2

Memulihkan Investasi

JENEWA – Pada KTT G-20 bulan lalu di Hangzhou, Cina, para pemimpin dunia menguraikan sebuah rencana ambisius menuju “era baru pertumbuhan global”. Namun mereka melupakan satu unsur pokok: memperbaiki iklim investasi.

Kebijaksanaan konvensional menyakini bahwa melalui pasar keuangan yang efisien, tabungan rumah tangga akan mengalir ke perusahaan-perusahaan yang paling andal mengolah dana untuk kegunaan paling produktif. Namun di banyak negara berkembang, kemudahan akses pada pembiayaan – berkat aliran modal lintas batas yang bebas serta deregulasi pasar keuangan – masih belum menghasilkan tambahan pembiayaan untuk investasi jangka panjang, terutama di sektor manufaktur.

 1972 Hoover Dam

Trump and the End of the West?

As the US president-elect fills his administration, the direction of American policy is coming into focus. Project Syndicate contributors interpret what’s on the horizon.

Keputusan investasi tergantung pada berbagai faktor dan kejadian di masa depan, maka gabungan pendanaan publik dan privat sangat penting agar proyek-proyek baru membuahkan hasil. Di Asia Timur, kawasan yang mengalami pertumbuhan dan pembangunan pesat dalam beberapa tahun terakhir, para pembuat kebijakan tidak hanya mengizinkan, tapi justru mendorong profit korporasi lebih tinggi, asalkan disalurkan pada investasi produktif. Hasilnya, empat per lima pengeluaran investasi yang dikucurkan perusahaan-perusahaan besar di Asia Timur didanai dari laba ditahan (retained earnings), sementara lembaga-lembaga keuangan milik negara membantu menjaga laju pertumbuhan yang dimotori investasi (investment-led growth).

Ketidakseimbangan antara profit dan investasi merupakan alasan utama pertumbuhan di negara-negara maju dan berkembang seperti kehilangan gairah; apabila tidak diatasi, ini akan berakibat pada krisis legitimasi lebih buruk pada tata kelola perusahaan (corporate governance) dan manajemen ekonomi.

Di negara-negara maju, profitabilitas perusahaan terus meningkat, sebagian dikarenakan strategi “shareholder-primacy” yang berfokus pada pengambilan keputusan jangka pendek, pemotongan biaya, dan bentuk-bentuk rekayasa keuangan lainnya yang didorong oleh investor institusional. Dengan demikian, strategi konvensional seperti “retain-and-invest” digantikan dengan strategi “downsize-and-distribute”, yaitu profit digunakan untuk menaikkan dividen, melakukan stock buyback, serta merger dan akuisisi.

Di negara-negara berkembang, arus keuangan global jelas berkontribusi pada guncangan makroekonomi yang menyulut ketidakpastian perekonomian, sehingga membatasi perencanaan jangka waktu investasi (investment horizon) yang dibuat perusahaan. Baru-baru ini, kita juga menyaksikan perusahaan di negara-negara berkembang mengejar strategi corporate governance yang sama dengan perusahaan di negara-negara maju. Berdasarkan analisis terhadap neraca perusahaan non-keuangan, rasio investment-to-profitberkurang dari tahun 1995 hingga 2014, dimana Brasil, Malaysia, Korea Selatan, dan Turki mengalami penurunan terbesar.

Perusahaan-perusahaan publik besar lebih jarang ditemui di negara berkembang dibandingkan di negara maju; tetapi bagi perusahaan-perusahaan yang secara rutin membagikan dividen di negara berkembang, dividen payout kepada pemegang saham meningkat, bahkan ketika profitabilitas sama. Perusahaan-perusahaan tersebut juga mengumpulkan aset-aset finansial – kadang lebih cepat dari pengumpulan obligasi (corporate debt) – berarti mereka kekurangan peluang investasi jangka panjang yang mungkin mendatangkan keuntungan dan opsi-opsi investasi portofolio dalam pasar-pasar keuangan yang sudah liberalisasi.

Terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa hubungan antara profit dan investasi di negara-negara berkembang telah dipatahkan. Akan tetapi, meski profitabilitas perusahaan meningkat di banyak tempat, tren investasi dimana saja (kecuali Cina dan India) senantiasa lemah, bahkan sebelum krisis keuangan global terjadi di tahun 2008.

Sementara itu, financialization terus menganggu kestabilan makroekonomi di seluruh dunia. contohnya, program pelonggaran kuantitatif (quantitative easing) yang diberlakukan oleh negara-negara maju menyebabkan kelebihan likuiditas – sehingga memunculkan lonjakan obligasi di negara-negara berkembang. Di beberapa tempat, obligasi berdenominasi dolar oleh perusahaan non-keuangan rata-rata naik 40% dari tahun 2010 hingga 2014; dari tahun 2007 hingga 2015, rasio debt-to-service juga naik 40%. Angka-angka tersebut menunjukkan krisis perbankan sistemis akan segera menimpa.

Selain itu, investasi dimotori obligasi terpusat di sektor-sektor berbasis sumber daya alam yang sangat cyclical yang tidak berkontribusi pada pertumbuhan inklusif dan berkelanjutan. Bahkan, hanya tujuh sektor – migas, listrik, konstruksi, komoditas industrial, properti, telekomunikasi, dan pertambangan – menyumbangkan lebih dari dua pertiga total kenaikan pada utang dan investasi. Hal ini menunjukkan bahwa kemudahan akses pada pinjaman bunga rendah dan pembiayaan dengan utang tidaklah memihak sektor-sektor high-tech yang paling berkontribusi pada pertumbuhan produktivitas.

Guna membalikkan tren ini, pertama kita harus mengalihkan tren di negara-negara berkembang menuju strategi korporasi yang sangat ‘financialized’. Hal ini memerlukan perubahan-perubahan corporate governance secara umum, serta struktur insentif di perusahaan non-keuangan, termasuk preferential tax treatment terhadap laba ditahan dan equity financing, dan cadangan penyusutan khusus untuk laba yang diinvestasikan kembali.

Selain corporate governance, kita harus memulihkan keseimbangan hubungan antara profit dan investasi, melalui inisiatif-inisiatif kelembagaan dan kebijakan publik, serta kebijakan industrial yang proaktif. Hal ini membutuhkan reformasi dan penguatan sistem perbankan demi memastikan kapasitas pinjaman yang cukup untuk investasi jangka panjang, termasuk bagi usaha kecil dan menengah.

Fake news or real views Learn More

Adapun tentang kondisi makroekonomi, pemerintah dapat memperbaikinya melalui investasi publik, terutama di bidang infrastruktur, sehingga menaikkan produktivitas dan menambah profitabilitas sektor swasta. Terakhir, komunitas internasional harus mengedepankan upaya memberantas penghindaran pajak dan capital flight, kedua praktik jahat yang mengikis basis pendapatan negara.

Investasi jangka panjang pada aktiva produktif sangat penting dalam menjamin pertumbuhan berkelanjutan yang diperlukan negara-negara berkembang. Tetapi mereka tidak akan meraihnya tanpa mempertahankan lingkungan yang mendorong strategi-strategi jangka pendek.