4

Memenuhi Kebutuhan Air di Timur Tengah

FEZ – Temuan World Water Development Report keluaran PBB menegaskan kekhawatiran banyak pihak: ratusan ribu penduduk Timur Tengah dan Afrika Utara (Middle East and North Africa/MENA) – terutama Aljazair, Yordania, Libya, Maroko, Palestina, Sudan, Suriah, dan Yaman – menghadapi kelangkaan air terburuk dalam sejarah pada tahun 2016 ini. Alih-alih berkah, justru tertimpa musibah. Padahal negara-negara tersebut mengupayakan pertumbuhan ekonomi dan diversifikasi.

Banyak faktor berkontribusi pada situasi sekarang, diantaranya perubahan iklim, desertifikasi, polusi air, dan penyalahgunaan sumber daya alam. Keterbatasan informasi, pendidikan, dan komunikasi semakin memperburuk kendala-kendala yang ada, karena ini menonjolkan rendahnya kesadaran dan komitmen terhadap praktik-praktik ramah lingkungan. Belum lagi ditambah dengan penanggulangan dan manajemen risiko oleh pemerintah yang sangat lemah – umumnya terkait dengan konflik dan krisis lain – mengakibatkan situasinya menjadi teramat suram.

Aleppo

A World Besieged

From Aleppo and North Korea to the European Commission and the Federal Reserve, the global order’s fracture points continue to deepen. Nina Khrushcheva, Stephen Roach, Nasser Saidi, and others assess the most important risks.

Aljazair, misalnya, menghadapi kekeringan terburuk dalam 50 tahun terakhir. Sebagai negara dengan pertanian yang sangat mengandalkan curah hujan, akibat infrastruktur yang masih terbelakang, tahun ini hasil panen serealia merosot 40%. Meski kaya akan minyak dan gas, Aljazair gagal menjamin ketersediaan sumber-sumber air yang terjangkau bagi warganya, hanya salah satu dari masalah-masalah lain seperti langkanya kesempatan kerja. Akibatnya, negara ini diguncang dengan protes keras oleh warganya.

Libya dilanda ketidakstabilan yang lebih parah sebagai hasil dari konflik internal yang berlangsung tahunan. Konsekuensi yang berupa pemadaman listrik dan kelangkaan bahan bakar telah menghambat distribusi air. Musim panas lalu, PBB harus membeli lima juta liter air dari negara-negara tetangganya untuk memenuhi kebutuhan air di Libya.

Di Yordania, kelangkaan air terjadi terlampau sering, terutama di kota-kota besar seperti Amman. Yordania diperkirakan memiliki cadangan air cukup untuk menyokong kehidupan dua juta orang. Akan tetapi populasi penduduk kini lebih dari enam juta jiwa, belum termasuk 1,5 juta pengungsi asal Suriah yang hidup di penampungan-penampungan di Yordania.

Di tengah krisis air, sudah hampir pasti pengungsi lah yang merasakan dampak pertama. Pasokan air di sebagian besar kamp pengungsi, di Yordania dan Lebanon, dipangkas habis –keputusan yang menyengsarakan jutaan orang yang sudah berjuang menghadapi suhu panas. Di Rukban, sebuah kamp pengungsi di perbatasan Yordania dengan Suriah dan Irak, lebih dari 85.000 penduduknya hanya memperoleh jatah masing-masing 5 liter per hari untuk dikonsumsi, keperluan memasak, dan mencuci.

Kondisi di Yaman juga sama buruknya. Dilanda konflik akibat kekerasan kekerasan dan perang saudara, Yaman tidak mampu mengelola sumber-sumber air karena tidak dilengkapi dengan pemerintah yang efektif. Sumber-sumber air di kota Sanaa, ibukota negara, diperkirakan habis dan mengering dalam waktu 10 tahun. Ketika lebih dari setengah penduduknya kekurangan akses pada air bersih, tidak heran kalau Yaman juga mengalami gagal panen dan penyebaran sejumlah penyakit. PBB memperkirakan 14.000 anak-anak usia di bawah 5 tahun meninggal dunia akibat gizi buruk dan diare setiap tahunnya. Sementara itu, para petani menggali sumur semakin dalam demi mencari air – kedalamannya bahkan mencapai 500 meter – tanpa kendali atau pembatasan apapun.

