4

Mengarahkan Masa Depan

SAN FRANCISCO – Berbagai teknologi baru berkembang sebegitu cepatnya sampai-sampai kita kesulitan mengendalikan dampaknya terhadap masyarakat. Mulai dari dampak terhadap cara kita melakukan pekerjaan hingga makna kehidupan individual dan bermasyarakat, perubahan-perubahan teknologi bisa membuat kewalahan jika kita tidak bekerja sama untuk memahami dan mengendalikannya.

Keseluruhan industri tengah disusun ulang dan dibuat dari nol, berkat perkembangan-perkembangan revolusioner di bidang kecerdasan buatan (artificial intelligence), robotika, the Internet of Things, kendaraan swakemudi/otonom (autonomous vehicles), percetakan 3D (3D printing), nanoteknologi, bioteknologi, ilmu/teknik material (materials science), penyimpanan energi (energy storage), dan komputasi kuantum (quantum computing). Kami di World Economic Forum menyebut gelombang inovasi ini sebagai “Fourth Industrial Revolution” atau Revolusi Industri Keempat, sebab penemuan tersebut mengubah hidup, cara kerja, dan sikap kita terhadap orang lain secara fundamental.

 1972 Hoover Dam

Trump and the End of the West?

As the US president-elect fills his administration, the direction of American policy is coming into focus. Project Syndicate contributors interpret what’s on the horizon.

Teknologi-teknologi baru seperti mesin uap dan cotton mill menandai munculnya Revolusi Industri Pertama, yang didampingi dengan perkembangan sosial-politik yang monumental seperti urbanisasi, pendidikan massal, dan mekanisasi pertanian. Berkat elektrifikasi dan produksi massal, Revolusi Industri Kedua memperkenalkan jenis-jenis pekerjaan baru. Kemudian, melalui kemunculan teknologi digital dan telekomunikasi cepat, Revolusi Industri Ketiga yang berlangsung dalam lima dekade terakhir, sukses menghubungkan individu dan kelompok dan menghilangkan ruang dan waktu.

Revolusi Industri Keempat pun akan menggugah perubahan: teknologi semata pasti berpengaruh, tapi perubahan-perubahan dalam sistem ekonomi dan sosial akan lebih berdampak pada kehidupan kita di masa depan. Pada tahap ini, belum ada konsensus atas isu-isu mendasar seperti kepemilikan data pribadi, keamanan infrastruktur, serta hak dan tanggung jawab perusahaan-perusahaan yang mendobrak. Disini kita memerlukan kerangka kerja konseptual untuk memudahkan perusahaan, pemerintah, dan individu menyikapi pergeseran radikal yang dimotori teknologi – dalam hal business models, etika, dan isu-isu sosial – yang makin dekat.

Untuk menjamin kesejahteraan di masa depan, kita perlu mengkaji apakah teknologi-teknologi baru tersebut dirancang untuk memenuhi kebutuhan sosial, atau hanya menghadirkan hal baru. Selain itu, kita harus fokus tidak sekadar pada kemajuan teknologi dan produktivitas ekonomi semata, tapi juga bagaimana kekuatan tersebut berdampak pada individu, kelompok, dan lingkungan.

Seiring berlangsungnya Revolusi Industri Keempat, ada prinsip yang bisa memandu kebijakan dan pelaksanaannya. Pertama, fokus pada sistem, bukan teknologi tersendiri; dengan mencermati bagaimana berbagai kekuatan teknologi, sosial, dan ekonomi saling berinteraksi, kita bisa menentukan dan memperkirakan perubahan yang dialami perusahaan, masyarakat, dan perekonomian.

Kedua, kita harus menolak persepsi umum yang cenderung pasrah bahwa progres ibarat kodrat. Masyarakat dan individu perlu diedukasi dan diberdayakan agar mampu menguasai teknologi untuk tujuan produktif, bukan justru dikuasai oleh teknologi dan dimanfaatkan untuk kepentingan orang lain. Apabila kita gagal memanfaatkan teknologi-teknologi baru, berarti kita menyerahkan kendali pribadi dan kelompok, ibarat patah arang.

Ketiga, kita harus merancang teknologi-teknologi dan sistem-sistem baru dengan memiliki proyeksi ke depan, alih-alih menerima begitu saja dan pasrah atas perubahan yang ada. Upaya mengintegrasikan teknologi transformatif ke dalam sistem ekonomi dan sosial memerlukan kolaborasi erat antar pemangku kepentingan di kalangan pemerintahan, industri, dan organisasi masyarakat sipil. Jika tidak, masa depan kita akan ditentukan oleh kondisi bawaan, bukan hasil keputusan sendiri.

Terakhir, pertimbangan sosial dan etika bukanlah kerikil yang harus disingkirkan; nilai-nilai bersama harus menjamin unsur pokok dalam setiap teknologi baru. Apabila teknologi digunakan dalam cara-cara yang memperburuk kemiskinan, diskriminasi, atau pengrusakan lingkungan hidup, berarti tidak dipakai untuk membangun masa depan yang didambakan. Investasi pada teknologi-teknologi baru dibenarkan jika berkontribusi pada perkembangan dunia yang lebih aman dan terintegrasi.

Bergerak sendirian, tidak ada satu pihak pun yang sanggup mengatasi tantangan-tantangan sosial dan ekonomi dalam Revolusi Industri Keempat. Dunia usaha pun harus menciptakan kondisi yang mana teknologi dibuat dan disebarluaskan dengan aman dan memperhatikan pertimbangan-pertimbangan sosial.

Tidak hanya itu, pemerintah juga harus aktif terlibat dalam pemberlakuan teknologi di tengah masyarakat. Pembuat kebijakan harus bekerja sama erat dengan penemu teknologi dan pengusaha yang memimpin revolusi, jangan sampai tertinggal. Kita semua, sebagai individu, harus melek informasi agar paham dan mampu menyikapi isu-isu baru yang muncul dari interaksi multi-dimensional antara teknologi dan masyarakat.

Fake news or real views Learn More

Revolusi Industri Keempat akan menghadirkan perubahan-perubahan sistemis yang memuntut keterlibatan kolaboratif, dan kita perlu mempertimbangkan cara-cara kerja sama baru, baik di ruang publik maupun swasta. Laju perubahan akan terus bertambah cepat, kita perlu menjaga transparansi bagi semua pemangku kepentingan agar mereka bisa menilai risiko dan keuntungan setiap perkembangan baru.

Kita hidup di era kompleksitas, dan kepemimpinan yang kuat menuntut pergeseran besar-besaran dalam hal menyusun keterlibatan kolaboratif untuk masa depan. Apabila kita ingin menghindari hasil distopia, bersama kita harus merancang visi masa depan yang diidam-idamkan.