8

Perubahan Zat-zat Aman menjadi Berbahaya

PALO ALTO – Semenjak perkembangan toksikologi di abad ke-16, prinsip yang mempedomani adalah “the dose makes the poison” (hanya dosis/konsentrasi yang dapat menentukan benda/bahan tersebut bersifat racun atau tidak bagi tubuh mahluk hidup). Pernyataan ini merupakan aturan yang berlaku bagi obat-obatan yang digunakan pasien di seluruh dunia bahkan jutaan kali dalam sehari. Dosis aspirin yang tepat bisa menjadi pengobatan yang berharga tapi konsumsi yang terlalu banyak dapat mematikan. Prinsip ini pun berlaku pada makanan: pala atau akar manis (licorice) dalam jumlah besar sangat beracun.

Risiko yang ditimbulkan dari suatu bahan/zat tergantung pada dua faktor: kapasitas inherennya dalam menciptakan bahaya dan tingkat paparan terhadap seseorang. Idenya sederhana namun beberapa profesional yang spekulatif nampaknya tidak mampu memahaminya – sebagaimana dibuktikan dengan keputusan International Agency for Research on Cancer (IARC) atau Badan Internasional untuk Penelitian Kanker, unit di dalam Badan Kesehatan Dunia (WHO) yang mengelompokkan herbisida 2,4D yang lazimnya dipakai sebagai “memiliki potensi karsinogenik pada manusia”.

 1972 Hoover Dam

Trump and the End of the West?

As the US president-elect fills his administration, the direction of American policy is coming into focus. Project Syndicate contributors interpret what’s on the horizon.

Bicara mengenai herbisida, IARC terkesan mengalami kekalahan beruntun. Baru-baru ini lembaga tersebut mengelompokkan glifosat, jenis herbisida lain yang populer, dalam kategori “memiliki potensi karsinogenik”, suatu kesimpulan yang bertentangan dengan badan regulator lain di dunia.

Sejalan dengan itu, belum ada lembaga pemerintahan yang menilai herbisida 2,4D bersifat karsinogenik. Di awal tahun ini, Environmental Protection Agency di Amerika Serikat (EPA) menyimpulkan bahwa “berdasarkan pertimbangan bobot bukti atas data yang tersedia, herbisida 2,4D dikelompokkan sebagai ‘Kemungkinan Kecil bersifat Karsinogenik pada Manusia’”. European Food Safety Authority juga baru-baru ini menyimpulkan bahwa “jenis 2,4D yang sekarang diproduksi berkemungkinan rendah menghasilkan potensi genotoksik atau risiko karsinogenik pada manusia”.

Keputusan yang dibuat IARC untuk mengelompokkan bahan-bahan seperti 2,4D dan glifosat sebagai bahan yang berpotensi membahayakan dapat menimbulkan kekhawatiran bagi petani dan pengguna, yang akan mempertanyakan kelayakan untuk meneruskan penggunaan bahan-bahan tersebut pada pertanian komersial atau perkebunan. Hal ini akan memalukan sebab jenis herbisida ini sangat efektif dan paling banyak digunakan dan saat IARC membuat keputusan itu tidak dilakukan dengan mempertimbangkan apakah bahan-bahan yang dipertanyakan ini betul-betul mungkin menimbulkan kanker. Panel di IARC tidak mengkaji apakah kimia tersebut akan menyebabkankanker – tapi hanya apakah mampu menyebabkan kanker.

Sebagai akibatnya, AIRC sebelumnya pernah mengelompokkan lidah buaya, senyawa akrilimida (bahan yang dihasilkan dari mengoreng makanan, seperti kentang goreng dan keripik kentang), telepon genggam, kerja shift malam, sayuran yang diasamkan dari Asia, dan kopi sebagai bahan-bahan yang “mungkin” atau “berpotensi” karsinogenik. Hal ini dikarenakan lembaga tersebut mengabaikan dosis, gagal mempertimbangkan kemungkinan adanya kontak dengan bahan dalam jumlah yang cukup besar hingga dapat menimbulkan bahaya. Contohnya kopi, seseorang harus lah mengkonsumsi lebih dari 50 cangkir kopi sehari, dalam periode yang cukup lama, sebelum adanya kemungkinan terjadinya efek-efek yang merusak.

Klasifikasi yang dilakukan terhadap 2,4D sebagai bahan berisiko kanker pada manusia telah mengabaikan penelitian dan analisa mendalam yang dilakukan lembaga-lembaga kesehatan di seluruh dunia, termasuk Pertemuan Gabungan WHO/FAO tentang Residu Pestisida (Joint Meeting on Pesticide Residue atau JMPR). Badan ini mengevaluasi risiko bahan-bahan seperti 2,4D dan mengamati variabel-variabel nyata seperti jumlah zat di dalam tanah dan sumber air terdekat, paparan kepada hewan yang melewati ladang yang telah diberi zat tersebut, dan potensi adanya kontak langsung pada manusia.

Dalam kajian yang dimulai di tahun 1970, JMPR selalu menyimpulkan apabila 2,4D digunakan dengan tepat, maka tidak akan menimbulkan ancaman kesehatan terhadap orang ataupun benda di tanah atau perairan. Temuan ini dikuatkan oleh beberapa badan pemerintahan, temasuk European Food Safety Authority, EPA, Departemen Pertanian Amerika Serikat, dan Departemen Kesehatan Kanada.

Ketika IARC – lembaga ini membatasi panelnya untuk mempertimbangkan hanya sebagian kecil dari publikasi-publikasi tertentu saja – membuat keputusan yang salah maka konsekuensinya berbahaya. Keputusan lembaga ini dapat memberi kepercayaan bagi aktivis-akvitis yang memiliki chemophobia yang mencari publisitas dan menambah kemungkinan adanya bahan-bahan yang dicap berbahaya akan digantikan oleh produk-produk lain yang bisa jadi menciptakan risiko lebih besar atau manfaat lebih rendah.

Fake news or real views Learn More

Jika produk-produk seperti glisofat dan 2,4D tidak tersedia, maka petani akan terpaksa beralih ke metode lain guna mengendalikan gulma – walau diantaranya tidak ada yang seefisien itu. Memang benar, beberapa alternatif yang ada bisa jadi lebih beracun atau membutuhkan lebih banyak tanah yang dikerjakan, berakibat pada erosi tanah yang merusak, menaikkan tingkat emisi karbon dioksida, berkurangnya jumlah hasil panen, tingginya biaya produksi, dan harga yang lebih tinggi bagi konsumen.

Masalahnya pun tidak terbatas pada petani saja. Terdapat lebih dari 100 penggunaan 2,4D yang disarankan termasuk pengendalian gulma di halaman rumput yang bersifat mengganggu, pemakaian dalam kehutanan, dan peningkatan keselamatan di jalan raya, menara sutet, dan jalur kereta api. Proses yang diterapkan IARC dalam mencapai kesimpulan tidak hanya salah secara ilmiah, tapi juga berbahaya. Keputusan yang dibuat, yang mungkin berdampak luas, dapat menciptakan risiko terbesar bagi kehidupan manusia dan hewan – seberapa pun dosisnya.