moyo19_Westend61_Getty images_digitization Westend61_Getty Images

Cara Perusahaan Memanfaatkan Digitalisasi

NEW YORK – Sudah bukan rahasia lagi­ bahwa digitalisasi yang pesat merusak operasional, sistem, dan model bisnis berbagai perusahaan. Kemampuan perusahaan-perusahaan mengelola risiko-risiko yang dihadapi sambil memanfaatkan keuntungan teknologi digital sangat tergantung pada tindakan-tindakan yang diambil perusahaan-perusahaan tersebut dalam lima bidang penting.           

Pertama, digitalisasi bisa membantu para pengelola mengalokasikan modal dan tenaga kerja perusahaan dengan lebih baik – secara langsung. Perusahaan-perusahaan yang efisien secara rutin meninjau dan memperbaiki operasinya paling tidak dalam tiga hal: pelancaran proses yang ada, mengambil praktik-praktik terbaik dari luar perusahaan, dan mencari cara menggunakan aset-asetnya dengan lebih efisien. Teknologi digital bisa meningkatkan semua hal tersebut.     

Perusahaan bioskop, misalnya, sudah melakukan penugasan sumber daya manusia berdasar tren permintaan secara real-time: di Amerika Serikat (AS), informasi mengenai penjualan tiket dan penilaian media sosial terhadap film-film yang baru saja tayang di Pantai Timur AS akan menentukan keputusan penugasan pegawai di Pantai Barat. Pendekatan yang serupa juga bisa diterapkan (atau ditingkatkan) dalam sektor-sektor lain untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas. Keuntungan akan meningkat secara progresif, seiring perusahaan-perusahaan tersebut menyesuaikan cara rekrutmennya terhadap calon-calon pekerja dengan keahlian yang relevan.

Tapi, walaupun kumpulan data yang meningkat secara pesat bisa membantu para pengelola, hal ini juga bisa memperumit keadaan. Untungnya, digitalisasi bisa membantu para pengelola mengatur dan menyusun data untuk meningkatkan kualitas pengambilan keputusan. Ini adalah bidang penting yang kedua.

Dalam cara yang tradisional, para pengelola bekerja dengan informasi yang jauh lebih sedikit. Bisnis cenderung beroperasi dalam satu atau sejumlah kecil daerah. Dan para pengambil keputusan di perusahaan tersebut akan mendengar perspektif dari sekelompok pemangku kepentingan, seperti pemegang saham (pada rapat umum pemegang saham tahunan atau dalam diskusi kelompok) dan pegawai (melalui survei internal).

Sekarang, perusahaan-perusahaan beroperasi di semakin banyak daerah, dan mendengar dari pemangku kepentingan yang lebih luas – termasuk konsumen dan anggota masyarakat – terutama melalui media sosial. Tekanan publik memaksa perusahaan-perusahaan mengungkap lebih banyak informasi mengenai sumber produknya, termasuk kondisi kerja, rata-rata upah, dan data lingkungan, seperti jumlah air yang dipakai dan karbon dioksida yang dihasilkan. Karena pegawai bisa memaparkan keluhannya pada platform-platform digital di luar kuasa perusahaan – seperti Glassdoor, Blind, dan TheLayoff.com – perusahaan sudah tidak bisa bersembunyi lagi.

Subscribe to Project Syndicate
Bundle2021_web4

Subscribe to Project Syndicate

Enjoy unlimited access to the ideas and opinions of the world's leading thinkers, including weekly long reads, book reviews, and interviews; The Year Ahead annual print magazine; the complete PS archive; and more – All for less than $9 a month.

Subscribe Now

Dalam lingkungan seperti itu, para pengelola perusahaan harus mampu menyusun dan menafsirkan data, mengidentifikasi tren ekonomi, geopolitik, dan sosial yang luas, serta menggunakan pengetahuan yang didapat untuk menyesuaikan strateginya dengan cepat. Oleh karena itu, para pengelola harus menumbuhkan hubungan yang produktif dengan semua pemangku kepentingan dan memanfaatkan teknologi-teknologi digital – dan data yang dihasilkan teknologi-teknologi tersebut – untuk meningkatkan efisiensi, menghilangkan pemborosan, dan menyederhanakan proses-proses yang memberatkan.

