1

Mengoptimalkan Potensi Remaja Putri

LAGOS – Setiap kali seseorang bicara mengenai perempuan usia remaja, mungkin yang terlintas di pikiran anda adalah stereotip umum seperti “cewe gaul dan gemar merundung” atau tipikal anak SMA pemurung yang mengunci diri di kamarnya. Meskipun pada kenyataannya remaja putri termasuk salah satu kelompok paling termarginalkan di dunia, mereka juga memiliki potensi besar yang bisa meningkatkan pembangunan.

Kini, para pemudi terus-menerus dikekang dan tidak mendapat kebebasan menentukan nasibnya sendiri. Lebih dari 32 juta perempuan muda di negara-negara termiskin mengalami putus sekolah. Setiap harinya 39.000 perempuan di bawah usia 18 tahun dijadikan istri. Bagi sebagian besar perempuan, hak-hak reproduksi seperti impian belaka.

Erdogan

Whither Turkey?

Sinan Ülgen engages the views of Carl Bildt, Dani Rodrik, Marietje Schaake, and others on the future of one of the world’s most strategically important countries in the aftermath of July’s failed coup.

Kondisi ini tercela, berakibat fatal, dan ceroboh secara ekonomi. Ketika ditanggulangi, kita akan melindungi jutaan anak-anak sekaligus memecahkan sejumlah tantangan besar yang tengah kita hadapi.

Tidak sedikit kesulitan yang disebabkan dari pertumbuhan penduduk dengan cepat. Meskipun jumlah penduduk relatif stabil di banyak negara, ada beberapa kawasan yang mengalami kenaikan populasi cukup besar, terutama kawasan yang mana kesuksesan perempuan dibatasi oleh beragam tantangan. Di Afrika, populasi penduduk diperkirakan akan berlipat ganda pada tahun 2050 dan naik 4 kali lipat di akhir tahun 2100.

Jika perempuan muda ditempa dan diberi pengetahuan, keterampilan, dan alat untuk menghindari kehamilan tidak diinginkan dan mengambil kendali atas masa depannya, tingkat fertilitas akan merosot tajam. Kelompok perempuan terdidik dan berdaya akan menjadi agen-agen yang mengusung perubahan positif di dalam komunitasnya.

Melindungi segenap remaja putri di dunia memang tidak mudah. Tapi secara global, negara telah mengikat janji melalui rumusan Tujuan-tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) yang ambisius dan harus dipenuhi pada akhir tahun 2030, termasuk komitmen mengakhiri pernikahan anak di bawah umur dan menjamin pendidikan anak usia sekolah. Bagaimanapun juga, agar setiap negara mampu melindungi dan memberdayakan perempuan, mereka harus merangkul pelaksanaan salah satu inisiatif pokok, yaitu perluasan akses pada vaksin human papillomavirus (HPV), penyebab utama kanker serviks.

Dikenal sebagai penemuan relatif baru, vaksin HPV bekerja paling efektif pada perempuan usia 9-13 tahun yang tidak pernah terinfeksi virus tersebut, yang berarti belum aktif secara seksual. Syarat usia tersebut membedakan vaksin HPV dari jenis vaksin lain bagi anak-anak yang umumnya diberikan ketika masih bayi.

Sekilas penemuan ini tampak mengecewakan, karena vaksin HPV tidak serta-merta diterima sebagai imunisasi wajib layaknya jenis vaksin lain. Faktanya, syarat usia memberi peluang besar untuk menjangkau perempuan usia remaja dan menyediakan layanan kesehatan penting lainnya, seperti pendidikan reproduksi, keberhasihan selama menstruasi, pencegahan atau pengobatan penyakit cacingan, pemeriksaan gizi, suntikan vitamin, dan pelayanan general check-up.

