10

Inovasi dan Ketidakpuasan Atasnya

CAMBRIDGE – Inovasi teknologi sering dipuji atas kemampuannya mengatasi tantangan-tantangan terbesar dalam pembangunan, meningkatkan pertumbuhan ekonomi, dan mendorong kemajuan masyarakat. Akan tetap inovasi juga sering menghadapi hambatan dalam penerapannya, terkadang pemerintah dengan cepatnya melarang teknologi baru – walaupun teknologi tersebut bisa sangat berfaedah.

Contohnya mesin cetak. Teknologi baru adalah salah satu anugerah bagi agama-agama di dunia, yang seketika membuat produksi dan penyebaran teks-teks suci keagamaan menjadi efisien. Namun Kesultanan Ottoman melarang pencetakan Al-Qur’an selama hampir 400 tahun. Pada tahun 1515, Sultan Selim I menetapkan bahwa “pencetakan akan dikenakan hukuman mati”.

Chicago Pollution

Climate Change in the Trumpocene Age

Bo Lidegaard argues that the US president-elect’s ability to derail global progress toward a green economy is more limited than many believe.

Kenapa teknologi yang sedemikian bermanfaat begitu dikecam? Sebagaimana saya tuliskan dalam buku berjudul Innovation and Its Enemies: Why People Resist New Technologies, jawabannya bukan karena seseorang takut akan hal-hal yang tidak diketahuinya. Sebaliknya, penolakan terhadap kemajuan teknologi biasanya bersumber dari ketakutan bahwa gangguan status quo akan mengancam lapangan kerja, pendapatan, kekuasaan, dan identitas. Pemerintah seringkali memutuskan lebih baik melarang teknologi baru daripada beradaptasi.

Dengan melarang pencetakan Al-Qur’an, pemimpin Ottoman menunda hilangnya pekerjaan ahli-ahli kitab suci dan kaligrafi (mayoritas diantaranya adalah perempuan yang dimuliakan atas penguasaan mereka terhadap seni). Tetapi melindungi lapangan kerja bukanlah dorongan utama para pemimpin tersebut; bagaimanapun juga, sejak tahun 1727, mereka mengizinkan pencetakan naskah-naskah non-keagamaan, meskipun diprotes ahli kaligrafi yang menanggapi fatwa tersebut dengan aksi menempatkan botol tinta dan pensil mereka ke dalam peti mati dan melakukan marching ke High Porte di Istanbul.

Pengetahuan agama adalah urusan berbeda. Pengetahuan itu bagaikan lem yang merekatkan masyarakat dan sebuah pilar dalam kekuasaan politik, jadi mempertahankan monopoli atas penyebaran pengetahuan dinilai penting dalam menjaga kekuasaan pemimpin Ottoman. Mereka khawatir akan mengalami seperti paus di Gereja Katolik yang kehilangan otoritasnya pada masa Reformasi Protestan, ketika mesin cetak memainkan peran kunci dalam menyebarkan ide-ide baru pada pemeluk agama.

Tentu saja, munculnya hambatan-hambatan terhadap inovasi teknologi tidak selalu dimulai oleh pemerintah. Kelompok tertentu yang memiliki vested interest dalam status quo akan mendorong pemerintah untuk memberlakukan larangan. Mereka bisa juga melakukan demonstrasi, seperti yang dilakukan ahli kaligrafi pada masa Kesultanan Ottoman, dan penentang produk kentang hasil rekayasa genetika pada tahun 2012 di Irlandia, yang melakukan aksi marching di kota Dublin guna menunjukkan penolakannya atas “akhir dari makanan enak” (death of good food).

Pesaing teknologi baru juga menyebarkan fitnah, informasi yang salah, dan bahkan mendiskreditkan – sebuah pendekatan yang jelas berhasil di masa lalu. Pada tahun 1674, kaum perempuan Inggris mengajukan petisi melawan kopi, menuduh bahwa kopi menyebabkan kemandulan sehingga hanya layak dikonsumsi orang yang berusia di atas 60 tahun – pasar yang sangat terbatas pada saat itu. Tahun berikutnya, Raja Charles II memerintahkan penutupan kedai-kedai kopi, meskipun beliau mungkin lebih terdorong oleh keinginan untuk melindungi pangsa pasar minuman lokal, seperti minuman beralkohol dan teh sebagai minuman baru, daripada sebuah rumor tentang kemandulan.

