People walk along Wall Street in the financial district in New York City Spencer Platt/Getty Images

Apa yang Menghalangi Kelompok Kiri?

CAMBRIDGE – Mengapa sistem politik demokratis tidak cukup responsif terhadap keluhan yang dengan sukses telah dieksploitasi oleh populis otokratis – yaitu keluhan mengenai kesenjangan dan kekhawatiran terhadap perekonomian, perasaan penurunan status sosial, serta jurang perbedaan antara kaum elite dan masyarakat biasa? Jika partai politik, khususnya partai kiri-tengah, mengusung agenda politik yang lebih berani, mungkin kebangkitan sayap kanan, gerakan-gerakan politik kaum nativisme dapat dihindari.

Pada prinsipnya, kesenjangan yang lebih besar akan menyebabkan permintaan redistribusi yang lebih besar. Politisi demokratis harus merespons dengan memberlakukan pajak yang lebih tinggi pada orang kaya dan membelanjakan hasil pajak tersebut kepada orang yang kurang mampu. Intuisi untuk melakukan hal ini diformalkan dalam sebuah makalah terkenal dalam ekonomi politik yang ditulis oleh Allan Meltzer dan Scott Richard: semakin lebar kesenjangan antara median dan rata-rata pemilih, maka semakin tinggi pajak dan lebih banyak redistribusi.

Namun dalam praktiknya, demokrasi telah bergerak ke arah yang berlawanan. Pajak pendapatan progresif mengalami penurunan, ketergantungan terhadap pajak konsumsi regresi meningkat, dan pajak modal telah mengikuti tren global yaitu persaingan tarif pajak ke angka yang semakin rendah (race to the bottom). Daripada meningkatkan investasi infrastruktur, pemerintah justru mengambil kebijakan penghematan yang secara khususnya sangat merugikan pekerja dengan keterampilan rendah. Bank-bank besar dan korporasi justru diselamatkan, dan bukan masyarakat. Di Amerika, upah minimum belum disesuaikan dengan memadai, sehingga mengikis nilai riilnya.

Sebagian alasan dari hal ini, setidaknya di Amerika, adalah kebijakan Partai Demokrat yang mengusung politik identitas (yang menyoroti inklusivitas gender, ras, dan orientasi seksual) serta tujuan liberal dalam bidang sosial lainnya yang mengorbankan permasalahan sosial penting lainnya seperti pendapatan dan lapangan pekerjaan. Seperti yang ditulis oleh Robert Kuttner dalam sebuah buku baru, satu-satunya hal yang tidak ada dari platform yang di usung Hillary Clinton pada pemilu presiden tahun 2016 adalah permasalahan mengenai kelas sosial.

Salah satu penjelasannya adalah Partai Demokrat (dan partai-partai kiri-tengah di Eropa Barat) telah menjadi terlalu dekat dengan korporasi finansial dan korporasi besar lainnya. Kuttner menggambarkan bagaimana para pemimpin Partai Demokrat mengambil kebijakan eksplisit untuk menghubungi korporasi di sektor finansial setelah kemenangan Presiden Ronald Reagan pada tahun 1980an. Bank-bank besar khususnya menjadi sangat berpengaruh tidak hanya karena pengaruh keuangan mereka, namun juga karena kontrol yang mereka miliki atas posisi pengambil kebijakan penting di pemerintahan Demokratis. Kebijakan ekonomi pada tahun 1990an mungkin akan berbeda jika Bill Clinton mendengarkan saran dari Menteri Tenaga Kerja, Robert Reich, yang merupakan seorang akademisi dan advokat kebijakan progresif, dan tidak begitu mendengarkan Menteri Keuangan, Robert Rubin, yang merupakan mantan eksekutif Goldman Sachs.

Namun kepentingan pribadi hanya dapat menjelaskan kegagalan partai sayap kiri. Gagasan juga memainkan peran yang sama pentingnya. Setelah guncangan sisi penawaran di tahun 1970an menghancurkan konsensus Keynesian di era pasca perang dunia, dan pajak progresif serta negara kesejahteraan di Eropa mulai tidak popular, kondisi vakum ini di isi dengan jenis fundamentalisme pasar (yang juga disebut dengan neoliberalisme) yang didukung oleh Reagan dan Margaret Thatcher. Gelombang gagasan baru ini juga tampaknya memikat imajinasi para pemilih. 