Untungnya, pemerintah di negara-negara berkembang semakin sadar dan menuntut pemberian vaksin HPV. Ini sangat logis, terutama karena sebagian besar korban, yaitu 85% dari 266.000 perempuan yang meninggal dunia akibat kanker serviks setiap tahunnya – satu perempuan setiap dua menit – berasal dari negara-negara berkembang. Apabila tidak dicegah, angka tersebut diperkirakan akan bertambah hingga 416.000 pada tahun 2035, bahkan melebihi angka kematian ibu. Meskipun vaksin HPV bukanlah solusi efektif bagi sebagian negara berkembang (vaksin ini mencegah 1.500 kematian per 100.000 penerima vaksin), pada umumnya vaksin tersebut menjadi satu-satunya solusi, karena negara-negara termiskin di dunia memiliki keterbatasan dalam mendeteksi dan mengobati kanker serviks. Ini juga salah satu alasan diselenggarakannya konferensiStop Cervical, Breast and Prostate Cancer di Afrika beberapa pekan lalu, yang dihadiri oleh dokter ahli kanker, pejabat pemerintah, pemimpin sektor swasta, dan perwakilan masyarakat sipil.

Ada kabar baik: landasan untuk inisiatif vaksin HPV sudah dibentuk. Pada tahun 2013, sebelum SDGs disepakati, Gavi, the Vaccine Alliance, organisasi yang saya pimpin, menerapkan langkah-langkah untuk membuat vaksin HPV tersedia dan terjangkau bagi negara-negara miskin. Sejak itu, 23 negara sudah memperkenalkan vaksin sebagai demonstration pilot projects, serta bantuan 5 set tambahan.

Tapi kita masih dihadapkan dengan beberapa tantangan besar. Walaupun sesi vaksinasi yang dilakukan di sekolah-sekolah terbukti berhasil, upaya ini tidak cukup untuk menjangkau anak-anak perempuan yang hidup di negara dengan tingkat kehadirannya rendah, terutama di wilayah perkotaan. Kecuali kita sanggup menemukan cara merangkul kelompok-kelompok paling rentan, tidak peduli besarnya kemauan politik atau jumlah dana yang dikucurkan, semua itu tidak akan cukup untuk memenuhi SDGs yang bisa melindungi perempuan dan anak-anak.

Sejauh ini hanya dua negara penerima bantuan Gavi dengan angka partisipasi relatif tinggi yang sudah memperkenalkan vaksin di tingkat nasional, dengan demikian belum diketahui seberapa sulit cara penanggulangan tantangan tersebut. Seiring beralihnya kita dari demonstration projects menuju sistem scaling-up nasional secara bertahap yang lebih efisien dan hemat biaya, gambaran dan ekspektasi yang diperoleh akan lebih utuh.

Support Project Syndicate’s mission

Project Syndicate needs your help to provide readers everywhere equal access to the ideas and debates shaping their lives.

Learn more

Ada beberapa gagasan untuk menjemput remaja perempuan yang tidak bersekolah, salah satunya melalui pusat kesehatan masyarakat. Sekarang, perempuan biasanya mendatangi klinik kesehatan ketika hamil atau membawa bayinya untuk diimunisasi. Tapi dengan melibatkan pimpinan setempat dan orangtua untuk menaikkan kesadaran mengenai pencegahan kanker serviks dan mengatasi masalah kesehatan lainnya, kita bisa menghasilkan permintaan dan menambah jumlah pemeriksaan di puskemas atau klinik lokal.

Akses pada vaksin HPV bagi semua perempuan akan memperbaiki taraf hidup jutaan warga, tidak hanya dengan penurunan jumlah infeksi kanker serviks, tapi juga penyediaan layanan penting lainnya. Peluang tersebut harus senantiasa diingat oleh dokter ahli kanker, pejabat pemerintah, dan perwakilan sektor swasta dan masyarakat sipil. Ini adalah kewajiban bagi semua pemerintah di 193 negara yang menandatangi SDGs. Jangan kecewakan mereka.