0

Mendidik Tenaga Medis Profesional Masa Depan di Timur Tengah

BOSTON – Sejumlah kendala di bidang kesehatan masyarakat yang dihadapi negara-negara di Timur Tengah terlampau besar, terutama berkaitan dengan pengungsi dan pekerja asing. Jumlah pengungsi saja sudah mencapai jutaan dan melemahkan sistem pelayanan kesehatan di Yordania, Lebanon, dan Turki hingga terancam jatuh ke titik nadir.

Negara-negara kaya yang tergabung dalam Dewan Kerja Sama Negara Teluk (Gulf Cooperation Council atau GCC ) tentu salah apabila berasumsi negaranya aman dari masalah-masalah kesehatan masyarakat yang dialami tetangganya. Meskipun negara-negara anggota GCC sudah meraih kemajuan besar dalam kebersihan dan kesehatan ibu dan anak, mereka menjadi episentrum global atau jantung penyakit-penyakit tidak menular kronis di dunia – seperti obesitas, diabetes, penyakit kardiovaskuler, dan kanker – akibat gaya hidup dan pola makan.

Chicago Pollution

Climate Change in the Trumpocene Age

Bo Lidegaard argues that the US president-elect’s ability to derail global progress toward a green economy is more limited than many believe.

Lebih parahnya lagi, sistem kesehatan nasional di negara-negara GCC mengalami keterbatasan dokter dan tenaga medis terdidik untuk bekerja di fasilitas kesehatan setempat. Sebagai akibatnya, angka keluar-masuk (turnover) yang tinggi disebabkan kelebihan jam kerja dan terdapat kebutuhan mendesak atas tenaga kerja asing di bidang kesehatan untuk mengisi posisi-posisi yang sangat dibutuhkan.

Tepat bagi pembuat kebijakan di negara-negara GCC untuk berfokus pada perluasan akses dan pemberian subsidi layanan kesehatan yang berkualitas. Namun pemerataan layanan kesehatan secara adil bagi penduduk asli dan migran sering menjadi isu kebijakan yang kontroversial. Kini pembuat kebijakan harus mengucurkan perhatian lebih kepada tenaga kerja di sektor kesehatan, agar pendidikan dan pelatihan bagi mereka terjamin dan cukup untuk menghadapi tantangan di kemudian hari.

Program-program pelatihan yang diadopsi sistem kesehatan nasional di negara-negara GCC saat ini belum cukup berfokus pada inovasi atau pemikiran holistik untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas. Jika dokter dan tenaga medis lainnya tidak mendapat pelatihan multi disipliner, mereka tidak siap mengenali dan memenuhi kebutuhan kesehatan masyarakat di seluruh kawasan. Dengan demikian, guna menyempurnakan pelayanan, negara-negara GCC harus merumuskan kerangka kebijakan baru yang mencakup sektor pendidikan sekaligus kesehatan masyarakat.

Pendidikan tinggi berkembang dengan cepat di Timur Tengah selama 10 tahun terakhir. Sejumlah pemerintah menetapkan zona perdagangan bebas untuk pendidikan – seperti “Knowledge Villages” dan “Education Cities” di Uni Emirat Arab dan Qatar – dan mengeluarkan miliaran dolar bagi perguruan tinggi baru dan lama, seperti di Arab Saudi. Hasilnya, universitas baru, lembaga riset, dan program-program pendidikan menarik banyak akademisi dan profesional lainnya ke Timur Tengah.

Akan tetapi, jumlah mahasiswa – dan pemuda – yang mengejar karir di bidang kesehatan masyarakat masih sangat kecil. Meskipun secara keseluruhan jumlah mahasiswa yang mempelajari ilmu kesehatan masyarakat semakin bertambah, mayoritas berasal dari luar kawasan, lagi-lagi ini hanya akan memperburuk ketergantungan negara-negara GCC terhadap tenaga kerja asing.

Beberapa universitas di kawasan ini sudah mengedepankan inovasi, berarti sejalan dengan komitmen untuk penguatan sistem pelayanan kesehatan. Walaupun kesehatan masyarakat adalah tantangan regional terbesar, sejauh ini universitas masih memprioritaskan perkuliahan di ranah engineering dan teknologi.

Dalam pendidikan kedokteran dan kesehatan masyarakat, berdasarkan analisis pribadi saya atas lembaga-lembaga lokal, siswa belajar mengobati kondisi medis namun tidak cukup mempelajari isu-isu kesehatan masyarakat yang lebih luas, dan kurikulum sekarang tidak membuka cakrawala siswa terhadap isu-isu yang berdampak pada pengungsi, penduduk migran, atau publik secara luas. Meskipun lembaga-lembaga seperti Weill Cornell di Qatar dan Gulf University of Science and Technology di Kuwait sudah meluncurkan penelitian inovatif dan program pelatihan yang berfokus pada berbagai jenis tantangan di sektor kesehatan, prakarsa serupa masih perlu digiatkan.

Permasalahan lainnya adalah program pendidikan dan pelatihan di kawasan tidak merangsang pemikiran yang holistik. Di tingkat global, kebijakan kesehatan masyarakat sedang mengarah menuju integrasi multi disipliner yang menggabungkan ilmu engineering, kedokteran, sosial dan manajemen, serta humaniora. Lembaga-lembaga di kawasan Timur Tengah terancam tertinggal dari standar global apabila tidak mengikuti pendekatan terpadu tersebut.

Teknologi dan pendekatan baru dalam kesehatan masyarakat tentu penting; tapi upaya apapun pasti gagal jika tidak dirancang untuk memenuhi kebutuhan warga setempat yang sebenarnya. Itu sebabnya negara-negara GCC harus mendorong dan berinvestasi pada pengembangan teknologi di tingkat lokal dan menciptakan ruang bagi insinyur untuk bekerja dengan profesional bidang kesehatan. Kerja sama tersebut sangat diperlukan untuk memberantas penyakit-penyakit menular dan kronis yang mengancam warga di kawasan, di luar dari manfaat kerja sama untuk menghasilkan peluang usaha bagi pemuda.

Fake news or real views Learn More

Negara-negara di Timur Tengah memerlukan kerangka kerja yang terintegrasi dan berorientasi pada inovasi untuk melatih tenaga medis profesional, agar mereka mampu mengatasi tantangan-tantangan kesehatan masyarakat saat ini dan siap menghadapi kejadian tak terduga, seperti sindrom pernafasan Timur Tengah (MERS), ebola, dan penyakit menular yang muncul secara tiba-tiba.

Jumlah penduduk di Timur Tengah akan terus meningkat, namun apakah pertumbuhan tersebut juga disertai dengan pertumbuhan di kawasan sebagai pusat perdagangan dan ekonomi dunia yang diakui secara global, jawabannya bergantung pada kemampuan pemerintah untuk melakukan reformasi pada pendidikan dan sistem kesehatan nasional.