9

Aliansi Politik Progresif untuk Eropa

WASHINGTON, DC – Dalam waktu kurang dari tiga minggu, dunia akan menyaksikan terpilihnya presiden baru Amerika Serikat. Negara mana pun yang dijadikan mitra pilihan presiden AS di Eropa akan sangat tergantung pada hasil dua pemilu pada tahun 2017: pemilihan presiden Perancis pada awal bulan Mei dan pemilihan federal Jerman pada akhir bulan Oktober.

Tentu hengkangnya Inggris dari Uni Eropa juga berdampak pada masa depan Eropa. Opsi “hard Brexit” yang mendapat banyak sorotan akhir-akhir ini – terutama sejak Perdana Menteri Inggris, Theresa May, mengumumkan niatnya untuk fokus pada pembatasan imigrasi, meski itu berarti kehilangan akses pada pasar tunggal – akan mengubah cara kerja Eropa.

 1972 Hoover Dam

Trump and the End of the West?

As the US president-elect fills his administration, the direction of American policy is coming into focus. Project Syndicate contributors interpret what’s on the horizon.

Sebagaimana dinyatakan Perdana Menteri Perancis, Manuel Valls, baru-baru ini, pertanyaan utama yang perlu disikapi para pemimpin di Eropa ialah “menyerah dan membiarkan European project hancur begitu saja” atau “mengubah Uni Eropa”. Transformasi tersebut tidak akan mudah. Eropa membutuhkan visi kelembagaan baru dan restrukturisasi politik yang relatif besar, terutama di Perancis dan Jerman.

Visi kelembagaan yang layak, seperti saya utarakan ketika mendekati referendum Brexit, adalah pentingnya pembentukan “two Europes in one.”  Negara-negara eurozone akan membentuk “Eropa A” yang lebih terintegrasi, sementara sejumlah negara lainnya akan membentuk “Eropa B” yang lebih beragam dan tidak begitu erat. Kedua Eropa ini akan menjadi bagian dari “continental partnership” pasca-Brexit, yang barangkali bisa menggantikan Uni Eropa sepenuhnya.

Visi semacam ini agak radikal, sebuah visi yang hanya bisa diwujudkan jika institusi-institusi politik mau merangkulnya, terutama di Perancis dan Jerman. Kepemimpinan politik setiap negara perlu dipedomani – bahkan dibangkitkan – oleh tujuan menyelamatkan “Eropa”. Secara khusus, ini berarti mengedepankan kebijakan ekonomi yang menyeimbangkan pasar kompetitif dan solidaritas pasar, dengan ruang besar bagi keberagaman lokal.

Di Perancis dan Jerman, dinamika politik yang diharapkan akan tergantung pada aliansi kekuatan pro-Eropa sayap center-right dan center-left – sebuah dinamika yang bisa memecahkan dan pada akhirnya menghapus unsur-unsur ekstremisme dari setiap kelompok, sehingga memastikan kecenderungan politik anti-Eropa tidak akan menghambat progres. Sebagai contoh nyata – dan provokatif – atas penataan ulang apa yang mungkin terjadi di Perancis: Presiden Alain Juppé yang condong center-right mungkin bekerja sama dengan Perdana Menteri Emmanuel Macron berusaha memupuk gerakan pemuda sayap center-left yang mengusung ide “beyond the past”.

Di Jerman, partai Christian Democratic Union yang berhaluan center-right ini umumnya kurang pro-Eropa. Secara internal, partai ini dibatasi oleh sayap konservatif yang memiliki pandangan tidak sejalan dengan progres jangka panjang Eropa. Secara eksternal, partai ini dibatasi oleh Alternative for Germany (AfD) sebagai gerakan sayap kanan yang akhir-akhir ini semakin populer.

Dalam konteks ini, walaupun partai CDU yang dipimpin Kanselir Angela Merkel memperoleh suara terbanyak dalam pemilu tahun depan, partainya membutuhkan bantuan untuk membangun Eropa baru, dengan lebih banyak tanggung jawab bersama untuk negara-negara di Eropa A dan pengaturan fleksibel dengan negara-negara di Eropa B. Secara khusus, elemen-elemen pro-Eropa di CDU harus bersanding dengan sekutu-sekutu di kiri – yakni, mayoritas partai Social Democratic dan the Greens (partai Hijau).

Koalisi informal tersebut beberapa kali memungkinkan proyek pro-Merkel memenangkan dukungan di Parlemen, meskipun ada penolakan dari unsur-unsur sayap kanan CDU. Namun, demi menyelamatkan Eropa, koalisi tersebut harus lebih kukuh dan dapat diandalkan, memperjuangkan tujuan-tujuan bersama untuk kepentingan kolektif.

Kebutuhan atas penataan ulang institusi-institusi politik tidak hanya berlaku untuk Perancis dan Jerman. Diperlukan reformis dan pendukung gerakan globalisasi realistis untuk menyatukan daya upaya demi melawan gerakan populis yang ingin mengubah nostalgia menjadi nasionalisme ekstrem yang terbangun sepenuhnya dari politik identitas.

Dunia banyak mengalami perubahan dalam beberapa dekade terakhir, sama halnya di Eropa. Maka kita tidak bisa mengharapkan tata kelola yang lama untuk mampu merespon kebutuhan kebijakan atau dinamika politik sekarang dengan tepat. Spanyol mengalami betapa sulitnya mendapatkan mayoritas baru – proses yang sudah berjalan dua tahun namun belum juga berakhir.

Dengan demikian, reshuffle politik tidak terelakkan; pergeseran partai dan konflik-konflik yang mewarnai pemilihan presiden AS sekarang menjadi contoh. Akan tetapi reshuffle tersebut bisa mengarah pada sejumlah hasil. Guna menjamin masa depan yang positif, terbuka, dan penuh kemakmuran bagi Eropa, pihak yang menduduki posisi teratas haruslah partai atau kelompok yang mengakui manfaat besar di balik masyarakat yang terbuka secara politik dan ekonomi, serta kebutuhan atas kebijakan-kebijakan publik di tingkat nasional dan global untuk menunjang inklusi lebih luas.

Fake news or real views Learn More

Akan tetapi, meskipun kaum center-right and center-left yang progresif berhasil mengalahkan lawannya yang senantiasa merujuk pada masa lalu atau bersikap backward-looking, itu tidak cukup. Struktur politik biasa selalu berisiko diambil alih atau dikepung oleh populasi yang berpusat pada identitas. Itu sebabnya kelompok-kelompok politik yang berpikiran maju harus mengatasi perbedaan diantara mereka dengan cara lebih struktural untuk memajukan visi kelembagaan baru Eropa.

Restrukturisasi politik secara besar-besaran yang bertujuan membangun mayoritas progresif baru tidak akan mudah dan prosesnya tidak instan. Tetapi ini satu-satunya pilihan bagi Eropa. Jika tidak, “Eropa” akan kehilangan nyawanya, dan serangan melawan keterbukaan ekonomi dan nilai-nilai demokrasi akan semakin mendapat dukungan di seluruh dunia – konsekuensinya akan sangat menyengsarakan.