Cara ketiga yang bisa dilakukan perusahaan-perusahaan adalah melakukan digitalisasi untuk meningkatkan fleksibilitas organisasi untuk merespons ancaman dan peluang eksternal. Contohnya, tren yang menentukan de-globalisasi – termasuk kebijakan-kebijakan proteksionistis, pengawasan pergerakan modal antar negara, dan pengetatan peraturan imigrasi – bisa mempengaruhi tujuan dan cara penjualan produk-produk suatu perusahaan, cara perusahaan tersebut mendapatkan dana dan mengerahkan investasi modal, sumber daya manusia yang mana yang ingin dimanfaatkan, dan seberapa andal rantai pasokannya.

Peningkatan ketegangan antara Tiongkok dan Dunia Barat sudah meningkatkan kekhawatiran perpecahan dalam perdagangan, teknologi, dan rezim mata uang. Bahkan, kita bisa menyaksikan munculnya “splinternet (Internet sempalan)” yang ditandai dengan adanya dua lingkungan digital yang saling bersaing, yang dipimpin oleh AS dan Tiongkok dengan menggunakan protokol IP yang berbeda. Ini akan menjadi masalah yang besar bagi banyak perusahaan yang terbiasa beroperasi dalam sistem global tunggal dengan sistem pendanaan, pengadaan, dan perekrutan yang tersentralisasi.

Dalam perubahan sosial, ekonomi, dan budaya yang cepat, perusahaan-perusahaan harus membangun fleksibilitas di dalam model bisnis dan operasinya. Teknologi digital bisa memberi fleksibilitas itu dengan cara yang hemat biaya, mengurangi biaya transaksi, dan memitigasi risiko-risiko operasional sambil membantu perusahaan tersebut berdagang, mencari dan menanamkan modal, serta merekrut dalam sistem yang terpecah-pecah.

Digitalisasi juga bisa membantu perusahaan-perusahaan menyesuaikan tawarannya – dan harganya – kepada masing-masing konsumen. Ini adalah bidang penting keempat.

Perusahaan asuransi jiwa sudah menetapkan harga polis asuransinya berdasarkan faktor-faktor individual, seperti status kesehatan, gaya hidup, dan tabel-tabel aktuaria. Seiring semakin mudahnya pengumpulan dan analisa data berkualitas tinggi mengenai konsumen, semakin banyak perusahaan yang bisa melakukan pendekatan yang semakin personal mengenai harga.

Beberapa sektor sudah melakukan pendekatan individual. Dalam produk finansial seperti pinjaman kepemilikan rumah dan pinjaman kepemilikan kendaraan bermotor. Saat ini, sekelompok orang dengan sederet atribut yang mirip akan dikenakan suku bunga yang sama. Dengan digitalisasi yang semakin besar, masing-masing konsumen bisa dikenakan suku bunga yang lebih sesuai dengan profil risikonya, berdasarkan data-data seperti aset hingga angka harapan hidup.

Jika perusahaan-perusahaan merancang dan menjalankan strategi digitalisasi yang efektif dalam empat bidang ini, perusahaan-perusahaan tersebut akan meningkatkan pendapatan (dengan menjual barang dan jasa secara lebih cepat) dan menurunkan biaya (dengan melancarkan proses rekrutmen, manufaktur, produksi, dan logistik). Memikirkan ulang cara mendistribusikan peningkatan laba dari digitalisasi ini adalah bidang penting kelima.

Perusahaan-perusahaan biasanya memilah laba menjadi pembayaran utang, investasi, dan pembayaran ke pemegang saham melalui dividen dan pembelian kembali saham, atau menyimpan laba itu untuk memenuhi tujuan strategis jangka panjang. Tapi, seiring dengan beralihnya kapitalisme pemegang saham menjadi kapitalisme pemangku kepentingan, lebih banyak kelompok kepentingan – seperti pegawai dan masyarakat sekitar – akan mengharapkan manfaat dari perusahaan. Peran perusahaan yang semakin besar dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur – serta peningkatan angka pengangguran struktural yang akan terjadi karena otomatisasi dan digitalisasi – akan meningkatkan harapan ini.                      

Pandemi COVID-19 menunjukkan rentannya banyak model usaha serta meningkatkan perlombaan dalam penggunaan teknologi canggih. Tapi proses adopsi teknologi ini hanyalah langkah yang pertama saja. Bagaimana teknologi ini diaplikasikan dalam lima bidang penting yang dijelaskan di sini akan menentukan siapa yang akan menang, dan kapan.

https://prosyn.org/njm3D7uid