33

Globalisme G20 yang Salah arah

HAMBURG – KTT G20 yang diadakan di kota Hamburg pada tahun ini sepertinya akan lebih menarik jika dibandingkan dengan KTT pada beberapa tahun terakhir. Salah satu alasannya adalah Presiden Amerika Donald Trump, yang memandang rendah multilateralisme dan kerjasama internasional, akan menghadiri KTT tersebut untuk pertama kalinya.   

Kedatangan Trump ini terjadi setelah dia memutuskan untuk keluar dari salah satu komitmen penting yang disepakati pada KTT tahun kemarin – yaitu untuk bergabung dengan perjanjian perubahan iklim Paris “secepat mungkin”. Dan dia juga akan kurang merasa antusias dengan tradisi dari KTT ini untuk menyerukan anti proteksionisme atau memberikan bantuan yang lebih besar kepada para pengungsi.  

Terlebih lagi, KTT di Kota Hamburg ini terjadi setelah kedua KTT G20 sebelumnya dilaksanakan di negara otoriter – KTT pada tahun 2015 di Turki dan tahun 2016 di Tiongkok – dimana protes bisa diredam. Sepertinya KTT pada tahun ini akan diwarnai dengan banyak demonstrasi, yang tidak hanya bertujuan untuk memprotes Trump, namun juga Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan serta Presiden Russia Vladimir Putin.         

G20 berawal dari dua gagasan, yang terdiri dari sebuah gagasan yang relevan dan penting, serta gagasan lain yang salah arah. Gagasan yang relevan dan penting yang dimaksud adalah negara-negara berkembang seperti Brasil, India, Indonesia, Afrika Selatan dan Tiongkok telah menjadi kekuatan ekonomi yang terlalu penting untuk tidak dilibatkan dalam diskusi mengenai tata pemerintahan global. Meskipun negara-negara G7 belum tergantikan dalam hal ini – KTT G7 yang terakhir diadakan pada bulan Mei di Sicily – KTT G20 adalah sebuah kesempatan untuk memperluas dialog.         

G20 dibentuk pada tahun 1999 setelah krisis finansial di Asia. Pada awalnya, negara-negara maju melihat hal ini sebagai forum untuk menjangkau negara-negara Asia, dimana negara maju membantu negara berkembang untuk memperbaiki standar finansial dan moneter mereka sesuai dengan standar di negara maju. Namun seiring dengan waktu, negara-negara berkembang menemukan aspirasi mereka sendiri dan memainkan peran yang lebih besar dalam menyusun agenda KTT. Namun, krisis finansial global pada tahun 2008 yang dimulai di Amerika Serikat dan diikuti oleh krisis Eurozone menjadikan ide bahwa negara maju mempunyai pengetahuan pengelolaan perekonomian yang dapat diajarkan kepada negara berkembang menjadi sebuah cemoohan. 

Gagasan kedua, yang kurang relevan, yang mengawali G20 adalah pemikiran bahwa penyelesaian permasalahan perekonomian dunia yang mendesak memerlukan kerjasama dan koordinasi dalam skala global yang lebih intens. Analogi yang sering digunakan adalah perekonomian dunia merupakan sebuah “isu bersama”: dimana semua negara harus berkontribusi terhadap hal tersebut, atau semua akan menanggung konsekuensinya.  

Pemikiran tersebut terbukti benar dalam beberapa hal. Misalnya untuk mengatasi perubahan iklim, serta untuk menyelesaikan permasalahan penting, memang memerlukan kontribusi dari seluruh negara. Mengurangi emisi karbon dioksida memerlukan kontribusi dari seluruh negara, karena jika tidak maka mungkin akan ada negara yang tidak melakukan apapun dan berharap negara lain akan mengatasi hal tersebut.   

Demikian juga penanganan penyakit menular yang tidak mengenal batas negara memerlukan investasi global untuk membangun sistem peringatan dini, monitoring dan pencegahan. Dan dalam hal ini, masing-masing negara memiliki sedikit inisiatif untuk berkontribusi terhadap investasi tersebut dan cenderung mengandalkan negara lain untuk mengatasinya.

