategi apapun untuk mengatasi masalah-masalah yang melandasi rendahnya pertumbuhan produktivitas – mulai dari kurang meratanya penyebaran teknologi hingga ketimpangan pendapatan – harus memecahkan isu keterbatasan keahlian dan ketidaksesuaian yang mempengaruhi kemampuan pasar tenaga kerja untuk memperbaikinya. Kini, pekerja, terutama dari kelompok berpendapatan rendah, lambat merespon permintaan pekerjaan yang menuntut keahlian lebih tinggi, karena keterbatasan pendidikan dan pelatihan, kekakuan pasar tenaga kerja, dan mungkin juga faktor geografis. Faktor-faktor tersebut, ditambah dengan rent capture dan winner-take-all markets, akan mengkukuhkan ketidaksetaraan dan meredam daya saing pasar.

Merangsang investasi juga penting. Di negara-negara maju dan emerging, tingkat investasi merosot pada awal krisis keuangan global tahun 2008 dan belum kembali ke tingkat normal sebelum krisis. Namun inovasi biasanya melekat pada kepemilikan modal dan memerlukan investasi untuk menyebarkannya di pasar.

Fake news or real views Learn More

Untungnya para pemimpin dunia sadar atas kewajiban yang harus mereka penuhi. Pada pertemuan G20 summit di Hangzhou, Cina, kepala negara dan pemerintahan menekankan pentingnya peningkatan investasi dan percepatan perubahan-perubahan struktural untuk menambah produktivitas dan merangsang potensi pertumbuhan. Ini merupakan langkah awal menuju pendekatan terintegrasi yang memecahkan segala benturan yang menghambat penyebaran teknologi, melemahkan daya saing, dan memperburuk ketimpangan.

Kita tidak tahu persis bagaimana teknologi-teknologi baru ini akan berdampak pada perekonomian dunia di jangka panjang. Namun satu hal yang pasti: paradoks produktivitas itu nyata dan berpengaruh pada memburuknya ketidaksetaraan di tengah masyarakat. Gunakan momentum yang tercipta sekarang untuk mengatasinya.