Intervensi pemerintah yang efektif akan sulit atau bahkan mustahil diterapkan di Yaman, namun layak dan patut – bahkan wajib dilakukan – di negara-negara Timur Tengah dan Afrika Utara lainnya. Pertama, pemerintah pusat harus mengupayakan modernisasi pada praktik-praktik pertanian, termasuk pelatihan bagi petani dan pengenalan alat-alat irigasi lebih efisien. Wajib sifatnya untuk mengurangi ketergantungan petani pada curah hujan.

Sejumlah negara – seperti Maroko dan Yordania – telah menjalankan beberapa tindakan modernisasi. Pemerintah Maroko, contohnya, mengerahkan upaya besar untuk mengembangkan sumber-sumber air, termasuk pembangunan bendungan.

Tapi jalan masih panjang. Efisiensi distribusi air di Maroko masih rendah – hanya 60% untuk irigasi. Bagi negara yang sudah menderita lebih dari 20 kekeringan dalam 35 tahun, ini masalah serius. Berita bagusnya adalah African Development Bank baru-baru ini menyetujui pengucuran pinjaman lebih dari 88 juta euro (98,7 juta dolar AS) untuk mendanai proyek perbaikan mutu distribusi air.

Ini menyadarkan kita akan satu kesimpulan pokok: negara tidak bisa melakukannya sendiri. Kerja sama regional dan internasional sangat diperlukan. Negara-negara di kawasan MENA harus saling mendukung dalam penerapan program-program yang dirancang berdasarkan keberhasilan di lokasi lain.

Selain itu, investasi tambahan – pendanaan dari dalam atau luar negeri – perlu dialokasikan untuk memperbaiki infrastruktur air yang menua, serta proyek-proyek baru untuk membangun bendungan dan reservoir air. Upaya lebih solid juga perlu dikedepankan dalam pengamanan sumber-sumber air yang sudah ada.

Disini lah peran publik sangat dibutuhkan. Namun masyarakat harus sadar, bukan hanya tahu pengggunaan air yang baik, tapi juga tahu dan mampu melindungi dari risiko-risiko bencana terkait perubahan iklim.

Bagi sektor swasta dan LSM, pemutakhiran pengelolaan air di kawasan MENA menjadi peluang besar untuk investasi pada penyediaan air bersih dan teknologi terkait. Pasar regional untuk perbaikan mutu sanitasi lokal dan layanan pengairan diperkirakan bernilai lebih dari 200 miliar dolar AS. Proyek-proyek yang ditujukan untuk pemenuhan kebutuhan ini akan menjadi investasi cerdas.

Support Project Syndicate’s mission

Project Syndicate needs your help to provide readers everywhere equal access to the ideas and debates shaping their lives.

Learn more

Tapi kembali lagi ke pemerintah, bolanya ada di tangan mereka untuk memulai langkah pertama. Jika pemerintah tidak melestarikan cadangan air dan menyeragamkan pasokan, kelompok warga paling rentan akan terus menderita dan kondisi ini dengan cepatnya bisa mengarah pada keresahan sosial atau bahkan lebih buruk. Jika negara terus berdiam diri dan tidak mengatasi krisis air yang melanda kawasan MENA, kesengsaraan mereka bisa memicu perang di masa mendatang.

Pada pertemuan Conference of the Parties to the UN Framework Convention on Climate Change, di Maroko bulan November nanti, isu mengenai air harus dijadikan prioritas. Mengingat lebih dari 80% kontribusi nasional dalam perjuangan melawan perubahan iklim oleh negara-negara Selatan berfokus pada kelangkaan air, aksi terkoordinasi oleh pemerintah dan badan internasional tidak bisa ditunda-tunda lagi.