1

Inovasi Pendidikan di Timur Tengah

LONDON – Urgensi membantu jutaan pengungsi asal Timur Tengah menuntut pengerahan sumber daya yang jauh melampaui kapasitas PBB, ini pun senantiasa menjadi tantangan pemberian bantuan kemanusiaan bagi perusahaan, yayasan, dan lembaga donor sektor publik. Meskipun pasukan penjaga perdamaian PBB (peacekeepers) didanai oleh sumbangan wajib (assessed contributions), bantuan kemanusiaan bergantung pada donasi sukarela. Pendidikan, umumnya dinomorduakan setelah kebutuhan kelangsungan hidup dasar seperti pangan dan papan, seringkali ditinggalkan.

Kegagalan ini jauh lebih berbahaya dibandingkan persepsi awal. Faktanya, dunia menghadapi krisis pendidikan yang dapat mengakibatkan generasi pemuda yang hilang (lost generation) dan tidak memiliki harapan masa depan. Mayoritas dari enam juta anak pengungsi Suriah masih putus sekolah, sementara 250.000 pemuda terputus dari pendidikan tinggi. Di negara yang dilanda perang seperti Yaman dan Irak, jutaan anak juga mengalami putus sekolah. Kebanyakan anak-anak melalui usia sekolahnya tanpa sekali pun masuk ruang kelas.

Chicago Pollution

Climate Change in the Trumpocene Age

Bo Lidegaard argues that the US president-elect’s ability to derail global progress toward a green economy is more limited than many believe.

Meski demikian, berkat the Platform for Education in Emergencies Response (PEER), lembaga amal, organisasi filantropi, dan yayasan bisa memadukan upayanya membantu siswa-siswa pengungsi memperoleh kesempatan pendidikan tinggi, sekaligus memberi perlindungan/tempat aman bagi dosen dan pengajar yang menjadi korban rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad. PEER akan menghubungkan pengungsi Suriah yang siap menjalani perkuliahan dan sejumlah kampus yang siap menerima pengungsi, dan pada akhirnya menjadi penyalur pendidikan tinggi berbasis-web bagi siswa pengungsi di setiap tingkatan di seluruh dunia.

PEER didukung oleh Institute of International EducationdanCatalyst Foundation for Universal Education, badan amal pendidikan didirikan oleh mantan Rektor New York University John Sexton. Selain dari PEER, the Catalyst Foundation juga menyiapkan beberapa proyek untuk meningkatkan audit sekolah, menggiatkan social-impact investing di sektor pendidikan, dan memperkenalkan kurikulum untuk memupuk hidup berdampingan secara damai di Timur Tengah dan seluruh penjuru dunia.

Sekolah ialah tempat pertama kita bisa meningkatkan kesadaran kewarganegaraan (inclusive citizenship) di negara-negara Timur Tengah. Maka dari itu, the Catalyst Foundation tengah mengkaji proyek-proyek pendidikan kewarganegaraan di kawasan tersebut – serta Eropa Timur, Afrika, dan Amerika Serikat – guna mengetahui bagaimana kurikulum di sekolah bisa menciptakan kerukunan antar umat beragama secara optimal.

Banyak pemuda-pemudi yang tumbuh di Timur Tengah dan Afrika Utara – segera mencapai 200 juta jiwa – akan mempeoleh model pendidikan yang memupuk hidup berdampingan meski beragam budaya, terutama ketika segelintir politisi di dunia Barat menolak mengakui bahwa koeksistensi itu mungkin. Kurikulum tersebut jangan terbatas pada mengajarkan Aturan Emas (golden rule) atau mengagung-agungkan dogma-dogma agama yang bersifat universal. Sekolah pun harus memberi pelajaran yang mengajarkan anak-anak bahwa keberagaman adalah kekuatan dan penting bagi kesejahteraan warga. Ini rencana aksi oleh the Catalyst Foundation.

Usulan mereka adalah bekerja sama dengan enam sekolah percontohan, termasuk satu SMP di Uni Emirat Arab, empat SMA di Amerika Serikat dan Eropa, dan satu SMP di Lebanon yang saat ini mendidik siswa-siswa pengungsi Suriah. Lebanon adalah negara peserta yang terpenting. Meski terkenal dengan riwayat panjang yang diwarnai perpecahan politik, sosial, dan keagamaan, semua anak usia 9 tahun diberikan kurikulum pendidikan yang menegaskan kepada semua anak – baik itu Syiah, Sunni, atau Kristen – harkat dan martabat semua agama dan kepercayaan dan benang merah dari masing-masing agama.

Model yang diterapkan Lebanon adalah titik awal baik untuk menyusun kerangka keja yang bisa digunakan di negara lain. Kurikulum yang dibuat the Catalyst Foundation akan memuat tema-tema universal untuk menggugah pemuda dari negara, agama, serta latar belakang budaya yang berbeda untuk berinteraksi satu sama lain, baik tatap muka atau secara online, melalui berbagi pandangan dan pengalaman. Tujuannya adalah meningkatkan kesadaran berbudaya dan beragama dan dialog antar pemuda di tahap vital pendidikannya, dengan harapan mereka akan tumbuh menjadi pemimpin di komunitas dan negaranya.

Betul bahwa para reformis berpeluang besar menciptakan lingkaran kebajikan baru (virtuous cycles) di sektor pendidikan di Timur Tengah dan mereka harus mengingat pembelajaran dari inisiatif awal sang pendahulu yaitu Sir Ronald Cohen dalam social-impact investing dan social enterprise. Para pengusaha sosial (social entrepreneurs) di sektor pendidikan kini memiliki instrumen pembiayaan lebih banyak dibandingkan dahulu – mulai dari modal ventura hingga dana investasi dan bentuk aset lainnya – dan mereka bisa memainkan peran sentral dalam mengangkat pendidikan Timur Tengah menjadi terkemuka di abad ke-21.

Fake news or real views Learn More

Sudah terlalu banyak gagasan lampau dari organisasi nirlaba yang terganjal masalah pendanaan. The Catalyst Foundation bertujuan memberi bibit modal bagi start-up di bidang pendidikan dan membantu mereka mengembangkan program yang berhasil.

Bagi anda yang peduli akan pendidikan di Timur Tengah, tugas kami jelas: menyediakan bantuan kepada jutaan pemuda miskin dan rentan agar mendapat kebutuhan yang memungkinkan mereka mengubah dan memperbaiki kehidupannya melalui pembelajaran. Kami di sini ingin menunjukkan bahwa usaha sosial (social enterprise) yang kecil pun bisa berpengaruh besar.