Para Pecandu Media Sosial

NEW YORK – Kita telah diperingatkan. Pemodal Ventura dan pendiri Netscape, Marc Andreessen, menulis esai terkenal pada tahun 2011 yang berjudul “Mengapa Software Memakan Dunia.” Namun saat itu kita tidak menganggap Andreessen serius; kita menganggapnya hanya sebagai metafora. Kini, kita menghadapi tantangan untuk memisahkan diri dari cengkeraman monopoli penyedia platform internet.  

The Year Ahead 2018

The world’s leading thinkers and policymakers examine what’s come apart in the past year, and anticipate what will define the year ahead.

Order now

Saya dulu adalah seorang yang optimis terhadap teknologi. Selama 35 tahun karier investasi saya di perusahaan-perusahaan terbaik dan paling menjanjikan di Silicon Valley, saya beruntung karena menjadi bagian dari industri komputer pribadi (PC),  komunikasi seluler, Internet, dan jejaring sosial. Salah satu titik penting dari karier saya adalah investasi awal di Google dan Amazon, dan menjadi mentor bagi pendiri Facebook, Mark Zuckerber, dari tahun 2006 hingga 2010.  

Setiap gelombang teknologi meningkatkan produktivitas dan akses terhadap pengetahuan. Setiap platform baru akan lebih mudah dan nyaman untuk digunakan. Teknologi mendorong globalisasi dan pertumbuhan ekonomi. Selama beberapa dekade, teknologi telah membuat dunia menjadi lebih baik. Dan kita berasumsi hal ini akan terus berlanjut.

Lalu pada tahun 2016, Internet menunjukkan dua sisi gelapnya. Satu sisi berhubungan dengan pengguna pribadi. Telepon pintar dengan jaringan LTE menciptakan platform pengantar konten yang tersedia setiap saat, sehingga mentransformasikan industri teknologi dan kehidupan dua miliar orang. Dengan sedikitnya atau tidak adanya peraturan di banyak negara, perusahaan seperti Facebook, Google, Amazon, Alibaba, dan Tencent menggunakan teknik yang lazim dalam propaganda dan kasino, seperti notifikasi konstan dan berbagai hadiah, yang bertujuan untuk menciptakan kecanduan psikologis. 

Sisi gelap lainnya berhubungan dengan geopolitik. Di Amerika, Eropa Barat, dan Asia, platform Internet, khususnya Facebook, memungkinkan mereka yang memiliki pengaruh untuk merugikan mereka yang tidak punya kekuatan dalam bidang politik, politik luar negeri, dan perdagangan. Pemilu di Eropa dan Amerika terus menunjukkan bahwa otomasi jejaring sosial dapat dieksploitasi untuk merugikan demokrasi.

Referendum Brexit dan pemilu Amerika tahun 2016 menunjukkan bahwa Facebook memberikan keuntungan komparatif terhadap berita negatif dibandingkan yang positif. Pemerintahan otoriter dapat menggunakan Facebook untuk meningkatkan dukungan publik terhadap kebijakan yang represif, seperti yang terjadi di Myanmar, Kamboja, Filipina, dan negara-negara lain. Dalam beberapa kasus, Facebook memberikan layanan bagi pemerintahan tersebut, sama seperti yang mereka berikan pada klien besar lainnya.

Saya yakin bahwa para pendiri Facebook, Google, dan platform internet lainnya tidak bermaksud untuk mengakibatkan dampak buruk ketika mereka mengadopsi model bisnis mereka. Pada saat itu, mereka adalah pengusaha muda yang sangat ingin mencapai kesuksesan. Mereka menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk membangun jumlah pengguna yang besar dengan melakukan reorganisasi dunia online di sekitar perangkat aplikasi yang dirancang untuk lebih personal, nyaman dan mudah untuk digunakan dibandingkan aplikasi pendahulu. Dan mereka tidak berupaya untuk mencari keuntungan hingga para pengguna sudah kecanduan. Model bisnis iklan yang mereka pilih mempunyai kelebihan karena lebih personal sehingga memungkinkan para pemasang iklan untuk menargetkan pesan mereka dengan ketepatan yang belum pernah bisa dicapai sebelumnya.

