15

Mengendalikan Efek Nasionalisme terhadap Perekonomian

LAGUNA BEACH – Hasil referendum Inggris bulan Juni lalu yang memutuskan hengkang dari Eropa masih dipantau dengan ketat. Komunitas internasional – terutama penduduk Eropa – senantiasa menantikan perkembangan Brexit, tidak hanya untuk mengendalikan akibatnya tapi juga memperoleh gambaran tentang kemungkinan kejadian apabila hasil pemungutan suara berikutnya memihak agenda gerakan nasionalis.

Agenda politik mereka adalah kemunculan kembali. Di Jerman, yang menyelenggarakan pemilihan umum tahun 2017, dukungan terhadap gerakan sayap kanan Alternative for Germany (AfD) terus bertambah, diperkuat dengan keberhasilan partai tersebut pada pemilihan umum negara bagian baru-baru ini. Di Perancis, pimpinan the National Front, ingin memenangkan agenda nasionalisme pada pemilihan presiden tahun mendatang.

Chicago Pollution

Climate Change in the Trumpocene Age

Bo Lidegaard argues that the US president-elect’s ability to derail global progress toward a green economy is more limited than many believe.

Tren tersebut tidak hangat di Eropa saja. Di Amerika Serikat, calon presiden dari Partai Republik Donald Trump menjanjikan pemberlakuan trade tariff terhadap Cina, membangun tembok pembatas dengan Meksiko, dan melarang warga muslim memasuki negaranya.

Lalu apa konsekuensi ekonomi yang mungkin dilahirkan dari dukungan terhadap gerakan nasionalisme? Belajar dari referendum Brexit, efek seketika ialah gejolak pada pasar keuangan dan kejutan bagi konsumen dan kepercayaan investor. Namun ini bisa mengarah pada ketenangan finansial dan ekonomi. Pertanyaan sebenarnya adalah apa yang terjadi setelahnya.

Tentu ketenangan yang berlangsung di Britania Raya masih lemah. Prediksi pra-referendum bahwa dukungan untuk hengkang akan menyebabkan ketidakstabilan finansial dan kerugian ekonomi yang besar masih banyak kemungkinan terjadi. Seberapa parah efeknya bergantung pada bagaimana Inggris dan sejawatnya di Eropa mendiskusikan perpisahan mereka, terutama mengenai hak/kapasitas passporting yang ditegakkan dalam perdagangan bebas.

Tetapi sejauh ini, ketidakstabilan bisa dikendalikan. Ini berkat pemerintah baru di bawah Perdana Menteri Theresa May, yang dengan sengaja menerapkan pendekatan gradual dalam proses Brexit. Theresa May juga menegaskan bahwa ia dan kabinetnya tidak berkewajiban untuk menerbitkan laporan kemajuan secara berkala.

Bank of England juga berkontribusi melalui suntikan dana secara cepat. Selain itu, Bank of England juga meyakinkan pelaku pasar dengan tegas bahwa instansinya berkomitmen untuk menjaga kestabilan keuangan dan mencegah kekacauan yang bisa disebabkan oleh kegagalan pasar.

Kewaspadaan BoE dilengkapi dengan fakta bahwa kesepakatan-kesepakatan ekonomi dan keuangan dengan Eropa belum diganti, memberi keyakinan pada perusahaan dan warga untuk menunda perubahan sikapnya. Kini mereka menunggu apakah Inggris akan melakukan perundingan rencana Brexit yang “lunak” atau “keras” sebelum melakukan sepak terjang apapun.

Kemampuan Inggris memulihkan ketenangan di tengah ketidakpastian finansial dan masa depan perekonomian menunjukkan betapa aktor-aktor politik bisa mengendalikan segala guncangan dan kejutan melalui pendekatan yang tepat. Jikalau pemimpin Inggris terburu-buru membubarkan sistem perdagangan dan semua perjanjian ekonomi dan keuangan yang berlaku dengan Eropa, sebelum membangun penggantinya yang solid dan komprehensif, kondisinya mungkin lebih buruk. Setiap orang atau gerakan yang mengusung kepentingan inward-looking yang serupa – baik itu partai nasionalis di Eropa yang ingin membatasi konektivitas internasional atau calon presiden di Amerika Serikat yang mengusulkan bea masuk/pajak yang memicu timbal balik dari mitra dagangnya – harus memperhatikan hal ini.

Tentu saja dalam kondisi sekarang, ada keterbatasan atas efek positif kepemimpinan Inggris yang kuat. Ketika rincian perceraian Inggris dengan Uni Eropa akhirnya diumumkan, perusahaan dan warga akan bereaksi, terutama apabila semua hubungan dagang, perekonomian, dan keuangan dengan Uni Eropa mengalami perubahan signifikan. Reaksi tersebut, hampir dipastikan, akan melukai pertumbuhan ekonomi dan menyulut ketidakstabilan keuangan.

Akan tetapi, pendekatan bertahap dan penuh kehati-hatian sangat diperlukan. Pemerintah Inggris harus sedapat mungkin melaksanakan perundingan urusan-urusan paling sensitif dengan mitra-mitranya di Uni Eropa secara rahasia. Ketika tiba waktunya mengumumkan perubahan-perubahan, pemerintah harus melakukannya dalam konteks program reformasi dalam negeri lebih luas yang menargetkan pertumbuhan inklusif dan penguatan kestabilan keuangan yang kuat.

Fake news or real views Learn More

Tidak mudah memang menerbangkan pesawat dengan lancar sembari mengganti mesinnya. Itu adalah cerminan tantangan yang dihadapi pemerintahan di bawah Theresa May. Pemerintah Inggris tengah menyiapkan manuver khusus dengan mengenali dan mengatur komponen-komponen mesin baru sekaligus merencanakan gerakan cepat; dengan cara itu lah mereka mampu mengganti mesin perdagangan Eropa tanpa berisiko mengalami guncangan berat atau bahkan kecelakaan yang membahayakan.

Meskipun dilengkapi dengan rencana bertahap secara mendalam, pemerintah di bawah kepemimpinan Theresa May harus menunjukkan ketahanan dan ketangkasan lebih tinggi dibandingkan pendahulunya, untuk mengelola transisi tanpa menghentikan pertumbuhan dan menghambat kestabilan. Sama halnya dengan tokoh atau partai politik nasionalis manapun yang berkuasa nantinya. Apakah mereka sanggup mengatasi kendala yang sedemikian rumitnya, itu adalah isu yang perlu disikapi.