Pada tahun 1800an, industri produk olahan susu (dairy) memprakarsai kampanye informasi yang salah tentang margarin, mengklaim bahwa margarin menyebabkan kemandulan, gangguan pertumbuhan/stunting, dan kebotakan pada pria. Dicemooh sebagai “bull butter”, penentangnya menyatakan bahwa margarin terbuat dari “daging sapi berpenyakit dan busuk, kuda tiren, babi tiren, anjing tiren, anjing terkena rabies, dan domba sakit”.

Sebagai tanggapan, pemerintah federal menetapkan pembatasan terbaru atas margarin, meliputi banyak hal mulai dari pelabelan (seperti pada produk makanan hasil rekayasa genetika), penggunaan pewarna buatan, dan gerakan antar negara bagian. Pajak baru juga semakin menegaskan keunggulan mentega. Pada tahun 1886, seorang anggota Kongres asal Wisconsin menyatakan secara tegas “niatnya untuk memusnahkan pembuatan bahan-bahan berbahaya melalui pajak yang sedemikian tinggi hingga produksinya tidak lagi menguntungkan atau orang tidak lagi ingin membelinya (taxing it out).”

Resistensi terhadap traktor di awal tahun 1900an terjadi dalam bentuk agak berbeda. Produsen dan pedagang binatang pengangkut (draft animals) takut akan mekanisasi, yang bisa mengancam kehidupan mereka. Namun mereka tahu bahwa mereka tidak mampu menyempurnakan produknya lebih cepat dibandingkan para insinyur, sehingga memberhentikan penyebaran traktor dipandang mustahil. Sebaliknya, mereka berupaya mencegah penghapusan hewan ternak dengan memulai kampanye yang menggembar-gemborkan keunggulan hewan ternak. The Horse Association of America menerbitkan selebaran bertuliskan “keledai adalah satu-satunya traktor paling andal yang pernah diciptakan.” Kelompok ini juga menyatakan bahwa kuda bisa berkembang biak, sementara traktor justru susut nilainya.

Masyarakat umumnya tidak pernah menolak kemajuan teknologi karena ketidakpedulian semata. Justru masyarakat berjuang melindungi kepentingan dan penghidupan mereka, baik itu menjalankan suatu peternakan atau pemerintahan. Seiring dengan kita terus berusaha mengoperasikan teknologi-teknologi terbaru untuk memperbaiki kesejahteraan manusia dan lingkungan hidup, pembedaan ini penting untuk dipahami.

Fake news or real views Learn More

Untuk menghindari timbulnya hambatan-hambatan terhadap kemajuan teknologi, kita perlu memahami dan mengatasi segala kelemahannya. Contohnya, ketika mesin menjadi semakin cakap, robot bisa menggantikan sejumlah pekerja. Hanya sejenak sebelum robot-robot tersebut mampu tidak sekadar menjalankan pekerjaan-pekerjaan rumit, tapi juga belajar lebih cepat daripada pekerja yang dilatih. Asumsi bahwa tenaga kerja manusia tidak akan bernasib sama seperti binatang pengangkut tidaklah logis.

Tetapi jika kita mengakui kelemahan-kelemahan tersebut dan menanggulanginya secara terbuka, kita bisa menghindari reaksi buruk akibat inovasi teknologi yang berpotensi menguntungkan, termasuk segala kemajuan dalam robotik. Kuncinya adalah fokus pada “inovasi yang inklusif”, menjamin bahwa siapapun yang mungkin merugi akibat penghapusan teknologi lama akan mendapat peluang besar untuk memperoleh manfaat dari teknologi baru. Hanya dengan melakukan itu kita bisa mengoptimalkan kreativitas manusia.