6

Vaksin untuk Populasi yang Menua

SEATTLE – Populasi dunia semakin bertambah banyak – dan menua. Populasi lansia sudah hampir melampaui jumlah penduduk yang lebih muda – pada tahun 2050, jumlah populasi berusia 65 tahun ke atas dapat berjumlah tiga kali lebih banyak dari pada populasi yang berusia di bawah empat tahun – banyak orang khawatir bahwa beban anggaran pemerintah, sistem layanan kesehatan, dan ekonomi menjadi terlalu besar sehingga tidak lagi dapat dipenuhi pemerintah. Tetapi, sesungguhnya ada yang dapat dilakukan guna meringankan beban tersebut: yaitu dengan meningkatkan kesehatan para lansia.

Ketika kita menua, tubuh kita mengalami perubahan yang kompleks yaitu, di antaranya, semakin melemahnya kemampuan tubuh untuk mengatasi infeksi dan membangun imunitas (hal ini disebut immunosenescence). Itu sebabnya mengapa suatu penyakit ketika diidap oleh orang dewasa yang lebih tua cenderung menjadi lebih parah, dan lebih besar dampaknya terhadap kualitas hidup, disabilitas, dan mortalitas, jika dibandingkan dengan dampak yang dialami pasien yang lebih muda ketika mengidap penyakit yang sama.

Erdogan

Whither Turkey?

Sinan Ülgen engages the views of Carl Bildt, Dani Rodrik, Marietje Schaake, and others on the future of one of the world’s most strategically important countries in the aftermath of July’s failed coup.

Sederhananya, sistem imunitas orang dewasa yang menua membutuhkan bantuan tambahan. Kebutuhan ini yang dapat dijawab oleh vaksin.

Vaksin paling sering dibahas ketika dikaitkan dengan anak-anak berusia dini, yang perlu menerima serangkaian inokulasi terhadap berbagai penyakit anak-anak seperti campak dan polio. Vaksinasi di usia anak-anak adalah salah satu kisah keberhasilan terbesar di abad ke dua puluh , yang sering kali disebut dengan pembangunan imunitas kelompok (seluruh komunitas terlindungi secara tidak langsung, termasuk mereka yang tidak dapat diimunikasi karena alasan penyakit atau umur, karena sebagian besar dari anggotanya telah diimunisasi).

Tidak ada alasan mengapa orang dewasa tidak dapat memanfaatkan prinsip keilmuan yang sama. Faktanya, orang dewasa dapat menuai manfaat yang lebih luas – termasuk perlindungan bagi keluarga dan tetangga mereka – ketika menerima vaksinasi. Sayangnya, baru sedikit orang dewasa yang memanfaatkan layanan ini.

Orang dewasa perlu memahami bahwa beberapa infeksi yang umum yang rentan diidap oleh tubuh sesungguhnya dapat dicegah oleh vaksin. Misalnya herpes zoster (shingles), infeksi yang dapat menular pada setiap orang yang pernah mengidap cacar air dalam siklus hidupnya (yaitu, 95% orang dewasa di seluruh dunia). Di Amerika Serikat, kurang lebih sekitar sepertiga dari populasinya akan terkena herpes zoster suatu saat dalam masa hidupnya.

Kasus infeksi herpes zoster mungkin tidak membahayakan dan tidak terlalu menimbulkan rasa sakit ketika menyerang individu yang berusia tiga puluhan. Tetapi, penyakit ini lebih sering menyerang individu yang berusia 50 ke atas – yang mana dapat menimbulkan rasa sakit yang cukup besar. Orang dewasa yang lebih tua ketika mengidap herpes zoster dapat mengalami rasa sakit yang amat sangat dan komplikasi yang serius sehingga menyulitkan untuk tidur, keluar rumah, atau melakukan kegiatan sehari-hari. Jika mereka telah diimunisasi – Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit / Centers for Disease Control and Prevention menganjurkan pemberian imunisasi ketika berusia 60 – maka kondisi yang menyakitkan dan terkadang sampai melumpuhkan ini dapat dihindari.

Influenza juga merupakan penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin. Meskipun virus influenza dapat menyebabkan penyakit pada semua orang di seluruh rentang usia, para lansia – yaitu mereka yang berusia di atas 65 tahun ke atas – jauh lebih besar jumlahnya ketika dilihat dari jumlah yang sampai meninggal dunia dan harus dirawat di rumah sakit, lansia dengan usia tertua akan memiliki risiko terbesar.