Lalu kemudian muncul telepon pintar, yang mentransformasikan seluruh media dan secara efektif menjadikan Facebook, Google, dan sejumlah aplikasi lainnya dapat mengendalikan arus informasi kepada pengguna. Filter yang memungkinkan untuk “memberikan pengguna apa yang mereka inginkan” mempunyai dampak memolarisasi populasi dan mengikis legitimasi institusi demokratis yang sangat penting (terutama, pers bebas). Dan otomasi yang memungkinkan platform Internet mendapatkan banyak keuntungan juga menyebabkan mereka rentan terhadap manipulasi oleh pihak-pihak yang berniat jahat – dan tidak hanya pemerintah otoriter yang memusuhi pemerintahan demokrasi.

Seperti yang Andreessen peringatkan, perusahaan-perusahaan ini, dengan ambisi global dan jangkauan mereka, sedang “memakan” perekonomian dunia. Dan dalam prosesnya, mereka mengadopsi filosofi perusahaan seperti Facebook – “gerak cepat dan melanggar peraturan” – tanpa mempertimbangkan dampaknya pada masyarakat, institusi, dan demokrasi. Banyak kelompok minoritas di negara maju yang berada dalam lingkungan dengan filter yang diciptakan oleh platform-platform ini – yang merupakan kenyataan digital yang salah dimana keyakinan yang ada menjadi lebih kaku dan ekstrem.

Di Amerika, diperkirakan sepertiga populasi dewasa menjadi lebih tidak menyukai gagasan baru, termasuk fakta yang bisa dibuktikan. Orang-orang seperti ini mudah untuk dimanipulasi, sebuah konsep yang disebut oleh mantan perancang etik Google sebagai “hacking otak.”

Demokrasi negara barat tidak siap untuk mengatasi ancaman jenis ini. Amerika tidak mempunyai kerangka peraturan platform Internet yang efektif, dan tidak memiliki kemauan politis untuk menciptakannya. Uni Eropa mempunyai kerangka peraturan dan kemauan politik, namun keduanya tidak cukup untuk menghadapi tantangan ini. Keputusan Uni Eropa baru-baru ini terhadap Google – denda terbesar yang pernah diberikan, yaitu $2.7 miliar atas perilaku anti persaingan mereka – adalah sebuah langkah baik, namun jumlahnya masih terlalu kecil. Google naik banding, dan para investor tidak bisa berbuat apa-apa. Ini mungkin sebuah awal yang baik, namun belum cukup untuk menghadapi tantangan yang ada.    

Kita berada pada titik kritis. Kesadaran akan risiko yang ditimbulkan oleh platform Internet kian meningkat, namun kenyamanan menggunakan produk dan kecanduan psikologis terhadap produk-produk ini sangat besar sehingga mungkin diperlukan satu generasi untuk melihat perubahan penggunanya, sama halnya dengan kampanye anti-rokok. Kesadaran akan dampak merugikan dari monopoli platform terhadap kompetisi dan inovasi lebih tinggi di Eropa dibandingkan dengan Amerika, namun belum ada yang menemukan strategi peraturan yang efektif. Kesadaran bahwa platform bisa dimanipulasi untuk merugikan demokrasi juga kian meningkat, namun pemerintahan negara-negara barat belum merancang pertahanan terhadap hal ini.   

Tantangan yang ditimbulkan oleh monopoli platform internet memerlukan pendekatan baru selain penerapan peraturan antitrust. Kita harus menyadari dan mengatasi tantangan-tantangan terhadap kesehatan publik ini. Salah satu solusi yang mungkin dilakukan adalah dengan memperlakukan media sosial dengan cara yang sama dengan tembakau dan alkohol, yaitu dengan menggabungkannya dengan pendidikan dan peraturan.

Pada pertemuan Forum Ekonomi Dunia di Davos, ancaman dari monopoli internet platform harus menjadi perhatian utama dari peserta pertemuan tersebut. Demi memulihkan keseimbangan hidup kita dan memberikan harapan dalam dunia politik, inilah saatnya untuk melancarkan disruption kepada para disrupters.                 

http://prosyn.org/fJfXtDx/id;

Handpicked to read next