1

Kembali ke Dasar Penanganan Penyakit

LONDON – Upaya mengatasi resistansi antimikroba memerlukan terobosan solusi teknologi. Untuk mencegah bakteri super menelan korban dengan jumlah yang diperkirakan sebesar sepuluh juta jiwa dalam setahun pada tahun 2050, maka perlu ditemukan jenis obat antimikroba baru serta perlu dikembangkan tes diagnostik cepat guna menghindari pengobatan yang tidak diperlukan dan mengurangi kelebihan penggunaan antibiotik dalam jumlah besar.

Meskipun kontribusi teknologi tingkat tinggi ini sangat penting, sesungguhnya ini belum mencukupi untuk mengatasi permasalahan yang ada. Untuk mengatasi masalah secara permanen, satu-satunya pilihan yang ada adalah mencegah terjadinya infeksi – melalui peningkatan kebersihan, sanitasi dan surveilans penyakit. Hanya dengan memfokuskan pada bidang-bidang ini maka permintaan atas obat baru akan berkurang dalam jangka panjang.

Erdogan

Whither Turkey?

Sinan Ülgen engages the views of Carl Bildt, Dani Rodrik, Marietje Schaake, and others on the future of one of the world’s most strategically important countries in the aftermath of July’s failed coup.

Sesungguhnya, di abat ke Sembilan belas, jauh sebelum obat modern tersedia, kota besar di Barat menangani penyakit dengan mencegah terjadinya infeksi. Pendekatan ini tetap menjadi solusi terbaik bagi kota besar yang populasinya semakin bertambah.

Pertimbangkan London pada tahun 1950-an: Kondisi hidup orang miskin sangat suram. Harapan hidup laki-laki adalah sekitar 40 tahun. Penyakit seperti kolera dan tuberkulosis sangat marak, serta belum ditemukan cara untuk mengatasinya. Pada September 1954, wabah kolera melanda masyarakat miskin kota, distrik Soho pusat, menelan korban jiwa 500 orang hanya dalam waktu sepuluh hari.

Kemudian, seorang dokter perintis yang bernama John Snow menduga bahwa kolera tidak disebarkan melalui udara, sebagaimana dipercaya selama ini, melainkan melalui air. Snow memantau perkembangan wabah Soho dengan sangat rinci yaitu dengan memetakan setiap kasus, belum ada yang sebelumnya melakukan dengan begitu terinci. Penelitian Snow meyakinkan dirinya bahwa sumber wabah adalah pompa air umum yang berada di pusat distrik. Ketika pegangan pompa diganti, laju wabah segera melambat secara drastis.

Beberapa metode Snow dapat langsung diterapkan dalam masalah saat ini yang terkait dengan resistansi antimikroba. Sebagai permulaan, upaya Snow menunjukan keampuhan penggunaan data untuk memahami krisis kesehatan masyarakat. Pemetaan dan analisis statistik telah membantu pengidentifikasian pusat wabah sehingga menunjukan akar masalanya. Penekanan Snow terhadap penggunaan data sebagai panduan dalam pembuatan intervensinya merupakan sebuah prinsip yang harus dipegang teguh oleh lembaga seperti Bill & Melinda Gates Foundation pada masa sekarang.

Wabah ebola terakhir di Afrika Barat dengan tragis menunjukan pentingnya keberadaan data yang baik. Epidemi menyebar paling dramatis di daerah di mana infrastruktur dan sistem surveilans dasar tidak bekerja. Akibatnya, bahkan ketika Ebola telah dinyatakan menimbulkan keadaan darurat terhadap kesehatan masyarakat dan pendanaan telah disediakan, selama beberapa minggu sumber daya yang tersedia masih sulit untuk disalurkan ke tempat yang paling membutuhkan.

Yang mengkhawatirkan, menurut dokumen terbaru dari Ulasan saya mengenai Resistansi Antimikroba telah memperingatkan bahwa saat ini belum ada sistem surveilans yang terkoordinasi untuk memantau timbulnya dan penyebaran bakteri super di seluruh dunia. Kesenjangan dasar tetap terdapat pada bagaimana data dikumpulkan dan dibagikan, bahkan di antara negara-negara terkaya di dunia.  Hal ini menyebabkan timbulnya serangkaian tempat yang tidak terpantau yang mengakibatkan kita kehilangan informasi yang krusial dan sistem peringatan dini yang sesungguhnya diperlukan dalam upaya menyediakan tanggapan yang efektif.

Kontribusi besar lain dari Snow adalah masukan untuk mengidentifikasi peran penting yang dipegang air dalam penyebaran penyakit seperti kolera, otoritas terkemuka di Eropa perlu berinvestasi dalam pengembangan sistem saluran pembuangan dan sanitasi. Beberapa abad sebelum ditemukannya obat seperti penisilin, tidak ada pilihan selain untuk berinvestasi pada pencegahan yang dimaksudkan untuk mengatasi penyakit menular dan melindungi populasi kota yang semakin bertambah.

Pembangunan infrastruktur ini sangat berhasil: Wabah kolera perkotaan terakhir terjadi di Eropa Barat pada tahun 1892, dan ketika pecah Perang Dunia I, penyakit menular tidak lagi menjadi penyebab utama kematian di banyak benua. Meskipun demikian, bersamaan dengan semakin meningkatnya ketersediaan obat antimikroba, fokus penanganan telah bergeser dari upaya pencegahan. Hal ini tidak hanya menimbulkan dampak yang buruk bagi masyarakat kota karena terpaksa hidup dalam kondisi yang tidak bersih; hal ini juga berkontribusi pada meningkatnya resistansi terhadap obat.

Saat ini, tidak mencukupinya akses terhadap air bersih dan sanitasi menjadi salah satu penyebab utama penyakit diare – penyebab utama kematian dan penyebab ratusan juta orang menggunakan obat antibiotik setiap tahunnya. Namun, sebagian besar penggunaan ini tidak diperlukan karena penyebab diare umumnya adalah virus; menggunakan antibiotik dalam kasus ini hanya berkontribusi pada berkembangnya bakteri resistan.

Perkiraan yang diberikan kepada tim saya menunjukan bahwa di India, Nigeria, Brasil dan Indonesia saja, terdapat sekitar setengah milyar kasus diare yang diobati setiap tahunnya dengan antibiotik. Apabila keempat negara ini menyediakan akses universal terhadap air bersih dan sanitasi, penggunaan antibiotik dapat dikurangi setidaknya hingga 60%.

Support Project Syndicate’s mission

Project Syndicate needs your help to provide readers everywhere equal access to the ideas and debates shaping their lives.

Learn more

Infrastruktur seperti ini membutuhkan biaya yang besar, dan seluruh negara harus membuat prioritas dalam mengalokasikan anggaran negaranya. Tetapi, investasi kepada infrastruktur merupakan investasi yang paling baik yang dapat dibuat oleh negara berpenghasilan menengah. Ketika negara mengendalikan pemasukan, meningkatkan akses masyarakat terhadap sanitasi hingga 50% berkorelasi dengan lebih dari sembilan tahun harapan hidup tambahan.

John Snow dengan senang hati akan mendukung pilihan investasi tersebut. Salah satu kontribusinya yang paling signifikan terhadap bidang layanan kesehatan – penggunaan data dengan bijak – telah mengkonfirmasi pentingnya investasi tambahan untuk meningkatkan kebersihan dan sanitasi. Terkadang, mereka yang mempelajari sejarah mendapatkan kesempatan untuk menerapkan hal yang telah dipelajari.