Pola pemikiran yang sama memang dapat digunakan dalam mempertimbangkan isu-isu penting G20 seperti stabilitas finansial, pengelolaan makroekonomi, kebijakan perdagangan dan reformasi struktural. Namun, logika mengenai perekonomian bersama seringkali tidak dapat dipergunakan untuk mengatasi isu-isu tersebut.

Misalnya saja isu yang ada di benak seluruh pemimpin G20 (selain Trump) ketika menghadiri KTT di Hamburg: ancaman meningkatnya proteksionisme perdagangan. Sebuah laporan baru dari Global Trade Alert menyebutkan bahwa G20 gagal untuk memenuhi janjinya sehubungan dengan isu tersebut. Sejauh ini, ancaman Trump mengenai proteksionisme memang tidak disertai dengan tindakan. Namun, berdasarkan laporan Global Trade Alert, ribuan kebijakan proteksionisme yang menghalangi ekspor Amerika di negara-negara lain memberikan Trump alasan untuk meningkatkan kebijakan proteksionisme Amerika.   

Namun kegagalan untuk mempertahankan kebijakan perdagangan terbuka bukan dikarenakan kerjasama global atau diakibatkan oleh kurangnya semangat kebersamaan antar negara. Hal ini disebabkan oleh kegagalan kebijakan dalam negeri.

Ketika kami para ekonom mengajarkan mengenai prinsip keunggulan komparatif dan manfaat perdagangan, kami menjelaskan bahwa perdagangan bebas meningkatkan perekonomian negara pelaku perdagangan. Kita berdagang bukan untuk memberikan manfaat kepada negara lain, melainkan untuk meningkatkan peluang ekonomi warga negara kita sendiri. Membalas proteksionisme negara lain dengan juga memberlakukan kebijakan proteksionisme sama saja dengan merugikan diri sendiri.  

Memang benar bahwa perjanjian perdagangan tidak memberikan manfaat bagi sejumlah besar warga negara Amerika; banyak pekerja dan masyarakat yang dirugikan dalam hal ini. Namun perjanjian dagang yang tidak berimbang ini tidak disebabkan oleh negara lain. Perjanjian dagang ini sesuai dengan keinginan perusahaan-perusahaan besar serta kelompok kepentingan finansial di Amerika – yang merupakan pendukung Trump. Kegagalan untuk memberikan kompensasi bagi kelompok yang dirugikan juga bukan disebabkan oleh kurangnya kerjasama internasional; hal ini disebabkan oleh kebijakan dalam negeri.       

Hal yang sama juga terjadi dalam regulasi finansial, stabilitas makroekonomi atau pertumbuhan yang mendorong reformasi struktural. Ketika pemerintah mengambil keputusan yang buruk sehubungan dengan hal-hal tersebut, maka dampaknya mugkin akan dirasakan oleh negara lain. Namun warga negara pengambil kebijakan tersebut adalah pihak yang paling terkena dampaknya. Jika kita ingin menghindari proteksionisme yang salah arah, atau untuk mendapatkan manfaat dari pengelolaan ekonomi yang lebih baik, kita harus memulai hal ini dari negara sendiri.    

Lebih buruk lagi, globalisme yang terburu-buru yang terjadi di KTT G20 sesuai dengan narasi yang dimiliki oleh kelompok populis. Hal ini memberikan pembenaran bagi Trump dan pemimpin lain dengan pemikiran yang sama untuk mengalihkan perhatian dari kebijakan mereka dan menyalahkan pihak lain. Mereka berargumen bahwa warga negara mereka menderita karena negara lain melanggar peraturan yang ada dan memanfaatkan mereka. Globalisme sebagai solusi sangat mudah untuk diubah menjadi globalisme sebagai kambing hitam. 

Kenyataannya adalah, seperti yang dikatakan oleh Caesar, kesalahan bukan berasal dari mitra dagang kita, melainkan diri kita sendiri.