Permasalahannya, orang yang berusia lebih tua lebih besar kemungkinannya untuk mengidap satu atau lebih kondisi kesehatan yang menjadi penyebabnya, seperti penyakit jantung atau diabetes. Akibatnya mereka juga lebih besar kemungkinannya untuk mengidap penyakit komplikasi yang terkait dengan influenza. Analisis yang sistematis di antara populasi lansia menemukan bahwa vaksinasi influenza – yang harus diberikan setiap tahun, karena strain influenza yang baru terus bermunculan – tidak hanya berhasil melindungi orang-orang sehigga tidak terkena influenza, tetapi juga hemat dalam segi biaya.

Masih banyak penyakit lainnya yang dapat memperoleh manfaat dari vaksinasi. Dipteri yang disebabkan oleh bateri aerobik Corynebacterium diphtheria gram positif, adalah sebuah penyakit akut, yang dimediasi racun yang dapat menimbulkan infeksi jalur pernapasan bagian atas atau infeksi kulit. Sebagian besar komplikasi dipteri – seperti myocarditis (inflamasi lapisan tengah jantung) dan neuritis (inflamasi di sekitar saraf atau pada saraf) – disebabkan oleh dampak dari racun tersebut. Tingkat kematian secara keseluruhan adalah 5-10%, tingkat kematian lebih tinggi pada populasi di bawah usia lima tahun dan di atas 40 tahun.

Tetanus, yang sering dikenal dengan sebutan “kejang-kejang / lockjaw,” adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri yang menyerang sistem saraf, menyebabkan penegangan otot yang menyakitkan di sekujur tubuh. Penyakit ini tidak mengakibatkan jumlah kematian yang sangat tinggi di antara lansia; tetapi karena penyakit ini sesungguhnya dapat dicegah, maka tidak dapat diterima jika masih ada yang terjangkit.

Kemudian ada pertussis. Belum diketahui secara tepat hingga sejauh mana penyakit ini mempengaruhi kelompok lansia, hal ini dikarenakan penyakit ini kurang terdiagnosis dan kurang terlaporkan di seluruh kelompok usia. Tetapi Komite Penasihat untuk Praktik Imunisasi / Advisory Committee on Immunization Practicespercaya bahwa beban penyakit ini setidaknya 100 kali lebih besar dari yang dilaporkan saat ini.

Vaksin Tdap, yang melindungi orang dewasa dari dipteri, tetanus, dan pertussis, dapat mengurangi beban dengan cukup signifikan. Vaksin lainnya, yang disebut Td, melindungi penerimanya dari tetanus dan dipteri, tetapi tidak dari pertussis. Vaksin pendukung Td harus diberikan setiap sepuluh tahun.

Yang terakhir, penyakit yang disebut pneumokokus, adalah infeksi bakteri yang disebabkan oleh Streptococcus pneumoniae, yang dapat menyebabkan pneumonia, meningitis, atau infeksi aliran darah (sepsis), tergantung dari komplikasi yang ditimbulkan, gejala yang muncul dapat berupa batuk, timbulnya demam secara tiba-tiba, nyeri di dada,  menggigil, nafas pendek, leher kaku, disorientasi, dan sensitivitas terhadap cahaya.

Support Project Syndicate’s mission

Project Syndicate needs your help to provide readers everywhere equal access to the ideas and debates shaping their lives.

Learn more

Penyakit pneumococcal dapat mengakibatkan kerusakan otak, ketulian, kerusakan jaringan (bahkan memungkinkan perlunya dilakukan amputasi pada salah satu bagian tubuh), dan kematian. Di AS saja, pneumococcal pneumonia, infeksi aliran darah, dan meningitis memakan puluhan ribu korban setiap tahunnya, termasuk 18,000 orang dewasa berusia 65 tahun ke atas. Terdapat dua jenis vaksin pneumococcal utama untuk orang dewasa yang lebih tua –23-valent pneumococcal polysaccharide vaccine (PPV23) dan pneumococcal conjugate vaccine (PCV13) – dapat memperbaiki situasi ini.

Berkat program imunisasi anak, jumlah anak-anak yang meninggal setiap tahunnya karena penyakit yang dapat dicegah oleh vaksin menjadi lebih sedikit. Sekarang diperlukan upaya terkonsentrasi yang serupa untuk menghasilkan manfaat yang serupa untuk orang dewasa, terutama pada lansia. Dengan memandang vaksinasi sebagai prioritas seumur hidup, kita dapat membantu setiap orang untuk tetap aktif dan produktif selama mungkin, sehingga memberikan manfaat pada diri mereka sendiri, komunitasnya, dan dunia.