hamada40_narvikkGetty Images_worldcurrency narvikk/Getty Images

Memperhatikan Langkah Bank Sentral AS

NEW HAVEN – Ketika pandemi COVID-19 mendorong perekonomian global ke dalam resesi, godaan untuk menerapkan pelonggaran moneter semakin meningkat. Bank Sentral AS sudah menurunkan suku bunga hingga hampir nol dan berkomitmen untuk menyuntik triliunan dolar ke dalam perekonomian. Bank Sentral Eropa juga sudah meningkatkan pembelian obligasi, meskipun pengadilan konstitusi Jerman melakukan perlawanan dalam hal ini. Seperti pelonggaran yang terjadi setelah krisis keuangan pada tahun 2008, kebijakan ini juga akan dirasakan dampaknya di seluruh dunia melalui fluktuasi nilai tukar.

Guncangan besar terhadap perekonomian, misalnya karena bencana alam atau wabah penyakit, cenderung untuk meningkatkan nilai mata uang negara yang terkena dampaknya. Ketika gempa bumi Kobe terjadi di Jepang pada tahun 1995, nilai yen menguat terhadap dolar AS, meskipun dampak ini tidak langsung terjadi. Gempa Bumi Besar Daerah Timur Laut Jepang pada tahun 2011 punya dampak yang lebih kuat, mendorong penguatan yen yang terbesar sepanjang sejarah dengan nilai ¥76 per dolar AS.

Apa alasan dari peningkatan nilai mata uang setelah bencana? Nilai tukar mata uang mencerminkan permintaan relatif atas suatu mata uang di pasar dunia. Dan sebagian permintaan dipengaruhi oleh pasokan: jika terdapat lebih banyak aset dolar dibandingkan yen di pasar dunia, maka yen yang lebih langka akan naik nilainya. Meningkatnya permintaan yen akan semakin memperkuat pengaruh ini.

We hope you're enjoying Project Syndicate.

To continue reading, subscribe now.

Subscribe

or

Register for FREE to access two premium articles per month.

Register

https://prosyn.org/8kogmf3id