What do you think?

Help us improve On Point by taking this short survey.

Take survey

Daripada mengembangkan alternatif yang masuk akal, para politisi kiri-tengah justru menelan bulat-bulat disposisi baru ini. Demokrat Baru seperti Clinton dan Partai Buruh Baru seperti Tony Blair bertindak seperti pemandu sorak bagi globalisasi. Sosialis dari Perancis secara misterius menjadi advokat pengurangan kendali atas pergerakan modal internasional. Satu-satunya perbedaan mereka dengan sayap kanan adalah janji manis dalam bentuk pembelanjaan lebih banyak untuk program sosial dan pendidikan – yang jarang sekali menjadi kenyataan.

Ekonom Perancis Thomas Piketty baru-baru ini mendokumentasikan transformasi menarik kebijakan sosial partai sayap kiri. Hingga akhir tahun 1960an, masyarakat miskin biasanya memilih partai saya kiri, sementara masyarakat yang kaya memilih partai sayap kanan. Setelah itu, partai sayap kiri kian banyak memikat kelompok elite dengan tingkat Pendidikan yang baik, yang disebut oleh Piketty sebagai “Kaum Kiri Brahmin”, untuk membedakan mereka dari kelompok “Pedagang” yang masih memilih partai sayap kanan. Piketty berargumentasi bahwa bifurkasi kelompok elite ini telah mengisolasi sistem politik dari permintaan redistribusi. Kelompok Brahmin Kiri tidak suka dengan redistribusi karena mereka percaya akan meritokrasi – yaitu sebuah dunia dimana upaya akan membawa manfaat dan pendapatan rendah kemungkinan besar disebabkan oleh kurangnya upaya dari masyarakat miskin dan bukan nasib yang buruk.

Gagasan mengenai cara kerja dunia juga terjadi di kalangan non-elite, yaitu meredam permintaan redistribusi. Bertentangan dengan implikasi kerangka Meltzer-Richard, pemilih biasa di Amerika tidak terlalu tertarik untuk meningkatkan tarif pajak golongan pendapatan atas atau transfer sosial yang lebih besar. Hal ini sepertinya benar meskipun mereka tidak menyadarinya – dan tidak peduli – dengan peningkatan tajam kesenjangan.

Penjelasan paradoks nyata ini adalah rendahnya rasa percaya pemilih terhadap kemampuan pemerintah untuk menangani kesenjangan. Sebuah tim ekonom menemukan bahwa responden “menggunakan” referensi dari pelobi atau penyelamatan perusahaan Wall Street untuk menjelaskan sedikitnya dukungan untuk kebijakan pengentasan kemiskinan.

Kepercayaan terhadap pemerintah secara umum telah mengalami penurunan di Amerika sejak tahun 1960an, dengan beberapa kali fluktuasi. Terdapat tren serupa yang terjadi di negara-negara Eropa, khususnya di Eropa Selatan. Hal ini menunjukkan bahwa politisi progresif yang mengimpikan peran aktif pemerintah dalam membentuk kembali peluang ekonomi menghadapi tantangan berat dalam menarik minat para pemilih. Ketakutan akan kekalahan mungkin dapat menjelaskan respons yang lemah dari partai sayap kiri.

Namun pembelajaran dari penelitian baru-baru mengatakan bahwa kepercayaan akan apa yang dapat dan harus dilakukan pemerintah dapat berubah. Kepercayaan ini rentan terhadap persuasi, pengalaman, dan perubahan keadaan. Hal ini berlaku bagi kalangan elite dan non-elite. Namun kelompok kiri progresif yang dapat menghadapi kelompok nativis politik harus menceritakan narasi serta kebijakan yang baik.                       

http://prosyn.org/v2sC214/id;

Handpicked to read next

Cookies and Privacy

We use cookies to improve your experience on our website. To find out more, read our updated cookie policy and privacy policy.