0

Menghentikan Perang terhadap Anak-anak

LONDON – Tepat dua puluh tahun lalu di bulan September, Majelis Umum PBB menerima laporan dari mantan Menteri Pendidikan Mozambique Graça Machel menguraikan dampak konflik bersenjata terhadap anak-anak. Melalui rincian gambaran suram serangan-serangan sistematis, termasuk pembunuhan, pemerkosaan, dan rekrutmen paksa ke dalam kelompok bersenjata, Machel menyimpulkan: “Ini kondisi yang mana harkat dan martabat yang mendasar hampir hilang sepenuhnya…mendekati jurang matinya nilai-nilai kemanusiaan.”

Machel salah. Bukan apa-apa, satu generasi setelahnya, kemanusiaan merosot semakin dalam dan moralitas semakin hampa. Anak-anak yang hidup di zona konflik menjadi target kekerasan yang merajalela dan ketentuan-ketentuan HAM yang ditetapkan PBB yang seharusnya melindungi mereka justru dilukai oleh impunitas.

Pada peringatan dua puluh tahun laporan Machel, komunitas internasional harus mengatakan cukup! dan menghentikan perang terhadap anak-anak.

Perang berlangsung dalam berbagai bentuk. Umumnya, anak-anak menjadi target utama. Pemerkosaan, perkawinan paksa, perbudakan, dan penculikan merupakan taktik-taktik standar yang dipergunakan kelompok-kelompok seperti ISIS di Irak dan Suriah, Boko Haram di Nigeria bagian utara, dan organisasi sejenis di Afghanistan, Pakistan, and Somalia. Pembunuhan terhadap anak-anak bersekolah mereka anggap sebuah strategi militer yang sah.